SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Minggu pagi (28/6/2026), Pasar Oro-oro Dowo, Kota Malang, sudah ramai pengunjung.
Di dekat pintu masuk, orang-orang sudah pada antre beli sarapan. Masuk ke dalam, sejumlah pedagang sudah bersiap menjajakan dagangannya. Di antara mereka ada yang sedang menggoreng barang jualan.
Para pedagang sayur juga sudah menata sayur mayur di lapak masing-masing. Ketika matahari semakin tinggi, orang semakin banyak yang datang.
Sebagian besar pedagang di Pasar Oro-oro Dowo berjualan makanan, tapi ada satu yang cukup berbeda, sebuah warung kopi di dekat pintu masuk sebelah selatan.
Ada warung kopi bernama Kedai Kopi Mbok Bawel. Memang ada yang berjualan minuman, tapi Kedai Kopi Mbok Bawel, boleh dikatakan satu-satunya yang jualan kopi.
Murti, pekerja di kedai tersebut dengan cekatan segera merespon setiap pengunjung yang datang.
Ia menawarkan menu yang ingin dinikmati pengunjung. Ada 19 jenis kopi yang disediakan di sana. Kopi-kopi khas Indonesia.
“Ada 19 jenis kopi dari ujung Sumatera sampai Papua. Ada arabika dan robusta,” katanya kepada SURYAMALANG.COM membuka pembicaraan, Minggu (28/6/2026).
Baca juga: Wisata Ekstrem Batu Rafting di Kota Batu, Rasakan Sensasi Petualangan bak Lintasi Hutan Belantara
Berbeda dengan Pasar Klojen yang sudah terkenal dengan kedai kopinya, di pasar Oro-oro Dowo ini kedai kopi memang tidak mendominasi. Meski begitu, keberadaan Kedai Kopi Mbok Bawel ini bisa menjadi alternatif pilihan jika ingin menikmati cita rasa kopi yang beragam.
Setiap kopi yang disajikan ditaruh di gelas besi dengan paduan pisin. Sangat minim plastik. Pilihannya adalah kopi tubruk, sekalipun yang dipesan adalah kopi arabika.
Kopi arabika memiliki rasa yang cenderung kecut. Terkadang disajikan atau diseduh dengan cara penyajian penyaringan, bukan tubruk. Popularitas Pasar Oro-oro Dowo sebagai destinasi wisata kuliner membawa berkah bagi pelaku usaha di sekitarnya.
Kini, Kedai Kopi Mbok Bawel yang menawarkan 19 varian biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia hingga bibit kopi dari luar negeri bisa dikunjungi lebih dari 50 orang setiap hari. Jika akhir pekan, jumlahnya bisa lebih tinggi.
Murti, mengatakan pengunjung juga dapat menikmati proses penggilingan biji kopi secara langsung menggunakan mesin yang tersedia di lokasi. Tak hanya menyajikan kopi seduh, kedai tersebut juga menawarkan berbagai produk siap minum.
Espresso dalam kemasan dijual seharga Rp 13 ribu per botol yang cukup untuk dua kali konsumsi. Selain itu, tersedia pula kemasan setengah liter dengan harga Rp 125 ribu.
Aneka camilan ringan juga disediakan untuk melengkapi pengalaman menikmati kopi. Menurut Murti, keberadaan Kedai Kopi Mbok Bawel merupakan pengembangan dari Toko Kopi Panca yang telah berdiri lebih dari tiga dekade di kawasan Pasar Klojen.
Baca juga: Hotel Tugu Malang dan Blitar Hadirkan Sensasi Panen Kopi di Lereng Gunung Kelud
"Kalau kedai ini baru berjalan sekitar dua tahun. Sebelumnya yang ada hanya Toko Kopi Panca di depan, usahanya sudah lebih dari 30 tahun," katanya.
Ia mengungkapkan, keputusan membuka kedai berkonsep tempat nongkrong berawal dari meningkatnya kunjungan masyarakat ke Pasar Oro-oro Dowo setelah kawasan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.
"Awalnya hanya Toko Kopi Panca. Setelah pasar mulai viral di media sosial, kami kemudian membuka Kedai Kopi Mbok Bawel," ujarnya.
Lonjakan pengunjung paling terasa saat musim liburan maupun hari besar. Dalam sehari, jumlah pelanggan yang datang khusus untuk menikmati kopi dapat menembus lebih dari 50 orang.
Kehadiran Kedai Kopi Mbok Bawel di kawasan Pasar Oro-Oro Dowo menghadirkan alternatif baru bagi pengunjung yang ingin bersantai sambil menunggu pesanan kuliner. Konsep tersebut dinilai menjadi daya tarik tersendiri di pasar Oro-oro Dowo.
Salah seorang pengunjung, Lilis Rahmawati (32), mengaku baru pertama kali mampir ke Kedai Kopi Mbok Bawel saat berkunjung bersama keluarganya ke Pasar Oro-Oro Dowo.
"Saya baru datang ke sini. Dari pintu masuk tadi lihat ada warung kopi. Awalnya saya pesan klepon, tetapi karena masih antre, akhirnya menunggu sambil ngopi di sini," ujar Lilis.
Warga Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang itu mengatakan cita rasa kopi yang disajikan cukup beragam dan nyaman dinikmati di tengah suasana khas pasar tradisional yang dipenuhi aktivitas pedagang dan pembeli.
"Saya pikir rasa kopinya beragam, enak untuk dinikmati. Suasananya juga khas pasar, ramai oleh pembeli dan pedagang. Ada juga camilan kecil, meski tadi saya tidak membeli," katanya.
Menurut Lilis, keberadaan kedai kopi di dalam pasar menjadi solusi bagi pengunjung yang harus menunggu antrean makanan atau jajanan. Menunggu makanan selesai diolah dengan minum kopi bukan hal yang membosankan.
"Tempat ini cocok untuk menunggu pesanan makanan selesai. Memang di Pasar Oro-Oro Dowo sangat jarang ada kedai kopi seperti ini, berbeda dengan Pasar Klojen atau Pasar Tawangmangu," ujarnya.
Ia menilai konsep menghadirkan kedai kopi di pasar tradisional merupakan strategi yang menarik karena belum banyak pelaku usaha yang mengembangkannya.
"Menurut saya ini strategi yang menarik karena belum banyak yang jualan kopi seperti ini di pasar," katanya.
Lilis mengaku dirinya bersama sang suami memang kerap menghabiskan waktu libur dengan berburu kuliner di berbagai pasar tradisional di Kota Malang.
"Saya datang bersama keluarga, ada suami juga. Memang biasanya kalau libur kami ke pasar seperti ini untuk berburu makanan," tuturnya.
Ia menambahkan, perkembangan wisata kuliner di Kota Malang kini tidak lagi hanya terpusat di kawasan kafe atau pusat perbelanjaan modern. Pasar-pasar tradisional pun mulai menjadi destinasi wisata kuliner yang menawarkan beragam pilihan makanan dan minuman.
"Kota Malang sekarang banyak tujuan wisata kuliner. Masuk ke pasar tradisional pun sudah bisa menemukan banyak jenis kuliner," pungkasnya.
Baca juga: Puluhan Anak Muda Kota Malang Ikuti Pelatihan Barista Gratis, Langsung dapat Modal Alat Kopi Lengkap