TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Karupuak Leak dan Langkitang Cucuik.
Dua jenis jajanan ini sangat sayang bila dilewatkan saat berlibur ke Pantai Padang.
Selain murah meriah, Karupuak Leak dan Langkitang Cucuik hanya bisa didapatkan dengan mudah di pinggir pantai.
Bukan sekadar jajanan kaki lima, Karupuak Leak telah menjadi bagian dari cerita kuliner yang hidup di sepanjang pesisir Purus, atau Pantai Padang.
Baca juga: Sate Padang di Tepi Laut, Ritual Senja yang Menghidupkan Taplau
Dengan harga yang ramah di kantong dan cita rasa yang khas, camilan sederhana ini terus menjadi teman setia pengunjung menikmati semilir angin laut dan indahnya senja di Tapi Lauik "Taplau" Pantai Padang.
Begitu juga dengan Langkitang Cucuik, kuliner yang digulai ini memiliki rasa pedas namun kenyal saat berada di mulut.
Kedua kuliner ini begitu menonjol di Taplau, bahkan menjadi incaran wisatawan di bandingkan jajajan modern lainnya.
Mari kita ulas satu-satu
Kerupuk ini memiliki bentuk bulat dengan warna kuning pucat hingga terang.
Bahan bakunya terbuat dari ubi singkong.
Sebelum diberi toping mie tipis atau bihun goreng dan kuah sate, namanya masih kerupuk ubi.
Namun usai diberi toping tersebut, berganti menjadi kuliner dengan nama Karupuak Leak.
Kata "Leak" dalam arti bahasa Minang berarti berserakan, tumpah atau tidak presisi.
Sedangkan penyebutan pada kuliner ini lantaran kuah sate dituangkan tanpa beraturan lalu diberi toping bihun goreng di atas kerupuk ubi.
Campuran ini, menyajikan rasa gurih dan pedas. Cocok menikmati keindahan deburan ombak menjelang tenggelamnya senja.
Sejumlah pedagang menjualnya dengan harga ramah di kantong, tak perlu mahal, namun dapat menjangkau semua kalangan saat berwisata.
Pedagang, Febi menyebut harga Karupuak Leak mulai dari Rp5.000 untuk dua paket ukuran kecil sekira 12 hingga 14 sentimeter.
Sementara kerupuk dengan diameter 25 sentimeter atau seukuran piring makan, dijual Rp5.000 satu paket.
"Harganya Rp5.000 dua kerupuk dan untuk satu kerupuk, tergantung ukuran. Kalau kecil dapat dua, yang bedar hanya satu," katanya.
Menurut Febi, proses pembuatan kuliner ini dimulai menyiapkan kuah sate.
Bahan-bahannya mulai dari tepung terigu, cabai, bumbu masakan kambing, penyedap, kunyit, jahe, lengkuas dan lain sebagainya.
Setelah bumbu dihaluskan keseluruhan, adonannya dimasakan menggunakan kuali atau wajan masak.
Waktu yang dihabiskam mencapai satu jam, hingga adonan menjadi kental dan berwarna kuning setelah matang.
Kemudian, kerupuk ubi yang dibeli di pasar digoreng seperti pada umumnya hingga mengembang.
Untuk mie atau bihun, direbus menggunakan air mendidih. Setelah mengembang, barulah digoreng dengan campuran bumbu.
Proses akhirnya, memberi kuah sate di atas kerupuk ubi dengan cara diratakan dengan sendok makan.
Barulah diberi toping bihun goreng di atasnya dengan ditambah sedikit kuat sate.
"Biasanya maska di rumah, setelah bahan siap baru dibawa ke tempat dagangan di Pantai Padang," ujarnya.
Kuliner ini berbahan baku siput air tawar, warna cangkangnya hitam legam dengan tekstur keras berbentuk kerucut panjang (spiral).
Akan tetapi, di balik kerasnya cangkang, terdapat daging yang kenyal di dalamnya.
