Harga Kopi Melonjak, tetapi Pupuk Juga Mahal, Ini Keluhan Petani Rejang Lebong
Ricky Jenihansen June 28, 2026 10:39 PM

 

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Kenaikan harga kopi di Kabupaten Rejang Lebong pada akhir Juni 2026 menjadi kabar baik bagi para petani.

Namun, di balik meningkatnya harga jual kopi, para petani masih dihadapkan pada persoalan lain, yakni mahalnya harga pupuk dan obat-obatan pertanian.

Saat ini, harga kopi di tingkat pengepul berkisar antara Rp54 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, tergantung kualitas biji kopi yang dijual petani.

Harga tersebut meningkat dibandingkan beberapa waktu sebelumnya yang berada pada kisaran Rp49 ribu hingga Rp51 ribu per kilogram.

Keluhan Petani Kopi

Salah seorang petani kopi di Rejang Lebong, Dasman, mengatakan kenaikan harga kopi menjadi angin segar bagi petani setelah biaya produksi pertanian terus mengalami kenaikan.

Ia berharap harga kopi dapat bertahan pada level saat ini atau bahkan kembali mengalami kenaikan agar pendapatan petani ikut meningkat.

"Kenaikan harga kopi ini tentu menjadi angin segar bagi kami para petani. Harapannya harga bisa tetap tinggi atau bahkan naik lagi dan tidak kembali turun," ujar Dasman.

Menurut Dasman, dalam beberapa waktu terakhir, harga pupuk serta obat-obatan pertanian mengalami kenaikan sehingga biaya perawatan kebun kopi semakin besar.

Apabila harga kopi tetap tinggi, hasil penjualan panen diharapkan dapat membantu petani memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan anak, hingga biaya perawatan tanaman agar produktivitas kebun tetap terjaga.

"Kalau harga kopi bagus, tentu keuntungan yang kami peroleh bisa mencukupi kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, sekaligus untuk membeli pupuk dan obat-obatan agar tanaman tetap dirawat dengan baik," tuturnya.

Harga Pupuk Naik

Sebelumnya, salah satu penjual pupuk di Rejang Lebong, Saropi, mengatakan kenaikan harga pupuk non subsidi sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut berdampak terhadap daya beli masyarakat, khususnya petani kopi.

Kenaikan terjadi pada sejumlah jenis pupuk, seperti Urea, HCL, dan NPK Mutiara, serta beberapa jenis obat-obatan pertanian.

Menurut Saropi, harga pupuk Urea yang sebelumnya berada di kisaran Rp685 ribu per karung dengan berat 50 kilogram kini naik menjadi Rp725 ribu per karung.

Sementara itu, pupuk NPK Mutiara dengan berat 50 kilogram yang sebelumnya dijual sekitar Rp880 ribu per karung kini mencapai Rp925 ribu per karung.

Selain pupuk, berbagai jenis obat-obatan pertanian atau racun juga mengalami kenaikan harga.

Besaran kenaikannya bervariasi, yakni sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per kemasan, tergantung jenis produk.

"Sudah naik sejak beberapa pekan terakhir. Untuk pupuk dan obat-obatan pertanian sama-sama mengalami kenaikan harga," ungkap Saropi saat diwawancarai wartawan TribunBengkulu.com pada Selasa (2/6/2026) lalu.

Saropi mengungkapkan kenaikan harga tersebut turut memengaruhi jumlah pembeli yang datang ke tokonya.

Dibandingkan sebelumnya, jumlah pembelian saat ini cenderung menurun.

Menurutnya, sebagian petani memilih mengurangi pembelian atau menunda pembelian pupuk karena harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan mereka.

"Lumayan jauh menurun, soalnya banyak yang mengurangi penggunaan pupuk karena harganya lumayan mahal," jelasnya.

Harga Kopi Kembali Naik

Sementara itu, salah satu tauke kopi di Rejang Lebong, Yongki, membenarkan harga kopi kembali mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, harga kopi saat ini berkisar antara Rp54 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram, tergantung kualitas kopi yang diterima.

"Iya benar, dalam beberapa hari terakhir harga kopi kembali naik. Saat ini kisarannya Rp54 ribu sampai Rp55 ribu per kilogram, tergantung kualitas kopi yang diterima," sampai Yongki kepada TribunBengkulu.com pada Minggu (28/6/2026).

Meski demikian, Yongki mengaku belum dapat memastikan bagaimana pergerakan harga kopi pada waktu mendatang karena harga kopi mengikuti perkembangan harga di pasar internasional.

"Kami tidak bisa memastikan apakah nanti akan naik lagi, bertahan, atau justru turun. Karena harga kopi memang mengikuti perkembangan harga dunia," ujarnya.

Dengan kembali meningkatnya harga kopi pada akhir Juni 2026, para petani di Rejang Lebong berharap tren positif tersebut dapat terus berlanjut sehingga memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan kopi.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.