Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Abrasi di wilayah pesisir Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, terus meluas dan mulai mengancam infrastruktur serta permukiman warga.
Camat Pondok Kelapa Ridu Lima menyebut gerusan ombak kini tidak hanya mengikis garis pantai, tetapi juga telah mencapai badan jalan hingga bagian belakang rumah warga, sehingga diperlukan penanganan segera untuk mencegah dampak yang lebih besar.
Sejumlah titik di pesisir dilaporkan mengalami pengikisan pantai hingga mendekati rumah penduduk.
Dampak abrasi paling parah saat ini terjadi di Desa Pondok Kelapa dan kawasan Pekik Nyaring.
Menurutnya, hingga kini pemerintah kecamatan belum memiliki data pasti mengenai jumlah kepala keluarga (KK) yang terdampak. Namun, kerusakan akibat abrasi sudah terlihat di sejumlah lokasi.
"Kalau jumlah KK yang terdampak saya belum tahu pastinya. Tetapi di Desa Pondok Kelapa itu abrasi sudah menggerus jalan dan bagian belakang rumah penduduk," kata Ridu Lima kepada TribunBengkulu.com, Sabtu (27/6/2026).
Baca juga: 300 Rumah Tak Layak Huni di Bengkulu Tengah Segera Dibedah, Target Pengerjaan Agustus 2026
Selain Desa Pondok Kelapa, abrasi juga terjadi di kawasan Pekik Nyaring, termasuk di sekitar lokasi penangkaran penyu.
Usulan penanganan abrasi telah beberapa kali disampaikan ke berbagai tingkatan pemerintahan, mulai dari Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah, Pemerintah Provinsi Bengkulu hingga DPR RI.
Pihaknya berharap pembangunan infrastruktur pengaman pantai dapat segera direalisasikan agar kerusakan tidak semakin meluas.
"Kalau kami berharap supaya secepatnya dibangun pencegahan abrasi, karena kasihan dengan penduduk. Semakin lama akan semakin meluas, sehingga perlu segera ditangani," katanya.
Berharap rencana penanganan abrasi yang sebelumnya disampaikan anggota DPR RI Erna Sari Dewi dapat segera terealisasi.
"Semoga saja terealisasi, alhamdulillah kalau sesuai dengan yang disampaikan Bu Erna kemarin," tutupnya.
Sementara itu, salah seorang warga Sungai Lemau, Nosi, mengatakan abrasi telah mengubah kondisi pesisir yang selama ini menjadi tempat tinggal masyarakat.
Warga kini dihantui rasa khawatir setiap kali gelombang tinggi dan cuaca buruk melanda.
"Kondisi ini sudah sangat darurat. Setiap hari kami melihat tanah kami hilang sedikit demi sedikit. Beberapa rumah sudah hancur, dan yang lain tinggal menunggu waktu," ujar Nosi.
Pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan laju abrasi sebelum semakin banyak rumah dan lahan warga yang hilang.
Warga juga menginginkan adanya kepastian terkait rencana pembangunan pemecah ombak atau bentuk perlindungan pantai lainnya agar masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir dapat merasa lebih aman.