Menurut pedagang bernama Ayu, siput ini biasa ia beli di pasar dengan harga Rp10.000 per liter.
Dalam sehari ia bisa menjual 10 liter Langkitang Cucuik kepada wisatawan yang berkunjung ke Pantai Padang.
"Harganya Rp10.000 satu liter, rata-rata untuk dijual saya membelinya 10 liter sehari," sebutnya.
Proses memasak siput ini dimulai dari memotong bagian ekor atau cangkat berbentuk spiral.
Setelah dipotong, siput langkitang akan ditumbuk menggunakan kayu panjang dengan ujung yang tumpul.
Tujuan dari penumbukan ini untuk mengeluarkan lendir dan lumpur yang masih menempel di badan siput.
"Barulah setelah itu siput dibersihkan dengan air, lalu disiapkan bumbu masaknya, seperti santan, cabai, kunyit lengkuas, jahe, bawang merah dan bawang putih," pungkasnya.
Semua bahan dihaluskan, dicampur ke dalam kuali atau wajan dan dimasak dengan api besar.
Waktu yang dihabiskan bisa mencapai satu jam, hingga isi dari siput lengkitang keluar, yang menandakan kuliner tersebut telah matang.
Sedangkan untuk harga per porsi, Ayu mematok Rp10.000.
Proses memasak serta pengolahan yang cukup lama serta memakan waktu, menjadi pertimbangan dalam penetapan harganya.
"Langkitang ini kan susah memasaknya, tapi Rp10.000 sudah dapat sepiring kecil. Cara makannya dengan dihisap menggunakan mulut," tambahnya.
Penjualan dua kuliner ini di lokasi wisata Pantai Padang, membawa keberkahan bagi pedagang.
Keuntungan dapat diraih pada momen tertentu, kebetulan saat ini tengah berlangsung libur sekolah.
Secara tidak langsung, wisatawan dari berbagai daerah mendadak ramai ke Pantai Padang.
Selain menikmati pemandangan pantai dan sepoi-sepoinya angin, perburuan kuliner tak kalah pentingnya.
Dua kuliner ini selalu jadi incaran para wisatawan, dengan harga ramah di kantong dan rasa yang sesuai di mulut.
Bagi Aina, salah satu wisatawan asal Solok yang bekerja di Padang, mengaku masih memburu kuliner tersebut sembari menikmati keindahan debur ombak Pantai Padang.
Bagi dia, menikmati keindahan pantai menjelang senja, tak lengkap jika tidak mencicipi Karupuak Leak dan Langkitang Cucuik.
"Setiap saya berkunjung ke Pantai Padang, pasti membeli dua kuliner ini, karena rasanya enak dan harga murah," ucapnya.
Kuliner ini juga kata Aina, cocok dinikmati dengan keluarga, teman maupun pasangan.
Ia mengaku sering makan di bebatuan ataupun duduk di atas kursi yang sudah disediakan oleh pedagang.
"Bisa sendiri, bisa bersama keluarga, teman atau pasangan, sembari berbincang di Pantai Padang," tutupnya.
Sementara pedagang bernama Febi, mengaku penjualan kuliner ini saat libur sekolah meningkat pesat.
Ia menyebut mencapai 50 persen di bandingkan hari biasa. Terlebih, penjualan saat weekend juga menjadi penunjang.
Dalam sehari, ia bisa menghabiskan sekitar 50 keping Karupuak Leak atau dua toples yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Satu toples saya isi 22, 24 hingga lebih. Kalau sehari bisa habis da toples atau sekitar 50 keping saat libur sekolah ini," ucapnya.
Sedangkan di hari biasa, jumlahnya tak sampai seperti saat ini. Ia mengaku hanya satu toples bahkan tak habis.
Meski begitu, ia mengaku beruntung penjualan bisa meningkat saat libur sekolah.
Dengan begitu, Febi bisa menutupi kekurangan pada hari biasa.
"Alhamdulillah, penjualan libur sekolah meningkat, bisa menutupi kekurangan saat hari biasa," tutupnya.