BANGKAPOS.COM -- Identitas tiga anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), NTT, yang diduga melakukan intimidasi terhadap dr Icha terungkap.
Mereka adalah Therensius Lazakar dari Partai Golkar, Robertus Bani dari PKB, dan Veronika Lake dari PDIP.
Dokter Icha merupakan seorang dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Leona, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia diketahui meninggal dunia dengan mengakhiri hidup usai diduga diitimidasi oleh oknum DPRD TTU saat menangani pasien anak korban gigitan ular.
Paman almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha, Fabianus Banase, mengungkapkan bahwa keponakannya mengalami depresi berat setelah peristiwa tersebut.
Menurut Fabianus, perubahan kondisi psikologis dr. Icha terlihat sangat signifikan. Sosok yang sebelumnya dikenal ceria itu berubah menjadi pendiam dan menutup diri setelah kejadian tersebut.
Baca juga: Rekam Jejak Mufli Budi Ananda, Asisten Raffi Ahmad jadi Komisaris Krakatau Posco, Pendidikan Disorot
“Dia mengalami depresi berat. Setelah kejadian itu, dia hanya berkomunikasi lewat WhatsApp dengan saya dan pamannya yang lain, Victor Manbait. Selebihnya dia lebih banyak diam,” ujar Fabianus, kepada Kompas.com, Minggu (28/6/2026).
Oknum DPRD TTU membantah tuduhan telah melakukan intimidasi terhadap dr Icha hingga dokter muda tersebut depresi dan mengakhiri hidup.
Melalui pengakuan anggota DPRD tersebut, mereka menjelaskan bahwa peristiwa di IGD RSU Leona pada Sabtu (13/6/2026) malam terjadi spontan karena kepanikan keluarga melihat kondisi pasien anak yang dipagut ular hijau.
Therensius mengakui bahwa dalam situasi mencekam itu, nada bicaranya memang sempat meninggi. Namun, ia menggarisbawahi bahwa hal tersebut murni cerminan rasa takut kehilangan keponakannya, bukan berniat menekan korban.
"Kami akui dalam situasi itu nada bicara memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien.
Tetapi sama elevation tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujar Therensius Lazakar dilansir Tribun-medan.com dari Kompas.com, Minggu (28/6/2026).
Therensius membeberkan kronologi versinya. Sebelum dirujuk ke RS Leona pukul 17.00 Wita, pasien sempat tertahan lima jam di RSUD Kefamenanu hanya dengan penanganan infus dan paracetamol tanpa kejelasan hasil darah.
Rujukan dilakukan karena RSUD kekurangan dokter bedah dan kehabisan stok anti-venom (serum anti-bisa ular).
Kepanikan memuncak ketika hingga pukul 21.00 Wita di RS Leona, keluarga merasa belum melihat adanya penanganan lanjutan yang signifikan sementara pasien terus mengeluh sakit dan gelisah.
Saat itulah ia dan Norbertus mendatangi dr. Icha untuk meminta penjelasan prosedur medis, bukan mendikte tindakan dokter.
Bantahan serupa dilontarkan oleh Norbertus Tubani. Ia mengklaim situasi langsung mencair setelah Dokter Nur (Direktris RSU Leona) datang memberikan penjelasan medis secara jernih bahwa darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular.
“Pasien sudah membaik setelah tiga hari dirawat... Sebelum pulang, kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada Direktris RSU Leona, dr. Icha, serta tenaga medis yang berada di IGD,” ungkap Norbertus.
Sementara itu menurut keterangan keluarga, dokter tersebut telah menjalankan prosedur penanganan sesuai standar operasional rumah sakit dan rutin berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.
Namun, situasi mulai memanas ketika pihak keluarga pasien tidak menerima penjelasan medis terkait vaksin yang mereka minta.
Selain belum direkomendasikan secara klinis untuk kasus tersebut, stok vaksin yang dimaksud juga disebut tidak tersedia di rumah sakit.
Ketegangan kemudian meningkat setelah dua pria yang mengaku sebagai anggota dewan datang ke area IGD dan melayangkan protes dengan nada tinggi.
Baca juga: Motif Cemburu, Taufik Hidayat Aniaya YTR hingga Buta, Bibir Digunting dan Sundut Korban dengan Rokok
Mereka meminta penjelasan langsung kepada dr Icha mengenai penanganan pasien yang sedang dilakukan.
Salah satu oknum bahkan diduga bersikap agresif dengan menunjuk-nunjuk wajah sang dokter saat berbicara.
Insiden ini pun memicu perhatian publik dan menimbulkan sorotan terhadap perlindungan tenaga kesehatan saat menjalankan tugas pelayanan medis.
Situasi di dalam area IGD kemudian mendadak memanas setelah datang dua orang pria yang mengaku sebagai anggota dewan terhormat DPRD TTU.
Mereka langsung menyampaikan protes keras dengan nada tinggi di ruang perawatan.
Salah satu oknum legislator bahkan disebut sempat menunjuk-nunjuk wajah dr Icha secara agresif saat meminta penjelasan.
Akibat bentakan dan perlakuan kasar tersebut, dr Icha langsung mengalami tekanan emosional yang hebat hingga menangis histeris di sela-sela waktu bertugas.
Keesokan harinya, trauma mendalam masih membayangi sang dokter yang terus merasa ketakutan dan tertekan. Ia pun sempat mendapat perawatan selama beberapa hari.
Hingga akhrinya ia pun ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di rumahnya dan meninggalkan sebuah surat wasiat pada Jumat (26/6/2026).
Dr Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orangtuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026).
Sebelum meninggal, ia sempat menjalani perawatan medis karena tekanan psikologis setelah dugaan intimidasi di IGD RS Leona.
Hingga kini, penyidik Polres TTU masih mendalami peristiwa tersebut dengan memeriksa saksi, mengumpulkan rekam medis, serta meminta pendapat ahli.
Polisi juga belum menyimpulkan apakah dugaan intimidasi itu memenuhi unsur pidana maupun memiliki hubungan hukum dengan kematian dr Icha. Konta
Kontak Bantuan
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
(Bangkapos.com/Kompas.com/Tribun-Medan.com)