Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Calon tenaga kerja Indonesia yang ingin bekerja di Jepang dinilai perlu mendapatkan pembekalan mengenai kondisi nyata kehidupan dan dunia kerja di Jepang. Penguasaan bahasa Jepang saja dinilai belum cukup apabila tidak diimbangi dengan kesiapan mental, fisik, dan pemahaman budaya kerja.
Hal tersebut disampaikan Marlo Siswahyu, pemilik sebuah perusahaan Touroku Shien Kikan (TS) yang memasok tenaga kerja Indonesia ke berbagai perusahaan di Jepang, kepada Tribunnews.com, Jumat (26/6/2026).
Menurut Marlo, kemampuan bahasa Jepang minimal JLPT N3 seharusnya menjadi target calon pekerja apabila ingin dapat berkomunikasi dengan baik di lingkungan kerja.
"Penguasaan hanya N4 dan N5 masih sulit untuk komunikasi dengan warga Jepang. Tenaga kerja yang saya kenalkan dan tempatkan ke perusahaan Jepang sudah N4, tetapi komunikasi tidak jalan dalam bahasa Jepang. Mereka hanya menghafal bahasa Jepang, tetapi dalam praktik kurang mengembangkan kemampuan berbahasanya sehingga komunikasi tidak terjadi dengan pengusaha Jepang. Akibatnya belum lama bekerja sudah diminta bosnya untuk pulang saja ke Indonesia. Saya yang kewalahan jadinya. Padahal sudah berkali-kali menekankan agar meningkatkan dan mengembangkan penguasaan bahasa Jepangnya," ujar Marlo.
Baca juga: Pria WNI Kembali Ditangkap Polisi Jepang, Diduga Menikam Pacar Baru Mantan Kekasih hingga Luka Berat
Calon pekerja perlu memahami sistem pajak Jepang
Selain kemampuan bahasa, Marlo juga meminta lembaga pelatihan kerja (LPK) dan agen penyalur di Indonesia memberikan pemahaman mengenai sistem penggajian dan perpajakan di Jepang.
Menurutnya, banyak pekerja yang hanya terpaku pada besarnya nominal gaji tanpa memahami berbagai potongan yang berlaku.
"Jangan sampai pikirannya hanya menerima uang besar saja. Begitu menerima uang lebih kecil jadi kaget karena dipotong berbagai hal termasuk pajak. Pajak di Jepang cukup tinggi, jadi kalau gaji kita berkurang banyak akibat pajak itu hal yang biasa di Jepang."
Ia menjelaskan bahwa setiap slip gaji di Jepang mencantumkan secara rinci berbagai potongan seperti pajak penghasilan, asuransi kesehatan, dana pensiun, dan potongan lainnya.
"Tinggal kita sendiri yang harus mengetahui potongan apa itu dan apa tujuan dari uang yang dipotong tersebut," katanya.
Sementara itu, pemilik sebuah LPK di Indonesia, Pajar Ahmad, menilai tantangan lain yang dihadapi calon pekerja adalah kesiapan mental.
Ia menceritakan salah satu siswanya yang sebenarnya sudah lolos wawancara dan dijadwalkan berangkat ke Jepang enam bulan lagi, namun memilih mengundurkan diri hanya karena mendapat tekanan saat proses wawancara.
"Murid saya yang enam bulan lagi akan berangkat ke Jepang dan sudah diwawancarai, saat dibentak seseorang dari Jepang langsung dia mengundurkan diri. Orang tuanya datang ke saya dan mengatakan anaknya mengundurkan diri saja. Kan sayang, habis waktu, habis uang dan sebagainya, tinggal berangkat saja enam bulan lagi, tahu-tahu mengundurkan diri," katanya kepada Tribunnews.com, Sabtu (27/6/2026).
Muncul agen asing yang merekrut dari Indonesia
Pajar juga mengungkapkan muncul fenomena baru berupa agen tenaga kerja berkewarganegaraan asing yang berdomisili di Jepang, termasuk dari Vietnam, yang aktif merekrut calon pekerja dari Indonesia.
Menurutnya, mereka menawarkan pekerjaan di Jepang dengan meminta biaya yang cukup besar kepada calon pekerja.
"Mereka menjanjikan kalau mau bekerja di Jepang harus bayar Rp80 juta dan sebagainya."
Pajar berpendapat sebagian agen tersebut mulai mencari tenaga kerja dari Indonesia karena menghadapi tantangan dalam perekrutan pekerja dari negara asal mereka.
Baca juga: Sekretaris Kepala Kabinet Jepang Diganti di Tengah Dugaan Penyalahgunaan Perjalanan Dinas
"Mereka melakukan karena tenaga kerja Vietnam citranya kurang baik saat ini di Jepang. Komunikasi bahasa Jepang sulit, banyak pembunuhan dilakukan mereka di Jepang, pencurian dan berbagai tindak pidana dilakukan orang Vietnam di Jepang," ujarnya.
Pembekalan harus menggambarkan kondisi sebenarnya
Marlo menegaskan bahwa seluruh agen dan lembaga penyalur tenaga kerja Indonesia sebaiknya memberikan informasi yang utuh mengenai kehidupan di Jepang, mulai dari budaya kerja, sistem penggajian, kewajiban membayar pajak, hingga tantangan hidup sehari-hari.
Menurutnya, calon pekerja perlu memiliki ekspektasi yang realistis sebelum memutuskan bekerja di Jepang.
"Belum lagi harus menjaga citra baik Indonesia di Jepang. Kesadaran itu harus ditanamkan baik-baik kepada semua pekerja Indonesia yang ada di Jepang seharusnya," tutup Marlo.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com