SURYA.CO.ID SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI Tahun 2026 menjadi pemimpin transformatif yang mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Menurutnya, kepemimpinan sejati tidak cukup hanya mengelola birokrasi, tetapi harus mampu menggerakkan perubahan yang berdampak nyata.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat menerima rombongan peserta PKN Tingkat I Angkatan LXVI Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (29/6/2026) malam.
Kegiatan yang menjadi bagian dari proses pembelajaran strategis LAN RI itu diikuti para pejabat pimpinan tinggi dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah sebagai upaya memperkuat kapasitas kepemimpinan nasional.
Khofifah menegaskan peserta PKN Tingkat I merupakan sosok-sosok yang dipersiapkan menjadi pemimpin strategis di berbagai institusi negara dengan tanggung jawab yang semakin besar pada masa mendatang.
Baca juga: Gubernur Khofifah Jadi Responden Sensus Ekonomi 2026, Sentil Biar Gak Salah Sasaran Bansos
“Peserta PKN I Angkatan LXVI bukan sembarang orang, ada calon jenderal, calon menteri bahkan calon sekda. Pemimpin dituntut tidak hanya mampu menjalankan fungsi administratif, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Bapak-Ibu semua adalah pemimpin,” ujar Khofifah.
Ia menilai tantangan yang dihadapi pemimpin saat ini semakin kompleks sehingga dibutuhkan kemampuan berinovasi, membangun kolaborasi, sekaligus menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
“Pemimpin tidak hanya dituntut mampu menjalankan fungsi administrasi pemerintahan, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat,” katanya.
Sebagai ilustrasi kepemimpinan transformatif, Khofifah menyinggung sosok mantan Presiden Iran Mohammad Khatami. Menurutnya, Khatami mampu mendorong perubahan melalui pembangunan kesadaran publik meski berada di tengah keterbatasan regulasi.
Khofifah menjelaskan, Khatami membangun transformasi pemikiran melalui diseminasi nilai-nilai keagamaan yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang saling menghormati, melindungi, dan bekerja sama.
Baca juga: PKS Jatim Luncurkan Trainer Akademi Pemimpin Indonesia, Perkuat Kaderisasi
“Pada masa itu tidak ada anggota parlemen perempuan di Iran. Jadi memang harus sesuatu yang bersifat transformatif yang diinisiasi dan dieksekusi oleh kepala pemerintahan dan itu adalah Presiden Khatami,” terangnya.
Menurut Khofifah, kepemimpinan transformatif lahir dari kemampuan seorang pemimpin membangun kesadaran kolektif, memengaruhi cara pandang masyarakat, sekaligus membuka ruang perubahan ketika kebijakan formal belum mampu menjawab tantangan.
“Menurut saya beliau adalah pemimpin transformatif. Mereka yang mampu menemukan jalan perubahan di tengah keterbatasan. Ketika regulasi sulit ditembus, dibutuhkan pendekatan yang mampu membangun kesadaran dan perspektif baru di masyarakat,” tegasnya.
Khofifah berharap seluruh peserta PKN Tingkat I terus meningkatkan kapasitas kepemimpinan sehingga mampu menghadirkan kebijakan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Bapak-Ibu semua adalah pemimpin dan insya Allah makin tinggi tingkat kepemimpinan dan amanah yang diembannya usai mengikuti PKN I ini,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak pernah dicapai secara individual. Sinergi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi fondasi penting dalam menghasilkan kebijakan yang efektif dan berkelanjutan.
“Maka bagaimana kemudian kita bisa membangun perspektif di antara seluruh yang terkait dengan policy yang kita ambil. Tidak ada sukses kalau kita berjalan sendiri. Kita sukses karena kita bersama-sama,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN RI Tri Widodo Wahyu Utomo mengapresiasi komitmen Khofifah dalam mendukung peningkatan kualitas aparatur sipil negara melalui pengembangan kepemimpinan yang berkesinambungan.
“Ibu Gubernur Khofifah sosok kepala daerah yang memiliki kepedulian dan komitmen luar biasa terhadap pengembangan kapasitas ASN. Beliau sadar betul, kepemimpinan harus dibangun secara berkesinambungan,” kata Tri.
Ia menambahkan, dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terlihat dari prestasi peserta asal Jawa Timur yang kerap meraih hasil terbaik dalam penyelenggaraan PKN Tingkat I.
“Maka komitmen itu bersambut, siapapun yang dikirim mengikuti PKN I mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh. Bukti kesungguhannya adalah teman-teman Jawa Timur sering mendominasi, bahkan menjadi lima terbaik. Terima kasih atas dukungan Ibu terhadap program pengembangan kapasitas pimpinan,” imbuhnya.