SURYA.CO.ID - Akhirnya terjawab teka-teki aktivitas Ruly Yunis Setiawati (50), Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Pemkab Bangkalan yang ditemukan tewas dalam mobil dinas yang terparkir di area Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur pada Rabu (24/6/2026).
Meski pun polisi belum mengungkap penyebab kematiannya, namun puzzle mengenai keberadaan Ruly selama meninggalkan rumah sudah mulai terjawab.
Hal ini menguatkan adanya ketidakwajaran dalam kematian perempuan asal Perum Lavender, Kelurahan Mlajah, Kota Bangkalan, Madura, Jawa Timur.
Sosok pria yang bersamanya juga menjadi sorotan luas.
Berikut kronologi aktivis Ruly selengkapnya:
Baca juga: BREAKING NEWS : Tampang Pria di Balik Kematian ASN Bangkalan Ruly Yunis kini Terbuka Jelas
Pada Kamis pagi, Ruly ke luar rumah seperti biasa.
Namun, saat itu Ruly tidak pergi ke kantor.
Hal ini dikonfirmasi Bupati Bangkalan Lukman, berdasarkan informasi dari sejumlah staf di PRKP.
Namun belum terkonfirmasi alasan ketidakhadiran di kantor.
Korban diketahui terakhir pada Rabu (15/6/2026) malam di Pendapa Agung saat acara Pisah Sambut Dandim Bangkalan.
"Malam Kamis (Rabu malam) masih ada di sini (pendapa agung) dalam kegiatan pisah sambut Pak Dandim. Sementara belum ada (kegiatan luar kota), karena sering kali kegiatan kami berkoordinasi dengan pihak provinsi. Tapi sementara secara tugas khusus, belum ada dari pihak kami," kata Lukman.
Hal serupa diungkapkan Kepala Dinas (Kadis) PRKP Pemkab Bangkalan, Roniyun Hamid.
Roniyun menegaskan, Ruly ke luar kota tidak sedang dalam perjalanan dinas. Bahkan dia tidak pamit mau ke luar kota.
"Tidak berpamitan ke luar kota, penugasan kantor juga tidak," terang Kadis PRKP Bangkalan Roniyun Hamid.
Namun, pada Kamis malam Ruly menghubungi keluarganya untuk mengabarkan sedang ada di daerah Pujon, Kabupaten Malang.
Saat itu, Ruly mengirimkan foto sedang berada di depan toko buah.
Keberadaan Ruly pada hari Jumat (19/6/2026) terungkap dari video yang beredar viral di sejumlah grup WhatsApp.
Video berdurasi 33 detik itu menyuguhkan kolase foto dan video kebersamaan Ruly bersama seorang pria.
Selain mengenakan kaca mata minus, sosok pria dalam video itu mengenakan kaos berwarna biru dengan garis tipis mencolok berwarna merah putih yang melintang penuh pada bagian dada.
"Dari kaca mata pribadi, saya cocok. Ada kesesuaian pada rambut, kaca mata, lebar dahi, kaos. Paling mencolok itu pada gagang kaca mata ada tanda kuning, apalagi kaos paling cocok," ungkap Kuasa Hukum Risang Bima Wijaya kepada sejumlah awak media.
Sosok perempuan dalam video kolase foto-foto iitu dibenarkan Risang adalah Ruly.
"Ponsel korban ada di tangan penyidik, betul itu adalah korban. Kemudian tertulis di situ Oppo A9, betul ponsel korban, diunggahnya tanggal 19 Juni 2026, berarti hari Jumat dan lokasinya di Alun-alun Kota Batu," jelas Risang.
Kondisi ini sesuai dengan fakta bahwa pada Jumat malam Ruly sempat menghubungi keluarganya.
Kendati demikian, lanjutnya, pihaknya selaku kuasa hukum dari keluarga almarhumah Ruly tidak bisa menyatakan bahwa sosok pria dalam video tersebut merupakan pria misterius atau terduga pelaku atas pekara tewasnya Ruly.
"Kalau saya pribadi kaos cocok, tapi saya tidak bisa mengatakan pria itu pelakunya sebelum orang itu ditangkap dan mengatakan, betul bahwa ia pelaku dan apa motifnya," pungkas Risang.
Pada Sabtu pagi, Ruly masih sempat menghubungi suaminya.
Namun, setelah itu Ruly tidak bisa dihubungi lagi.
Saat itu lah diduga peristiwa yang merengut nyawa Ruly terjadi.
Hal ini diperkuat dengan rekaman CCTV di loket parkir Bandara Juanda.
Dari CCTV itu terpantau mobil dinas tempat Ruly ditemukan tewas, masuk ke area bandara.
