TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Persaingan di industri pembiayaan (multifinance) memperluas pasar ke daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi untuk menangkap permintaan kredit yang terus meningkat.
Peluang tersebut didorong meningkatnya mobilitas masyarakat, bertumbuhnya kelas menengah, berkembangnya usaha kecil dan menengah (UKM), serta digitalisasi.
Deputy President Director PT Chailease Finance Indonesia, Calvin Huang, mengatakan, Kota Bandung memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan pembiayaan.
"Selain memiliki ekosistem otomotif yang berkembang dan mobilitas masyarakat yang tinggi, provinsi ini juga memiliki jutaan pelaku UMKM yang membutuhkan akses pembiayaan untuk mengembangkan usahanya," kata Calvin di pembukaan kantor cabang di Bandung, dikutip Minggu (28/6/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut menciptakan peluang pembiayaan yang tidak hanya berasal dari konsumen individu, tetapi juga sektor produktif seperti perdagangan, logistik, dan industri pendukung manufaktur.
"Ekspansi ini merupakan langkah strategis kami untuk semakin dekat dengan konsumen dan menghadirkan solusi pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang," ujarnya.
Chailease saat ini memiliki 1.300 pelanggan pembiayaan mobil bekas dan berpartner 1.200 dealer mobil bekas.
Perusahaan juga melihat pertumbuhan industri semakin bergeser ke pembiayaan kendaraan komersial, didorong oleh meningkatnya aktivitas logistik, distribusi, konstruksi, dan sektor UKM.
Selain pembiayaan kendaraan penumpang, perusahaan mengembangkan pembiayaan heavy truck dan heavy equipment untuk mendukung ekspansi pelaku usaha.
"Multifinance semakin berperan sebagai penyedia akses permodalan berbasis aset yang membantu meningkatkan produktivitas dunia usaha," katanya.
Perubahan juga terlihat pada perilaku konsumen dalam pencarian kendaraan, simulasi kredit, hingga pengajuan pembiayaan yang kini dilakukan via online.
Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), piutang pembiayaan multifinance mencapai Rp514,09 triliun per Maret 2026 atau tumbuh 0,61 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang pembiayaan modal kerja yang naik 6,15 persen, sementara rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross tetap terjaga di level 2,83 persen.
Tahun 2026 ini OJK memperkirakan piutang pembiayaan tumbuh 6-8 persen. Di sisi lain, OJK juga mencatat pembiayaan investasi turun 2,05 persen atau menjadi sebesar Rp167,75 triliun, sedangkan pembiayaan modal kerja naik 10,64 persen menjadi Rp55,22 triliun per April 2026.
Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), Ristiawan Suherman, dikutip Kontan menilai kondisi tersebut menunjukkan pelaku usaha saat ini lebih fokus menjaga kelangsungan operasional bisnis dibandingkan melakukan ekspansi usaha secara agresif.
Dia melihat kebutuhan pembiayaan modal kerja masih tumbuh kuat karena perusahaan membutuhkan likuiditas yang memadai untuk menopang aktivitas usaha sehari-hari. "Pelaku usaha saat ini membutuhkan likuiditas harian yang cukup besar untuk menjaga ritme produksi, mengamankan rantai pasok, dan memastikan arus kas tetap sehat di tengah fluktuasi pasar," ujarnya, Jumat (14/6/2026).