SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Minat peternak terhadap sapi Belgian Blue terus meningkat di Jawa Timur.
Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Kabupaten Malang, mencatat semen beku Belgian Blue menjadi produk yang paling banyak diburu dibandingkan jenis sapi unggul lainnya.
Kepala BBIB Singosari, Akbar, mengatakan tingginya permintaan dipicu oleh nilai ekonomi pedet Belgian Blue yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis sapi lain.
Anak sapi berusia sekitar satu bulan bahkan telah memiliki harga jual mencapai Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.
"Di Jawa Timur, semen beku yang paling banyak diminati adalah Belgian Blue."
"Karena saat pedet lahir dan berumur sekitar satu bulan, harganya sudah mencapai Rp 15-20 juta. Itu yang membuat kebutuhannya sangat tinggi," ujar Akbar saat ditemui SURYAMALANG.COM di BBIB Singosari, Minggu (28/6/2026).
Menurutnya, ketertarikan masyarakat pada Belgian Blue karena memiliki karakteristik double muscle atau otot ganda yang membuat postur tubuhnya lebih besar. Padahal, dari sisi kualitas daging, Wagyu sebenarnya memiliki cita rasa yang lebih unggul.
"Kalau Wagyu memang kualitas dagingnya paling enak. Tetapi masyarakat lebih melihat keunikan Belgian Blue karena memiliki otot ganda," katanya.
Baca juga: Berkunjung ke BBIB Singosari Malang, Gubernur Khofifah Optimistis Indonesia Bisa Swasembada Daging
Saat ini BBIB Singosari memiliki lima pejantan Belgian Blue. Dari jumlah tersebut, balai mampu memproduksi sekitar 1.000 hingga 2.000 dosis semen beku setiap bulan, bergantung pada kondisi kesehatan ternak.
Akbar menjelaskan, tidak semua sperma hasil koleksi dapat diproses menjadi semen beku. Hanya sperma yang memenuhi standar kualitas yang akan digunakan.
"Kami hanya mengambil sperma dengan kualitas terbaik. Kalau morfologinya kurang bagus, pasti kami tolak," ujarnya.
Permintaan semen beku datang dari berbagai pihak, mulai dinas peternakan, petugas inseminator lapangan, koperasi hingga dokter hewan praktik. Karena stok Belgian Blue terbatas, BBIB Singosari menerapkan kebijakan khusus bagi pembeli.
"Kami memberikan syarat, kalau ingin membeli Belgian Blue, harus didampingi pembelian Simmental, Limousin atau Wagyu. Supaya masyarakat tidak hanya berfokus pada Belgian Blue," jelasnya.
Harga semen beku Belgian Blue di BBIB Singosari dipatok Rp 15 ribu per dosis. Sementara semen beku Simmental dan Limousin dijual Rp 10 ribu per dosis, sedangkan Wagyu Rp 7 ribu per dosis.
Akbar mengatakan seluruh semen beku yang dipasarkan telah memenuhi standar nasional, yakni mengandung sedikitnya 25 juta sel sperma per straw untuk sapi.
Dengan kualitas tersebut, tingkat keberhasilan inseminasi buatan di Jawa Timur mencapai rata-rata 1,5 hingga 1,8 kali inseminasi hingga ternak bunting.
"Keberhasilan inseminasi bukan hanya ditentukan semen beku, tetapi juga kesiapan induk dan manajemen pakan ternak. Karena itu kami terus melakukan edukasi kepada peternak," katanya.
Selain memenuhi kebutuhan nasional, BBIB Singosari juga rutin mengekspor semen beku ke sejumlah negara di Asia dan Afrika.
Setiap tahun, ekspor mencapai sekitar 1.000 hingga 2.000 dosis ke berbagai negara seperti Nigeria, Zambia, Ethiopia, Madagaskar, Malaysia, hingga Timor Leste.
"Kami ditunjuk pemerintah pusat sebagai focal point kerja sama Indonesia dengan negara-negara Selatan, terutama Asia dan Afrika," ujarnya.
Tidak hanya sapi, BBIB Singosari juga tengah mengembangkan semen beku kambing dan domba unggul saat ini. Untuk kambing tersedia bibit Peranakan Etawa (PE), Senduro, Saanen, hingga Boer, sedangkan untuk domba telah dikembangkan jenis Dorper.
Produksi semen beku kambing dan domba berkisar 100 hingga 500 dosis setiap kali penampungan dengan harga di bawah Rp 10 ribu per dosis.
"Kalau dibandingkan harga sebatang rokok, sebenarnya semen beku jauh lebih murah. Yang penting peternak memahami cara penggunaannya agar tingkat keberhasilannya tinggi," ujar Akbar sambil tertawa.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa optimistis Indonesia mampu mewujudkan swasembada daging dalam waktu tiga tahun ke depan.
Hal itu dikatakan Khofifah saat berkunjung ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari di Kabupaten Malang, Minggu (28/6/2026).
Namun Khofifah membawa syarat dalam pernyataannya. Swasembada daging itu bisa dipenuhi apabila seluruh daerah memaksimalkan pemanfaatan teknologi inseminasi buatan serta meningkatkan pendampingan kepada peternak.
Menurutnya, BBIB Singosari dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperbanyak hewan ternaknya, terutama sapi.
Lembaga yang berada di bawah Kementerian Pertanian itu merupakan pusat pengembangan genetika ternak dengan peran strategis. BBIB Singosari tidak hanya melayani kebutuhan bagi Jawa Timur tetapi juga Indonesia bahkan negara-negara Asia dan Afrika.
"Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari ini menjadi focal point pengembangan sapi untuk Asia dan Afrika. Saya berharap kekuatan yang dimiliki BBIB Singosari bisa dimanfaatkan seluruh daerah di Indonesia," ujar Khofifah.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan daging sapi secara mandiri. Menurutnya, banyak daerah telah memiliki basis budidaya peternakan yang baik sehingga tinggal diperkuat melalui peningkatan layanan inseminasi buatan serta pengawasan kebuntingan ternak.
"Pada dasarnya Indonesia punya potensi swasembada daging. Kalau petugas inseminasi buatan dan pengawas kebuntingan bisa dimaksimalkan, hitungan saya tiga tahun kita bisa swasembada daging," katanya.
Khofifah mengatakan, upaya meningkatkan produksi daging nasional juga penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor, terutama di tengah dinamika nilai tukar mata uang dan ekonomi global.
Khofifah mengapresiasi keberhasilan BBIB Singosari dalam mengembangkan semen beku sapi unggul Belgian Blue.
Baca juga: Info Jalur Pemenuhan Kuota SPMB Dibuka Mulai 29 Juni, Peserta Diminta Manfaatkan Kesempatan Terakhir