Kisah Komang Febri Rela Kubur Mimpi Masuk SMA demi Merawat Orang Tua di Bali, Relawan Turun Tangan
Putu Dewi Adi Damayanthi June 29, 2026 07:23 AM

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Mimpi Komang Febri melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) harus dikubur dalam-dalam. Masalah biaya hingga kondisi kesehatan orang tua menjadi alasan utama.

Kisah pilu Komang Juli Febriyanti (15) mencuat setelah diunggah oleh salah satu akun penggiat media sosial sekaligus relawan Buleleng, Ary Ulangun.

Dalam video berdurasi 1 menit 4 detik itu, tergambar jelas suasana rumah yang sangat memprihatinkan di Banjar Dinas Bangah, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.

Tampak Komang Febri duduk setia di samping sang ayah bernama Gede Sedana yang terbaring lemah di atas kasur tipis.

Baca juga: KISAH Usaha Tenun, Pesanan Meningkat, BRI Perkuat Pembiayaan Usaha Bagi Pelaku UMKM Tenun Ikat Bali!

Tubuh pria 56 tahun itu tampak sangat kurus, menunjukkan kondisi fisik yang ringkih akibat penyakit sesak napas dan penumpukan cairan di paru-paru yang dideritanya.

Sepanjang video wajah Komang Febri memancarkan kesedihan yang mendalam, terutama ketika ia sempat menutupi wajahnya karena menahan tangis saat menceritakan kondisi keluarganya.

Meski berat, ia tetap terlihat tegar dan dengan penuh kasih sayang terus memegangi tangan ringkih ayahnya.

Sebenarnya, Komang Febri sempat mendaftar sekolah namun akhirnya tidak dilanjutkan.

Penyebabnya karena ayahnya sudah tidak bisa bekerja lagi akibat sakit yang dideritanya sejak dua bulan terakhir.

Begitu pula ibunya bernama Ketut Supariati, tidak bisa bekerja secara maksimal karena merupakan penyandang disabilitas.

Kakinya mengalami cacat, sehingga hanya bisa bekerja serabutan seadanya demi bertahan hidup.

Himpitan ekonomi yang bertubi-tubi inilah yang akhirnya memaksa Komang Febri merelakan kesempatan sekolahnya.

Sebenarnya Komang Febri sangat bersemangat dan siap kembali ke bangku sekolah apabila ada orang yang sanggup membiayai pendidikannya.

Video viral Komang Febri telah ditindaklanjuti Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Buleleng pada Kamis (25/6) siang.

Pihak Dinsos P3A telah mendatangi Gede Sedana yang dirawat di Rumah Sakit Umum Karya Dharma Husada (KDH) Singaraja dan bertemu dengan Ketut Supariati di rumahnya.

“Informasinya, sakit yang bersangkutan cukup kronis, TBC dengan jantung. Saat ini sedang dirawat di ruang isolasi. Jadi perlu perawatan perhatian khusus dari tim medis,” ujar Kepala Dinsos P3A Buleleng, I Putu Kariaman Putra, Jumat (26/6).

Dari hasil asesmen, keluarga Sedana sudah mendapat program dari pemerintah.

Mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) termasuk merupakan penerima JKN KIS PBI APBD.

“Jadi, pemerintah sudah hadir untuk bisa memberikan dukungan baik itu kelangsungan kehidupannya maupun kesehatan,” ucapnya.

Terkait keterbatasan ekonomi keluarga yang berdampak terhadap kelangsungan pendidikan Komang Febri, Dinsos P3A sempat menawarkan agar Komang melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat jenjang SMA/SMK.

Menurutnya, apabila memilih Sekolah Rakyat, seluruh kebutuhan pendidikan akan ditanggung pemerintah, termasuk fasilitas asrama.

Namun, Komang memilih tetap bersekolah di dekat rumah agar bisa membantu merawat kedua orang tuanya.

Pilihannya jatuh ke SMKN 1 Sukasada di Desa Sambangan.

“Karena pertimbangan kasihan sama orang tua, yang bersangkutan maunya sekolah yang dekat rumahnya, di SMKN 1 Sukasada. Dari Dinsos sudah memfasilitasi untuk didaftarkan,” kata Kariaman.

Perjuangan Komang juga mendapat perhatian dari kalangan pemerhati sosial.

Kariaman mengungkapkan, relawan telah berkomitmen membantu biaya pendidikan Komang hingga lulus sekolah.

Tak hanya itu, relawan juga akan memberikan bantuan berupa satu unit sepeda motor untuk memudahkan Komang berangkat ke sekolah.

Penyerahan kendaraan itu dijadwalkan dilakukan pekan depan karena saat kunjungan Dinsos, Komang sedang tidak berada di rumah.

“Untuk kelangsungan sekolah juga dari pemerhati sosial sudah siap membantu biaya sekolah sampai tamat. Kemudian ada bantuan sepeda motor untuk operasional ke sekolah,” ujarnya.

Dengan berbagai bantuan tersebut, Kariaman berharap Komang dapat kembali mengejar cita-citanya tanpa lagi terbebani persoalan biaya pendidikan.

“Permasalahan karena keterbatasan ekonomi sudah bisa difasilitasi. Orang tuanya yang sakit juga sudah dirawat dengan biaya dari pemerintah daerah. Harapannya anak ini bisa sekolah dengan baik karena beban untuk kegiatan sekolahnya sudah diringankan,” pungkasnya. (muhammad fredey mercury)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.