TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Menikmati panorama awan dari puncak gunung kini punya cara baru yang tak biasa.
Di puncak Gunung Kembang, Kabupaten Wonosobo, para pendaki rela mengantre panjang bukan demi berfoto di tugu penanda, melainkan untuk menikmati sebatang es krim segar di ketinggian 2.340 Mdpl yang videonya mendadak viral di media sosial.
Video itu memperlihatkan antrean pendaki membeli es krim di puncak Gunung Kembang, Kabupaten Wonosobo.
Baca juga: Sosok Tiya Penjual Es Krim di Puncak Gunung Kembang Wonosobo, Terinspirasi Gunung Andong
Pemandangan yang tidak biasa itu langsung menarik perhatian warganet karena memperlihatkan penjual es krim yang melayani pembeli di ketinggian 2.340 Mdpl ini.
Sosok di balik video viral tersebut adalah Surtiyaningsih atau yang akrab disapa Tiya, perempuan berusia 23 tahun asal Garung, Wonosobo.
Ia memilih membawa es krim ke puncak Gunung Kembang setiap akhir pekan untuk dijual kepada para pendaki.
Keberadaan Tiya di puncak gunung bukan tanpa alasan. Ide berjualan tersebut muncul setelah melihat konsep serupa di gunung lain.
"Idenya dari saudara saya, mereka porter. Mereka punya inspirasi dari Gunung Andong ada yang jualan, jadi saya coba jualan juga di puncak Gunung Kembang," ungkapnya kepada tribunjateng.com, Minggu (28/6/2026).
Tiya mulai membuka lapak sederhana di puncak Gunung Kembang sejak 31 Mei 2026.
Awalnya, ia hanya berjualan setiap hari Minggu.
Namun, melihat tingginya minat pendaki, mulai Juli 2026 aktivitas jualannya menjadi setiap Sabtu dan Minggu.
Menurutnya, akhir pekan menjadi waktu paling ramai karena jumlah pendaki meningkat dibanding hari biasa.
Ia menceritakan, persiapannya berjualan sejak pukul 04.00 WIB sebelum melakukan perjalanan menuju titik awal pendakian.
Setelah seluruh perlengkapan siap, perjalanan dimulai menggunakan sepeda motor hingga Pos 1.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju puncak.
"Waktu tracking kurang lebih satu setengah jam," ujarnya.
Meski harus dibawa hingga ke puncak gunung, harga es krim yang dijual tetap terjangkau, yakni Rp10.000 per buah.
Menurut Tiya, harga tersebut sengaja dipertahankan agar para pendaki bisa menikmati es krim sambil menikmati panorama Gunung Kembang.
Es krim yang dijual bukan hasil produksi sendiri. Ia membeli stok dari agen sebelum dibawa ke lokasi pendakian.
Saat ramai, jumlah penjualan dapat mencapai sekitar 190 es krim. Bahkan, stok yang dibawa hampir selalu habis sebelum ia turun gunung.
Biasanya, Tiya baru meninggalkan puncak sekitar pukul 10.00 hingga 10.30 WIB setelah memastikan seluruh dagangannya habis terjual.
Salah satu tantangan terbesar adalah membawa kotak penyimpanan es krim menuju puncak.
Beban yang cukup berat membuat Tia terkadang membutuhkan bantuan porter.
Beruntung, dua rekannya yang merupakan porter Gunung Kembang ikut membantu sehingga proses membawa barang menjadi lebih ringan.
"Kesusahannya bawa es krimnya saja paling si. Soalnya kan bawa boks yang cukup besar ya jadi digendong gitu," ucapnya.
Meski demikian, ia mengaku aktivitas tersebut tetap menyenangkan karena mendapat banyak respons positif dari para pendaki.
Tiya mengatakan untuk saat ini dirinya hanya fokus menjual es krim. Ia belum berencana menambah jenis dagangan lain.
Alasannya bukan semata soal kepraktisan, tetapi juga untuk mengurangi potensi sampah di kawasan pendakian.
Menurutnya, ia hanya membawa es krim beserta cone sehingga tidak menghasilkan banyak sampah tambahan.
Hal itu juga sejalan dengan upaya menjaga kebersihan Gunung Kembang yang dikenal sebagai salah satu gunung dengan pengelolaan kebersihan yang baik.
Es krim yang dijual Tiya ternyata diminati pendaki dari berbagai daerah di Indonesia.
Tidak sedikit yang rela mengantre untuk membeli es krim setelah berhasil mencapai puncak.
Momen tersebut kemudian direkam dan diunggah ke media sosial. Di luar dugaan, video itu justru viral dan telah ditonton puluhan ribu kali.
"Ngga nyangka sih, cuma iseng saja padahal," ujarnya.
Tiya mengaku dirinya bukan seorang konten kreator. Ia hanya suka mengunggah konten seputar aktivitas mendaki gunung di TikTok @ssyhh19.
Namun videonya saat berjualan es krim di puncak gunung menjadi unggahan dengan jumlah penonton terbanyak yang mencapai sekitar 95 ribu tayangan.
Di luar aktivitas berjualan, Tiya memang memiliki hobi mendaki gunung sejak duduk di bangku SMA. Beberapa gunung yang pernah ia daki antara lain Gunung Kembang, Gunung Kendil, Gunung Bismo, hingga Gunung Merbabu.
Selain mendaki, perempuan asal Garung itu juga memiliki hobi berenang dan yoga.
Baca juga: Viral Sosok Tiya Pedagang Es Krim Asal Wonosobo Jualan di Puncak Gunung Kembang
Saat ini, sementara ia libur berjualan karena jalur pendakian Gunung Kembang via Lengkong sedang ditutup sementara untuk proses pemeliharaan.
Meski videonya telah viral di media sosial, Tiya mengaku akan tetap menjalankan usahanya secara sederhana.
Selama masih ada pendaki yang datang setiap akhir pekan, ia berencana terus membawa es krim ke puncak Gunung Kembang untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi para pecinta alam. (ima)