TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Jumlah korban tewas akibat dua gempa besar yang mengguncang Venezuela terus bertambah. Hingga Minggu (28/6/2026), korban meninggal dunia mencapai 1.430 orang, sementara 3.238 orang terluka dan puluhan ribu lainnya masih dinyatakan hilang.
Dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi pada Rabu 24 Juni 2026 menghancurkan berbagai wilayah, terutama La Guaira, yang menjadi salah satu daerah dengan dampak paling parah.
• Gempa 7,5 SR di Jepang Picu Tsunami, 156 Ribu Warga Dievakuasi dan Kapal Tinggalkan Pelabuhan
Sejumlah keluarga melaporkan setidaknya 68.900 orang hilang akibat dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 menghantam negara Amerika Selatan itu.
Korban meninggal dunia mencapai 1.430 orang.
Sebanyak 3.238 orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Sedikitnya 68.900 orang dilaporkan hilang menurut laporan sejumlah keluarga.
Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, menyebut jumlah korban masih berpotensi meningkat, sementara lebih dari 50.000 orang masih belum ditemukan.
Warga Venezuela ikut terlibat dalam mencari orang terkasih dan tetangga mereka dengan menggunakan sekop, alat berat, tali, hingga tangan kosong.
Mereka bergabung bersama tim penyelamat internasional yang turut mendaki reruntuhan.
Di saat yang sama, ketegangan memuncak di kalangan warga yang menyatakan kekecewaannya pada pemerintah, tentara, petugas pemadam kebakaran, polisi, serta militer yang dianggap tidak siap dan tidak cepat tanggap menghadapi skala tragedi tersebut.
Sejumlah lembaga bantuan menganggap 48-72 jam pertama merupakan waktu krusial untuk menyelamatkan orang hidup-hidup.
Waktu tersebut dapat lebih lama jika terdapat akses makanan dan air.
Jutaan orang dikhawatirkan kekurangan sanitasi dan kebutuhan dasar lainnya, saat penerbangan bantuan Amerika Serikat (AS) pertama mendarat di Caracas.
Puluhan ribu orang dilaporkan hilang ketika bangunan-bangunan runtuh di kota-kota di negara yang sudah dilanda krisis ekonomi dan pergolakan politik.
Pencarian korban selamat menyaksikan upaya putus asa dari warga setempat untuk menyingkirkan puing-puing dari bangunan yang runtuh.
Para ahli mengatakan, 72 jam pertama setelah bencana alam adalah jendela waktu yang sempit dan penting untuk menemukan korban selamat. Setelah itu, pencarian menjadi upaya untuk menemukan jenazah.
"Situasinya sangat kacau, panas, dan tidak terorganisir," kata petugas pemadam kebakaran asal Australia, Craig Demeillon (43) yang melakukan perjalanan sendirian ke La Guaira dari Miami untuk membantu, dikutip dari AFP.
"Semoga ada lebih banyak orang yang bisa ditemukan," sambungnya.
Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher menuturkan, jumlah korban tewas bisa terus melonjak dan menambahkan bahwa lebih dari 50.000 orang hilang.
Ada rasa gembira di daerah pesisir La Guaira, wilayah yang paling parah terkena dampak, ketika warga setempat berhasil menarik seorang bayi hidup-hidup dari reruntuhan sekitar 32 jam setelah.
Dalam sebuah video di media sosial, seorang pria berlinang air mata sambil menggendong bayi itu.
Badan migrasi PBB telah memeriksa data populasi dan kerusakan yang tersedia dan telah menentukan bahwa hingga 6,76 juta orang dapat terdampak.
"Warga membutuhkan tempat penampungan darurat, air bersih, sanitasi dan layanan kebersihan, perawatan kesehatan, dukungan perlindungan, dan barang-barang bantuan penting," bunyi pernyataan badan itu.
Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez melaporkan, 1.430 orang tewas dan 3.238 orang terluka.
Sementara, PBB memperkirakan kerugian fisik mencapai 6,7 miliar dollar AS atau setara dengan enam persen dari PDB Venezuela.
Kebutuhan mendesak yang saat ini diperlukan meliputi:
Tempat penampungan sementara.
Air bersih.
Sanitasi.
Layanan kesehatan.
Perlindungan bagi korban.
Bantuan logistik.
PBB juga memperkirakan nilai kerusakan fisik mencapai 6,7 miliar dolar AS, atau sekitar enam persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Venezuela.
Rakyat Venezuela sangat marah kepada pemerintah.
Yessica Mendoza terpaksa mengantar putrinya sendiri ke kamar mayat di Caracas setelah Yesimar Rodriguez, (25) dan suaminya, Jhomel Anaya (26) tidak selamat dari reruntuhan rumah mereka di La Guaira.
"Kami sendiri yang menarik mereka keluar. Tidak ada bantuan yang datang," ujar ibu yang berduka (43) itu.
Keluarganya akan dikremasi tanpa upacara penghormatan terakhir karena pembusukan tubuh mereka yang berlangsung cepat.
Pemerintah telah membatasi akses ke negara bagian La Guaira, mengerahkan militer ke daerah tersebut, dan mewajibkan para sukarelawan untuk mendapatkan izin masuk yang aman.
Kemarahan di antara mereka meningkat saat menunggu kartu masuk di luar gedung konser di ibu kota.
"Anda butuh izin untuk menyelamatkan nyawa, bayangkan saja," keluh Carlos Itriago (27).
"Saya sudah di sini sejak subuh mengantre agar bisa pergi menyelamatkan orang-orang," kata Ezequiel Rivero (53).
Pejabat Venezuela mengatakan 17 penerbangan dengan lebih dari 1.600 anggota tim bantuan telah mendarat pada Sabtu.
Pada Sabtu 27 Juni 2026, 72 jam sejak gempa bumi melanda negara tersebut, sejumlah orang yang turut melakukan pencarian mengaku kehabisan waktu untuk menyelamatkan korban yang masih hidup.
“Ada tumpukan mayat di sana dari tadi malam. Bayi-bayi yang baru lahir,” kata salah seorang pencari, Mileidy Romero, yang melakukan pencarian di kota tepi laut Caraballeada pada Sabtu.
“Pukul 8 malam (kemarin) ada orang yang masih hidup di sana, dan mereka tidak berusaha menyelamatkan mereka. Kami telah menemukan beberapa mayat, dan mereka juga tidak membantu kami untuk mengevakuasinya. Apa yang mereka tunggu?” ungkapnya, dilansir dari Associated Press, Minggu 28 Juni 2026
Pelaksana Tugas Presiden Delcy Rodriguez mengatakan lebih dari 14.000 anggota militer dan polisi berpatroli di daerah tersebut, namun, banyak warga di zona bencana mengaku hanya sedikit melihat anggota militer dan polisi yang berada di sana.
Para pejabat mengatakan siapa pun yang ingin memasuki area sekitar La Guaira sekarang harus mendapatkan izin resmi, namun tidak memberikan detail siapa yang diizinkan masuk.
Seorang warga di kerumunan, Yeison Marcano, mengatakan mereka yang melakukan pencarian telah menerima bantuan dari unit investigasi, tetapi baik polisi maupun Garda Nasional tidak membantu.
“Mereka datang untuk makan arepas dan berfoto agar terlihat seperti sedang bekerja. Seragam mereka bahkan tidak kotor seperti kami. Kami sudah berada di sini selama tiga hari,” kata Marcano.(*)