Kasus Taufik Hidayat: Pakar Ungkap Cara Pelaku Jerat Korban di Aplikasi Kencan
Pipit Maulidya June 29, 2026 02:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Kasus kekerasan yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap kekasihnya, YTR, mengungkap sisi gelap penggunaan aplikasi kencan.

Taufik diduga memanfaatkan ruang digital tersebut untuk melakukan manipulasi, kontrol, hingga penyekapan selama tiga tahun.

Pendiri ICT Watch, Donny Utoyo, mengungkapkan bahwa pelaku di aplikasi kencan sering kali membangun identitas palsu yang sempurna atau disebut sebagai hyper-personal model.

Strategi ini bertujuan menciptakan persona yang sangat menarik di mata target.

"Persona yang dimunculkan tapi hyper yang dilebih-lebihkan, yang di-fabricated, yang dikurasi," ujar Donny, dikutip dari YouTube NTV.

Ia menjelaskan bahwa di ruang digital, pelaku memiliki keuntungan waktu untuk memanipulasi responsnya agar terlihat sangat hangat.

"Mbak ngomong apa, saya masih bisa cari tahu dulu, saya bikinin puisi dulu, saya kasih perhatian dulu... 'Wah enak ya makanannya, kapan-kapan kita makan yuk'. Wah, saya diperhatikan sama orang yang ngerti banget sama saya. Itu jeratan-jeratan itu, itu membuat siapapun bisa menjadi target."

Tahapan Coercive Control

Setelah berhasil membangun kedekatan, pelaku mulai masuk ke tahap pengendalian atau coercive control.

Menurut Donny, proses ini terjadi secara perlahan dan sering tidak disadari oleh korban hingga mereka terisolasi sepenuhnya.

"Begitu ada ikatan emosional, maka tahap yang ketiga berikutnya adalah melakukan isolasi. Mana coba kamu jangan sering-sering pergi, mana lihat handphonemu, mana password-nya segala macam. Itu tahap yang ketiga tuh," jelas Donny.

Donny menambahkan bahwa ketika korban sudah terjerat, akal sehat seringkali tertutup oleh perasaan.

"Orang yang sedang jatuh cinta itu tidak mudah untuk kita ajak melihat lebih luas. Proses ini tidak terasa, tidak tampak, sampai kemudian korban tidak bisa lagi... kan kadang-kadang kita mikir ya, kenapa korbannya nggak sadar sih, kenapa korbannya nggak lari?"

Siklus Trauma Bonding Selama 3 Tahun

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri, memberikan pandangan mengapa korban seperti YTR bisa tertahan dalam lingkungan yang penuh kekerasan selama bertahun-tahun.

Reza menyebut fenomena ini sebagai trauma bonding.

"Trauma bonding adalah sebuah siklus. Mulai dari fase mesra, penuh kasih sayang. Berlanjut ke fase kedua, muncul gelegak konflik. Lanjut fase ketiga, konflik berlanjut berubah menjadi benturan fisik, kekerasan, penganiayaan, penyiksaan, dan sejenisnya," papar Reza.

Siklus ini semakin sulit diputus karena adanya fase penyesalan dan pemberian maaf. 

"Berhenti? Belum. Masuk ke fase keempat, muncul penyesalan, saling memberikan pemaafan, kesanggupan untuk membangun komitmen baru. Puncaknya fase kelima, bulan madu. Tapi ternyata sayangnya bulan madu bukan merupakan siklus terakhir. Berputar lagi, berputar lagi, berputar lagi, itu yang namanya trauma bonding."

Penyekapan Digital dan Manipulasi Keluarga

Kasus Taufik Hidayat ini tergolong rapi karena pelaku diduga melakukan penyekapan digital.

Dengan menguasai ponsel korban, pelaku bisa mengirimkan kabar palsu kepada keluarga agar mereka tidak merasa kehilangan.

"Pada saat alat komunikasi digitalnya sudah dikuasai oleh pihak pelaku, maka sebenarnya pelaku bisa mengirimkan pesan apa pun yang difabrikasi," kata Donny Utoyo.

"Bisa saja keluarga tidak meneruskan pelaporan kepada polisi atau bahkan mungkin mencabut karena mendapatkan pesan dari korban, dalam tanda kutip korban, bahwa 'saya baik-baik saja, saya lagi bekerja di sini'. Jadi seolah-olah keluarga menerima pesan dari korban padahal itu adalah fabrikasi dari pelaku."

Sebagai penutup, Reza Indragiri mengingatkan bahwa radar pertahanan terbaik manusia terhadap ancaman seringkali bukan logika, melainkan intuisi.

"Radar yang berada paling depan sebelum penginderaan pikiran dan perasaan aktif justru intuisi yang paling depan. Karena itu menurut saya siapapun orangnya dengar intuisinya, jangan sepelekan itu karena boleh jadi ada kekuasaan yang maha besar yang mengirimkan sinyal-sinyal kewaspadaan dan bahaya kepada kita lewat kanal intuisi itu," tegas Reza.

Pakar menyarankan masyarakat untuk tetap waspada, melakukan screening latar belakang pasangan yang dikenal lewat aplikasi kencan, dan tidak memberikan akses informasi pribadi atau perangkat digital secara cuma-cuma kepada orang baru.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.