Jordan Henderson mengakui bahwa "waktu berlalu begitu cepat" setelah mantan kapten Liverpool tersebut menorehkan namanya dalam buku sejarah selama kemenangan Inggris atas Panama di ajang Piala Dunia. Gelandang veteran itu menjadi pemain pertama dalam sejarah Timnas Inggris yang tampil di empat edisi Piala Dunia berbeda.
Momen bersejarah bagi sang pemain berpengalaman
Pemain berusia 36 tahun itu mencapai tonggak bersejarah ketika ia dimasukkan sebagai pemain pengganti di babak kedua dalam kemenangan 2-0 Inggris atas Panama. Kemenangan di Stadion New York/New Jersey itu memastikan skuad asuhan Thomas Tuchel menempati posisi teratas di Grup L, sekaligus mengamankan tiket ke babak 32 besar untuk menghadapi Republik Demokratik Kongo.
Henderson, yang kini bermain untuk Brentford, juga mencatatkan penampilan ke-91 bersama tim nasional. Selain rekor Piala Dunia tersebut, sang gelandang juga menjadi pemain Inggris pertama yang tampil di tujuh turnamen internasional besar, melampaui para legenda yang lebih dulu mengenakan seragam putih kebanggaan negaranya.
Refleksi atas karier impian
Meskipun banyak talenta muda yang bermunculan, mantan kapten The Reds itu tetap menjadi bagian penting dari skuad. Dalam wawancara dengan ITV setelah peluit akhir, Henderson merenungkan perjalanan panjang kariernya serta semangatnya yang tetap menyala untuk membela negaranya di panggung internasional.
“Waktu berlalu cepat, bukan?” ujarnya. “Sungguh luar biasa. Saya selalu mengatakan betapa terhormatnya saya dapat mewakili negara ini sejak saya melakukan debut. Bisa terus melakukannya sampai sekarang adalah mimpi yang menjadi kenyataan, dan ketika saya mendapat beberapa menit bermain serta masih bisa berlari di lapangan seperti anak kecil, rasanya sama berartinya dengan ketika saya mendapat caps pertama. Yang selalu saya coba lakukan hanyalah memberikan yang terbaik untuk negara saya, rekan setim saya, dan membuat bangsa ini bangga.”
Menjadi juara Grup L
Walau Henderson mencuri perhatian lewat pencapaian pribadinya, hasil pertandingan tersebut juga sangat penting bagi momentum tim. Gol dari Jude Bellingham dan Harry Kane cukup untuk menundukkan Panama yang beberapa kali berbahaya lewat serangan balik. Tim Tiga Singa berhasil melewati fase grup yang sulit dan melangkah ke babak gugur dengan kepercayaan diri tinggi.
Menanggapi performa tim, Henderson merasa puas dengan cara profesional mereka mengamankan kemenangan. “Rasanya menyenangkan bisa memenangkan grup, menang di pertandingan ini, dan kembali mencatatkan clean sheet, itu sangat penting,” tambahnya. “Saya pikir kami akan bisa [lebih mengontrol permainan] dan kami harus memastikan bahwa ketika itu terjadi lagi, kami bisa membuat keputusan yang lebih baik. Mengontrol pertandingan, seperti yang sudah kami lakukan dengan baik terutama di laga melawan Ghana, kami hanya perlu terus mempertahankan hal itu.”
Mengarahkan fokus ke fase gugur
Menjelang laga melawan Republik Demokratik Kongo, Henderson percaya bahwa timnya berada dalam posisi kuat untuk bersaing memperebutkan trofi utama. Ia menyoroti standar tinggi yang diterapkan di kamp pelatihan tim, serta keyakinannya bahwa skuad asuhan Tuchel masih memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya terlihat.
“Masih banyak aspek yang ingin kami perbaiki, tingkatkan, dan sempurnakan,” jelas Henderson. “Saya tetap yakin para pemain berada dalam kondisi yang sangat baik, dan sesi latihan juga berjalan luar biasa. Suasana di kamp sangat positif, dan kami hanya perlu terus mendorong diri untuk menjadi lebih baik.”