Fase Gugur Piala Dunia 2026: Eropa Saling Jegal, Dewi Fortuna hingga Lini Tengah Jadi Penentu
Muhammad Nursina Rasyidin June 29, 2026 02:30 AM

TRIBUNNEWS.COM - Babak 32 besar Piala Dunia 2026, sepuluh dari tiga belas negara Eropa berada di satu sisi bagan dan berpotensi saling sikut untuk melangkah ke babak berikutnya bahkan hingga menjadi yang terkahir di turnamen.

Mereka adalah Jerman, Prancis, Swedia, belanda, Portugal, Kroasia, Spanyol, Austria, Bosnia dan Herzegovina, serta Belgia.

Sementara tiga negara lainnya, Norwegia, Inggris, dan Swiss berada di bagan sebelah kanan dengan mayoritas lawan dari Amerika Selatan.

Dalam podcast Super Taktik Tribunnews yang bertajuk "Babak Baru Piala Dunia 2026: Eropa Saling Jegal, Argentina Mulus?" menghadirkan dua narasumber dari Football Enthusiast, Agung Iqbal Ramadhan dan Hamid Anwar dari media sosial @analisiskampung sebelah berdiskusi seru tentang persaingan babak gugur Piala Dunia 2026.

Kondisi tersebut membuat persaingan antartim Eropa berlangsung lebih cepat. Negara-negara unggulan berpotensi saling menyingkirkan bahkan sebelum semifinal.

Jerman akan menghadapi wakil Amerika Selatan, Paraguay. Jika berhasil menang, tim Der Panser besutan Julian Nagelsmann bakal bertemu pemenang antara Prancis vs Swedia. Prancis notabene negara yang paling difavoritkan di turnamen ini.

Opta bahkan memprediksikan peluang juara Kylian Mbappe dan kolega di posisi teratas sejak babak penyisihan grup.

Lalu ada Belanda yang akan menghadapi semifinalis edisi sebelumnya, Maroko.

Dilanjut Portugal vs Kroasia, Spanyol vs Austria, tuan rumah Amerika Serikat melawan Bosnia, dan Belgia vs Senegal.

Jika sama-sama menang, Portugal bisa menghadapi Spanyol di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Padatnya duel antartim elite Eropa membuat peluang lolos menuju final dipastikan tidak mudah. Namun menurut Agung Iqbal, status unggulan belum tentu menjadi jaminan kemenangan.

Dalam olahraga sepak bola, bola itu bundar, sehebat apapun negara tersebut, sehebat apa pun pelatih tersebut, ada satu hal yang dapat mendukung mereka yakni dewi fortuna.

Salah satu bukti bahwa status unggulan bukan jaminan adalah kiprah Cape Verde sepanjang fase grup.

Tim debutan di Piala Dunia 2026 yang berhasil finis sebagai runner-up Grup H tanpa meraih kemenangan dan hanya menghasilkan dua gol dalam 3 pertandingan. Mereka unggul satu angka dari Uruguay yang finis di peringkat ketiga.

Tim yang awalnya hanya dianggap sebagai pelangkap namun mampu memberikan kejutan dengan menahan imbang seluruh kontestan, termasuk Spanyol tanpa gol.

"Kalau sudah di fase gugur beberapa negara besar ini di atas kertas akan diunggulkan dari negara-negara lain. Namun balik lagi, kalau sepak bola memang murni didesain untuk olahraga, sepak bola itu kan bulat. Sehebat apapun sebuah negara atau seorang pelatih di atas lapangan bukan hanya taktikal saja," terang Agung dalam podcast tersebut di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah pada Minggu (28/6/2026) malam.

"Taktikal diperlukan seperti rumus matematika dan lain sebagainya, tapi di sepak bola ada satu hal yang memang yang jarang kita bicarakan, yaitu dewi fortuna."

"Jangan salah, di antara tribun itu, suporter-suporter itu ada dewi fortuna di situ. Salah satunya Cape Verde kenapa bisa masuk, ya gift. Gift itu dari siapa, ya dewi fortuna, dari keberuntungan, faktor luck itu sangat penting," jelasnya.

Selain Cape Verde, Agung juga mencontohkan Jerman sepanjang fase grup yang kurang konsisten.

Performa Jerman menjadi bukti bahwa dominasi di satu pertandingan belum tentu berlanjut di laga berikutnya.

Jerman memang berhasil menghajar Curacao dengan skor telak 7-1, namun setelah itu mereka tampak biasa saja dengan kemenangan 2-1 atas Pantai Gading, bahkan kalah di laga pamungkas dari Ekuador dengan skor identik (1-2).

"Secara taktikal Jerman dengan kuatnya menghancurkan 7-1 Curacao, tapi setelah itu ya biasa saja. Jadi artinya, apapun bisa terjadi di lapangan, sedikit atau banyak gol itu bisa saja yang terjadi."

Faktor Kemenangan

Selain faktor keberuntungan, Agung menilai ada aspek teknis yang akan menentukan nasib setiap tim di fase gugur, yakni penguasaan lini tengah.

Agung sependapat dengan Hamid Anwar ketika menilai tim mana yang bisa memenangkan sebuah pertandingan. Tim tersebut adalah tim yang dapat mengontrol lini tengah permainan.

Baik tim tersebut bermain secara defensif, tetapi ketika mereka dapat mengelola ruang tengah dengan baik dan mendistribusikan ke lini tengah dengan akurat, itu akan memberikan dampak yang signifikan untuk peluang tim mencetak gol dan meraih kemenangan.

"Memang yang paling penting lini tengah, kenapa lini tengah karena penyambung antara lini belakang dan depan, bagaimana permainan bisa baik ya lini tengahnya pasti baik. Kalau lini tengahnya kurang baik, maka ke depan kurang baik, maka ke belakang pun akan sama," bebernya.

"Betul seperti yang disebut Anwar, bahwa lini tengah itu sangat penting. Negara-negara yang akan bertahan dan menang adalah yang mampu menguasai lini tengah."

"Artinya mampu menguasai ritme permainan," tegasnya.

Sebagai penutup, dengan komposisi bagan yang tidak seimbang, perjalanan menuju final diprediksi lebih berat bagi negara-negara Eropa dibanding wakil dari sisi kanan.

Agung memprediksikan Jerman yang akan melaju jauh dari bagan sisi kiri babak fase gugur dan berpeluang menghadapi Inggris di final, dengan skenario yang sama yakni meraih kemenangan.

Laju Inggris di bagan sisi kanan lebih mudah, namun akan mendapat perlawanan sengit di babak perempat dan semifinal karena berpeluang menghadapi wakil Amerika Selatan, Brasil dan Argentina.

BAGAN 32 PILDUN - Bagan 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menyelesaikan babak fase grup pada Minggu (28/6/2026) siang WIB.
BAGAN 32 PILDUN - Bagan 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menyelesaikan babak fase grup pada Minggu (28/6/2026) siang WIB. (Infografis Tribunnews.com)

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.