SURYA.CO.ID, MOJOKERTO - Hantaman pemadaman listrik bergilir di Jawa Timur kian memperpanjang napas berat pelaku UMKM di Mojokerto yang belum sepenuhnya pulih dari dampak kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa waktu lalu.
Sektor ekonomi kreatif yang bergantung penuh pada pasokan daya listrik kini terancam gulung tikar akibat mandeknya roda produksi.
Baca juga: Pemprov Jatim Pastikan Pasokan Listrik di 38 Kabupaten dan Kota Pulih
Ironisnya, pemadaman massal itu justru terjadi saat para perajin kostum karnaval di kawasan Trawas sedang memasuki masa panen raya menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-81.
Proses pengerjaan yang dituntut serba cepat terpaksa terhenti berjam-jam karena peralatan elektronik utama tidak dapat berfungsi.
"Mati listrik 1-2 jam saja sudah sangat mengganggu proses pengerjaan, karena kita menggunakan alat Glue Gun (lem tembak) dan solder serta lampu penerangan saat pengerjaan pesanan," keluh perajin yang tergabung dalam Trawas Trashion Carnival (TTC) itu.
Baca juga: Update Pemadaman Bergilir, PLN Pastikan Listrik Jatim Normal dan Manajemen Beban Berakhir
Dampak yang paling memukul para pelaku usaha bukan sekadar kerugian materi, melainkan runtuhnya kredibilitas di mata pelanggan.
Akibat lini produksi yang tersendat, tenggat waktu pengiriman pesanan mulai meleset hingga memicu gelombang protes dari pemesan.
"Ibaratnya, ini puncak para perajin penuh dengan pesanan dan pengerjaan menjelang Agustusan. Jadi pengerjaannya ngebut bahkan sampai lembur hingga tenggah malam," imbuh Tri Mulyono.
"Pemadaman listrik paling lama mulai Ashar sampai pukul 8 malam," jelasnya.
Demi menyelamatkan reputasi usahanya, ia terpaksa menguras energi ekstra dengan tetap melanjutkan pengerjaan dekorasi kostum di malam hari bermodalkan seadanya.
"Tentunya menghambat pengerjaan kami, seharusnya target yang harus terpenuhi sesuai tenggang waktu jadinya orderan agak molor karena prosesnya terhambat mati listrik tadi, pungkasnya.
"Komplain dari customer pesanannya kok jadi molor pengerjaannya, kalau secara ekonomi tidak begitu mempengaruhi mungkin dari sisi tenaga dan waktu. Pastinya kecewa, bayar listrik selalu tepat waktu tidak pernah telat," tutupnya.
Kondisi pelik itu tidak hanya mengisolasi satu rumah produksi saja, melainkan turut melumpuhkan kawasan wisata lain seperti Pacet dan Trowulan.
Para pelaku usaha kini mendesak pemerintah dan otoritas terkait untuk mengevaluasi manajemen distribusi daya agar tidak mengorbankan geliat ekonomi warga.
"Kalau bisa pemadam listrik ini tidak dilakukan di jam produktif, tidak hanya UMKM seperti saya saja yang terdampak tapi banyak yang kena dampaknya seperti kafe-kafe di Trawas," tandasnya.