Tampak seorang pria mengenakan masker wajah di kursi kemudi, sementara jok depan sisi kiri posisinya direbahkan.
"Ternyata ada (sopir) yang membawa masuk, ada orang lain dari kursi pengemudi yang mengambil tiket. Jok depan kiri direbahkan, di situ tempat duduk jenasah dalam posisi kaki menekuk," jelas Risang.
Risang menduga Ruly dibawa ke Bandara Juanda sudah dalam keadaan meninggal dunia.
"Dugaan kami, Ibu Ruly saat dibawa masuk ke bandara sudah dalam keadaan meninggal. Jadi memang sengaja dibawa masuk dan dibuang di bandara bersama mobilnya. Wajah sopir pakai masker pada CCTV loket parkir masuk bandara, tetapi wajah (sopir) nya jelas di CCTV saat berada di Malang," ungkapnya.
Dugaan Risang diperkuat hasil visum pada jenazah Ruly.
Dari hasil visum yang dilakukan tim forensik, diduga saat ditemukan itu korban sudah meninggal sekira dua sampai tiga hari.
Hal ini yang membuat tubuhnya sudah membengkak alias mengalami pembusukan hingga mengeluarkan bau tidak sedap.
Pada Rabu, jasad Ruly ditemukan di dalam mobil dinas M 1090 GP yang terparkir di Bandara Juanda, Sidoarjo.
Jasad Ruly ditemukan dalam kondisi tubuh tampak membengkak dan bagian perut terlihat membesar.
Penemuan jasad ini setelah sejumlah warga driver taksi mencium bau tidak sedap dari dekat mobil yang terparkir di jalur menuju terminal 1 Bandara Juanda.
Ketika didekati dan dilihat melalui kaca jendela, ternyata ada seorang perempuan berada di dalam mobil dalam kondisi tidak bergerak.
Proses evakuasi terhadap korban yang berada di dalam mobil itu berlangsung cukup sulit karena posisi korban berada di dalam kabin mobil yang sempit.
Petugas harus membuka akses secara hati-hati agar tidak mengubah kondisi di lokasi kejadian maupun barang bukti.
Evakuasi yang juga melibatkan tim Basarnas Surabaya itu butuh waktu sekira 30 menit sebelum jenazah berhasil dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dari hasil pemeriksaan diduga Ruly meninggal tidak wajar.
Hal ini setelah hasil visum terhadap perempuan 50 tahun itu ditemukan luka robek pada telinga kiri yang diduga akibat benturan atau kekerasan benda tumpul.
Selain itu, visum yang dilakukan tim forensik rumah sakit Bhayangkara di Porong, Sidoarjo tersebut juga menemukan pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput lendir kelopak mata korban.
Sedangkan terkait kondisi perut korban yang membesar, diduga akibat proses pembusukan jenazah.
Karena dari hasil pemeriksaan memang seluruh organ tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda pembusukan.
“Perut yang membesar itu bukan karena kehamilan. Tapi akibat proses pembusukan pada jenazah,” kata Ketua Tim Humas RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, AKBP Ni Made Wiatini, Kamis (25/6/2026).
Sementara itu, kuasa hukum keluarga, Risang Bima Wijaya menyebut kemungkinan Ruly sudah meninggal di luar lalu dibuang ke bandara Juanda.
Risang juga membeberkan dua kemungkinan atas peristiwa meninggalnya ibu Ruly dalam mobil dinas operasional PRKP Pemkab Bangkalan.
Pertama, kematian wajar bisa dimungkinan dengan serangan jantung dan meninggal dunia.
Kemungkinan kedua, lanjut Risang, ada suatu hal dengan kematian tidak wajar seperti dibunuh atau seperti apa dan dibuang di Bandara Juanda.
"Tetapi kalau persitiwa pidana sudah pasti ada karena orang yang menyetir almaruhumah pasti tergambar di CCTV tiket Bandara Juanda. Mobil masuk bandara pada Sabtu (20/6/2026) pukul 16.00 WIB. Kemungkinan korban meninggal dunia di luar, jadi ke bandara hanya untuk dibuang," beber Risang.
Untuk keperluan penyelidikan, sejumlah barang milik Ruly telah disita pihak kepolisian untuk dijadikan barang bukti.
Mulai dari KTP, handphone, dompet, hingga gambar CCTV sudah berada di pihak penyidik.
"Barang yang tidak ditemukan, tetapi belum tentu hilang atau belum tentu diambil, adalah gelang dan kalung, tidak ada di leher dan lengan tangan. Bisa jadi itu sudah dimasukkan tas," pungkasnya.