Oleh: Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- SALAH satu tantangan yang amat berat di zaman digital ini adalah kesulitan kita untuk fokus dan memusatkan perhatian. Gara-gara ponsel, perhatian kita seringkali terpecah-pecah, terfragmentasi.
Ada banyak istilah yang kini digunakan untuk menggambarkan keadaan tersebut. Ada yang disebut “multi-tasking”, yakni mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Ketika mengikuti rapat, kita diam-diam juga sibuk menjawab pesan di ponsel. Ada pula yang disebut “phubbing”, yakni melihat-lihat ponsel di tangan saat berbincang dengan orang yang tengah berhadapan dengan kita. Ada lagi “doomscrolling”, yakni menelusuri dan menyerap rupa-rupa informasi di media sosial tanpa henti.
Tentu banyak masalah yang timbul akibat tidak fokus itu. Salah satunya adalah, seperti cahaya yang redup ketika tidak fokus, begitu pula pikiran kita. Gara-gara tidak fokus, kita tidak memahami informasi yang kita terima secara baik dan mendalam. Sebaliknya, kita juga tidak bisa menyampaikan gagasan dengan jelas dan mudah dipahami oleh orang lain. Semua menjadi serba dangkal, serba di permukaan. Semua serba tanggung, serba setengah-setengah. Kita memang bisa mengerjakan banyak hal secara bersamaan, tetapi hasil yang kita dapatkan jauh dari memuaskan.
Akibat buruk lainnya adalah dari segi hubungan sosial atau hubungan antar manusia. Ketika masing-masing orang sibuk dengan ponselnya, maka yang dekat secara fisik justru menjadi jauh secara batin. Percakapan pun menjadi hambar, bahkan bisa menimbulkan salah paham. Lebih buruk lagi, jika kita sedang berbicara dengan seseorang, tapi kita tak melepaskan pandangan mata dari ponsel di tangan kita (phubbing), maka lawan bicara kita tentu akan merasa diremehkan dan diabaikan. Hubungan yang semula baik bisa berubah menjadi buruk bahkan rusak.
Selanjutnya, ketika hubungan antar manusia yang saling bertatap muka kehilangan hubungan batin, maka dia akan dihinggapi rasa kesepian. Kesepian terjadi bukan karena tidak ada teman atau orang di sekitar kita, melainkan karena tiadanya ikatan hati dan perjumpaan batin antara kita dan mereka. Meminjam ungkapan Ishak Ngeljaratan, “kita hidup bersama, tetapi tidak bersesama”. Padahal, sebagai manusia, kita sangat membutuhkan ikatan dengan orang lain. Kita lahir ke dunia ini tidak sendirian, tetapi dari orangtua kita, keluarga kita, lingkungan kita. Begitu pula hidup kita selanjutnya.
Sungguh aneh hidup di zaman digital ini. Hiburan bisa diakses kapan saja dan di mana saja, tetapi kita tetap merasa kesepian. Hal ini karena, rupa-rupa informasi yang kita serap di ponsel itu, dari yang berupa tulisan, gambar, meme, video pendek, hingga rekaman wawancara yang panjang, semua tetap tak bisa menggantikan sosok manusia yang berdarah dan daging, yang bertatap muka dan berbicara dengan kita. Citra-citra media, betapa pun miripnya dengan sosk yang asli, takkan pernah sama dengan sosok manusia yang hidup, bernafas dan raganya hadir di depan mata kita.
Salah satu yang memperparah kesepian itu adalah “doomscrolling”. Ketika pulang kerja, kita sudah cape. Kita mandi, makan dan istirahat. Untuk menghibur diri dan mengusir sepi, kita pun mengambil ponsel, membuka akun media sosial. Jari-jari kita bergerak seiring mata yang melotot dan pikiran serta perasaan yang memerhatikan. Kita bertemu satu video yang lucu, lalu kita tertawa. Namun video itu sangat pendek, sekitar 30 detik saja. Kita usap lagi layar ponsel. Ketemu lagi video yang lain. Kali ini informasi yang menyentuh emosi, rasa kasihan atas korban. Kita pun beralih lagi. Lagi dan lagi, hingga tak terasa satu jam berlalu. Badan cape, tapi mata melotot tak mau tidur!
Bagaimana mencegah semua ini? Pertama, kita harus benar-benar menyadari berbagai bahaya yang bisa menimpa kita akibat perilaku tersebut. Kesadaran ini kemudian ditingkatkan menjadi disiplin mengendalikan diri. Kita harus bisa mengontrol dan membatasi diri, kapan menggunakan ponsel dan menyimak media sosial, dan kapan tidak. Mari membiasakan bertanya pada diri sendiri, apa tujuan kita mengkases media sosial saat ini? Ingin mencari informasi tertentu, mendapatkan pendidikan, mencari hiburan, atau main-main saja? Kapan kita melakukannya, dan berapa lama?
Kedua, hubungan langsung, bertatap-muka antar sesama manusia, tetap harus kita utamakan, selama hal itu memungkinkan. Dalam pembelajaran misalnya, meskipun perjumpaan secara daring melalui media elektronik dapat dilakukan, saya kira pembelajaran tatap muka tetap lebih baik. Kaum Muslim di zaman dulu menyebutnya ‘talaqqi’ alias bertemu langsung. Begitu pula dengan hubungan-hubungan lainnya, apalagi yang bersifat personal seperti hubungan keluarga. Lebih penting lagi, kita harus benar-benar memanfaatkan pertemuan langsung itu sebagai perjumpaan lahir dan batin.
Ketiga, pengalaman hidup yang terpecah-pecah dan terpisah-pisah akibat kesulitan fokus dan perhatian pada banyak hal dalam waktu yang bersamaan, harus disembuhkan dengan pandangan hidup yang menyeluruh dan utuh. Sebagai tamsil, kita ini senantiasa sibuk dengan rupa-rupa dan jenis-jenis pohon dan hewan yang ada di dalam hutan, tetapi kita tak mampu melihat semua flora dan fauna itu sebagai satu kesatuan yang disebut hutan. Kita mabuk dalam yang banyak, tetapi lupa bahwa yang banyak dan beragam itu sesungguhnya merupakan satu kesatuan.
Pandangan hidup yang menyeluruh itu dapat ditemukan dalam agama. Jika kita tergolong orang yang beriman, maka apapun peristiwa yang terjadi, betapapun beragamnya, kita akan dapat melihatnya dalam kerangka kesatuan. Suka dan duka adalah ujian. Benar dan salah, baik dan buruk, adil dan zalim, adalah pilihan moral yang harus dipertanggungjawabkan. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ibadah, zikir, istighfar dan doa, adalah penyembuhan bagi jiwa yang sepi dan terfragmentasi itu, berdasarkan pandangan hidup yang menyeluruh tersebut. (*)