TRIBUN-TIMUR.COM – Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Sulawesi Selatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan Musyawarah Pengurus sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kegiatan yang mengusung tema "Penguatan Sinergi Multipihak dalam Konservasi Tanah dan Air untuk Mewujudkan Ketahanan Lingkungan di Sulawesi Selatan" tersebut berlangsung di Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, Sabtu (27/6/2026).
Pelaksanaan kegiatan merupakan hasil kolaborasi MKTI Sulawesi Selatan bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jeneberang Saddang, serta Dewan Kehutanan Nasional (DKN).
Forum ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi profesi, hingga pemerhati lingkungan.
Ketua Panitia FGD, Dr. Ir. Hasanuddin Molo, S.Hut., ST., M.P., IPM., C.EIA, mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat sinergi multipihak dalam mendukung konservasi tanah dan air di Sulawesi Selatan.
Menurutnya, forum tersebut juga menjadi wadah untuk mengidentifikasi berbagai isu strategis dan tantangan pengelolaan lingkungan, merumuskan rekomendasi kebijakan serta program kerja organisasi, sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam mendukung upaya konservasi.
"FGD ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi acuan bersama dalam memperkuat pengelolaan konservasi tanah dan air secara berkelanjutan," ujarnya.
Sementara itu, Ketua MKTI Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Ir. H. Yusran Jusuf, M.Si., IPU, menegaskan pentingnya menjaga kelestarian tanah sebagai fondasi kehidupan.
Ia menyampaikan bahwa sekitar 95 persen kebutuhan pangan manusia bergantung pada tanah. Selain itu, tanah juga menyediakan 15 dari 18 unsur kimia penting yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang.
"Kualitas tanah sangat menentukan keberlanjutan kehidupan. Karena itu, konservasi tanah dan air harus menjadi perhatian bersama," katanya.
FGD menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintah, akademisi, dan praktisi, di antaranya Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan sekaligus Ketua DKN Pusat Dr. Ir. Mahfudz, M.P., Kepala BBKSDA Sulawesi Selatan Ir. Hasnawir, S.Hut., M.Sc., Ph.D, Kepala BPDAS Jeneberang Saddang Abdul Aziz, S.Hut.T., M.Sc., Ketua MKTI Sulsel Prof. Yusran Jusuf, Tim Pakar Konservasi Tanah dan Air Prof. Dr. Ir. Hazairin Subair, MS, serta Anggota DKN Pusat Dr. Abd. Rahman Nur, S.H., M.H.
Selain FGD, MKTI Sulawesi Selatan juga menggelar Musyawarah Pengurus yang membahas penguatan kelembagaan, pengembangan keanggotaan, penyusunan program kerja periode 2026–2027, serta penetapan sejumlah rekomendasi strategis bagi organisasi.
Melalui forum tersebut, MKTI Sulawesi Selatan berharap sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat semakin kuat dalam mendukung konservasi tanah dan air demi mewujudkan ketahanan lingkungan yang berkelanjutan di Sulawesi Selatan.(*)