Liga Muslim Dunia Kutuk Serangan Iran: Negara Arab Berang, Kuwait Cegat Rudal, Bahrain Desak Sidang PBB
TRIBUNNEWS.COM - Konflik yang dimulai oleh serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Februari 2026 silam, terjadi berlaraut-larut dan kini mulai memecah stabilitas kawasan Timur Tengah.
Respons balasan Iran yang menargetkan basis militer AS di kawasan tersebut dianggap sebagai serangan terhadap negara tetangganya yang memantik solidaritas di antara negara-negara Arab.
Situasi negara Arab Vs Iran pun kini terindikasi sudah terjadi.
Baca juga: Enam Jet Tempur F-35 dan F-16 Amerika Bombardir Gudang Rudal Iran, Donald Trump: Iran akan Lenyap!
Terbaru, Pemerintah Bahrain mengecam keras dugaan serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) yang kembali dilancarkan Iran ke wilayahnya pada Minggu (28/6).
Manama menilai serangan tersebut menunjukkan pola agresi yang berulang dan mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar sidang darurat.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Bahrain menyebut serangan terbaru bukan merupakan insiden yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tindakan yang disengaja untuk mengancam kedaulatan dan keamanan negara tersebut.
"Bahrain mengutuk agresi Iran yang kembali menargetkan wilayahnya dengan sejumlah rudal balistik dan drone. Ini merupakan eskalasi berbahaya yang menunjukkan adanya pola agresi sistematis terhadap kedaulatan Kerajaan Bahrain dan keselamatan warga serta penduduknya," demikian isi pernyataan tersebut.
Pemerintah Bahrain juga menilai Iran telah mengabaikan kecaman internasional sekaligus melanggar komitmen yang sebelumnya disepakati dalam Nota Kesepahaman Islamabad yang ditandatangani pada 17 Juni 2026, yang antara lain memuat penghentian operasi militer dan penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara di kawasan.
Selain itu, Bahrain menyebut tindakan Teheran bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 Tahun 2026 yang menyerukan penghentian eskalasi konflik di kawasan.
Atas dasar itu, Bahrain meminta Dewan Keamanan PBB segera mengadakan sidang darurat guna memastikan implementasi resolusi tersebut serta meminta pertanggungjawaban pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan.
Baca juga: IRGC Ultimatum AS: Serangan Berbalas Berlanjut, Iran Isyaratkan Tinggalkan Meja Perundingan
Di tengah meningkatnya ketegangan, Staf Umum Angkatan Darat Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat rudal dan drone yang memasuki wilayah udaranya.
Dalam pernyataan melalui platform X, militer Kuwait menyebut suara ledakan yang terdengar di sejumlah wilayah merupakan hasil intersepsi sistem pertahanan udara terhadap sasaran yang disebut sebagai serangan musuh.
Pemerintah Kuwait juga mengimbau masyarakat untuk mematuhi seluruh arahan keamanan yang dikeluarkan otoritas setempat.
Kecaman terhadap dugaan serangan Iran juga datang dari Yordania.
Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut serangan terhadap Bahrain dan Kuwait sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan kedua negara, sekaligus ancaman serius terhadap stabilitas kawasan dan hukum internasional.
Amman menyatakan dukungan penuh kepada Bahrain dan Kuwait dalam setiap langkah yang ditempuh untuk melindungi keamanan nasional serta keselamatan warga mereka.
Sementara itu, Liga Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) turut mengutuk keras serangan yang disebut menargetkan Bahrain menggunakan drone.
Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, Sheikh Mohammed bin Abdul Karim Al-Issa, menyebut serangan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai agama, hukum internasional, dan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Ia juga menyatakan solidaritas penuh kepada Bahrain dalam menjaga kedaulatan dan keamanan negaranya.
Pihak Iran juga belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuduhan terbaru tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah rapuhnya proses gencatan senjata dan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat, yang dalam beberapa hari terakhir kembali diwarnai aksi saling serang dan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, terutama di sekitar Selat Hormuz.
(oln/khbrn/*)