Peternak Blitar Jual Telur Murah di Depan Kantor Bupati, Berharap Ada Pembatasan Budidaya
Titis Jati Permata June 29, 2026 11:32 AM

 

SURYA.co.id, BLITAR – Suasana di depan Kantor Bupati Blitar, Kanigoro, Senin (29/6/2026), mendadak berubah menjadi pasar dadakan.

Sesaat setelah apel pagi selesai, ratusan pegawai negeri sipil (PNS) berbondong-bondong membeli telur yang dijual langsung oleh para peternak rakyat dengan harga Rp20.000 per kilogram.

Aksi jual telur murah itu bukan sekadar menawarkan harga di bawah pasar.

Suarakan Kondisi Harga Telur

Para peternak memanfaatkannya sebagai cara menyuarakan kondisi harga telur di tingkat kandang yang terus merosot, sekaligus memangkas panjangnya rantai distribusi.

Dengan menggunakan mobil pikap dan mobil penumpang, para peternak membuka lapak di pinggir jalan depan Kantor Bupati Blitar.

Sebanyak 10 armada membawa sekitar 2 hingga 3 kuintal telur per kendaraan untuk dijual langsung kepada masyarakat.

Menarik Simpati Pembeli

Seorang PNS, Mutiara, mengaku sengaja datang setelah mendapat informasi mengenai penjualan telur murah tersebut.

"Kemarin ada info, setelah apel ada peternak jual telur murah di depan Kantor Bupati Blitar. Akhirnya saya belanja sekalian. Ini tadi beli 2 kilogram," kata Mutiara.

Selain karena lebih murah dibanding harga di pasaran yang masih berkisar Rp 24.000-Rp 25.000 per kilogram, aksi tersebut juga menarik simpati pembeli.

PNS lainnya, Lina, mengaku membeli telur sekaligus sebagai bentuk dukungan kepada peternak rakyat yang sedang menghadapi penurunan harga.

"Ini juga untuk membantu para peternak rakyat agar harga telur bisa naik. Harga telur di peternak terus turun," ujarnya.

Peternak Pangkas Rantai Distribusi

Perwakilan peternak, Suyanto, mengatakan penjualan langsung kepada masyarakat merupakan inisiatif peternak untuk mendekatkan produk ke konsumen sekaligus mengurangi kesenjangan harga antara kandang dan pasar.

Menurutnya, harga telur di tingkat peternak sempat terpuruk di kisaran Rp15.000-Rp16.000 per kilogram. Sementara di pasar, harga masih bertahan di kisaran Rp24.000-Rp25.000 per kilogram.

"Harga telur di kandang dan di pasar jaraknya masih jauh. Maka itu, kami inisiatif dengan teman-teman memberikan harga yang pantas kepada masyarakat, yaitu, Rp20.000 per kilogram," katanya.

Suyanto menyebut kondisi tersebut membuat para peternak mulai belajar tidak hanya memproduksi telur, tetapi juga memasarkannya langsung kepada konsumen.

Dengan cara itu, mereka berharap selisih harga antara kandang dan pasar dapat dipangkas sehingga peternak memperoleh harga yang lebih layak, sementara masyarakat tetap mendapatkan telur dengan harga terjangkau.

"Ini tadi ada 10 armada, masing-masing membawa sekitar 2 kuintal sampai 3 kuintal telur," ujarnya.

Produksi Melimpah, Serapan Belum Seimbang

Suyanto menjelaskan anjloknya harga dipicu melimpahnya produksi akibat populasi ayam petelur yang terus bertambah, sementara permintaan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang signifikan.

"Harapan kami ada pembatasan budidaya. Budidaya kami berlebih, produksi kami sudah di angka 20 persen dari biasanya," katanya.

Ia juga menilai serapan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum mampu menjadi penyeimbang produksi telur di Kabupaten Blitar.

"Sedang program MBG hanya menyerap sekitar 3 persen dari produksi telur di Blitar," lanjutnya.

Saat ini, populasi ayam petelur di Kabupaten Blitar mencapai sekitar 39 juta ekor dengan kapasitas produksi sekitar 1.500 ton telur per hari.

Kondisi tersebut membuat pasokan melimpah, sementara harga di tingkat peternak terus tertekan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.