Detail Operasi Entebbe 1976 Israel yang Tewaskan Kakak Benjamin Netanyahu
Hasiolan Eko P Gultom June 28, 2026 09:38 PM

 

Detail Operasi Entebbe 1976 Israel yang Tewaskan Kakak Benjamin Netanyahu

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Israel merilis serangkaian dokumen rahasia yang mengungkap detail baru mengenai Operasi Entebbe, misi penyelamatan sandera yang dilakukan pasukan khusus Israel di Uganda pada 1976. 

Arsip tersebut dipublikasikan menjelang peringatan 50 tahun operasi yang selama ini dianggap sebagai salah satu operasi pembebasan sandera paling terkenal dalam sejarah.

Baca juga: Setelah Gaza, Lebanon, dan Iran, Yaman Kini Target Utama Israel: Pemimpin Houthi Masuk Daftar Target

Menurut laporan The Independent, publikasi dokumen dilakukan ketika Israel masih menghadapi persoalan penyanderaan yang muncul setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, sehingga memberikan dimensi dan konteks historis sekaligus politik terhadap arsip tersebut.

Dalam konteks historis, perlawanan terhadap pendudukan Israel di tanah Palestina dilakukan lewat berbagai cara oleh gerakan perlawanan Palestina demi terbebas dari pendudukan. 

Awalnya Pilih Jalur Diplomasi

Dokumen yang baru dibuka menunjukkan bahwa pemerintah Israel pada awal krisis tidak langsung memilih opsi militer.

Berlawanan dengan anggapan yang berkembang selama ini, kabinet yang dipimpin Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin lebih dahulu mempertimbangkan kemungkinan negosiasi dengan para pembajak sambil mengevaluasi risiko operasi militer yang harus dilakukan ribuan kilometer dari wilayah Israel.

Situasi krisis bermula ketika pesawat Air France Penerbangan 139, yang terbang dari Tel Aviv menuju Paris dengan transit di Athena, dibajak oleh anggota Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) bersama kelompok militan Jerman Revolutionary Cells.

Pesawat kemudian dipaksa mendarat di Bandara Entebbe, Uganda, di mana para pembajak menuntut pembebasan tahanan Palestina dan sejumlah tahanan lain yang berada di berbagai negara.

Pada tahap awal, pemerintah Israel menolak bernegosiasi dengan para pembajak.

Namun, setelah para sandera ditahan selama hampir sepekan dan tekanan dari keluarga korban semakin besar, pemerintah mulai membuka jalur komunikasi melalui Prancis guna mengulur waktu sekaligus mencegah eksekusi sandera.

Diplomasi Berjalan, Operasi Militer Disiapkan

Dokumen tersebut mengungkap Israel menerapkan strategi ganda selama krisis berlangsung.

Di satu sisi, pemerintah mendukung upaya diplomatik yang dimediasi Prancis dengan Presiden Uganda saat itu, Idi Amin.

Di sisi lain, militer secara diam-diam menyiapkan operasi penyelamatan apabila negosiasi gagal.

Persiapan operasi meliputi pengumpulan intelijen secara rinci mengenai Bandara Entebbe, penyusunan replika area bandara untuk latihan, hingga perencanaan jalur penerbangan pesawat angkut militer yang membawa pasukan khusus melalui wilayah Kenya menuju Uganda.

Operasi Kurang dari Satu Jam

Operasi pembebasan sandera akhirnya dilaksanakan pada malam 3–4 Juli 1976 dan berlangsung kurang dari satu jam.

Pasukan khusus Israel berhasil membebaskan lebih dari 100 sandera yang ditahan di terminal Bandara Entebbe.

Dalam operasi tersebut, tiga sandera dilaporkan tewas, sementara seluruh pembajak dan puluhan tentara Uganda yang mendukung mereka juga tewas dalam baku tembak.

Satu-satunya korban di pihak militer Israel adalah Letnan Kolonel Yonatan "Yoni" Netanyahu, komandan pasukan penyerbu sekaligus kakak dari Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu.

Kematian Yoni kemudian menjadikannya salah satu simbol paling dikenal dari Operasi Entebbe.

Dikritik karena Langgar Kedaulatan Uganda

Arsip juga memperlihatkan bahwa operasi tersebut memicu kritik internasional.

Presiden Uganda Idi Amin serta Organisasi Persatuan Afrika (OAU) mengecam tindakan Israel karena dianggap melanggar kedaulatan Uganda.

Sebaliknya, Israel menegaskan operasi itu merupakan langkah yang diperlukan setelah seluruh upaya diplomatik dinilai tidak lagi mampu menjamin keselamatan para sandera.

Bukan Solusi Permanen, Ancaman Terus Mengincar Israel

Meski Operasi Entebbe kemudian dipandang sebagai keberhasilan militer besar, dokumen yang baru dipublikasikan menunjukkan para pemimpin Israel saat itu tidak melihatnya sebagai solusi permanen.

Dalam salah satu catatan yang dikutip arsip tersebut, Perdana Menteri Yitzhak Rabin mengingatkan agar keberhasilan operasi tidak menimbulkan keyakinan bahwa ancaman telah berakhir.

Menurut Rabin, keberhasilan di Entebbe merupakan kemenangan taktis, sementara ancaman akan tetap menjadi tantangan jangka panjang yang harus terus dihadapi Israel.

Catatan tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam arsip yang kini dipublikasikan, karena memperlihatkan bagaimana para pengambil keputusan saat itu memandang keberhasilan operasi militer sebagai bagian dari strategi yang lebih luas, bukan akhir dari ancaman penyanderaan maupun konflik yang berlangsung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.