Akademisi: Menjadi Manajer Koperasi Tidak Perlu Dilatih dengan Model Militer
Dewi Agustina June 29, 2026 02:34 PM


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Polemik pelatihan dasar militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) terus menuai kritik setelah meninggalnya lima peserta selama mengikuti program tersebut.

Pengamat politik sekaligus akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun, menilai pendekatan pelatihan bergaya militer tidak relevan dengan kebutuhan kompetensi seorang manajer koperasi.

Baca juga: Komnas HAM Minta Ada Proses Hukum atas Kematian 5 Peserta Latsarmil Calon Manajer KDMP

"Menjadi manajer koperasi tidak perlu dilatih dengan model militer. Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami koperasi, kepemimpinan, manajerial, dan kemampuan bekerja dalam tim," kata Ubedillah kepada Tribunnews, Senin (29/6/2026).

Ubedillah menilai kebijakan pelatihan calon manajer koperasi dengan pendekatan militer sebaiknya dihentikan karena substansi perkoperasian justru tidak terlihat dominan dalam program tersebut.

Menurutnya, nuansa militer dalam pelatihan lebih menonjol dibanding materi yang berkaitan langsung dengan pengelolaan koperasi.

 

 

"Apalagi pelatihan model militer tersebut telah menelan korban jiwa," ujarnya.

Lebih lanjut, Ubedillah menegaskan bahwa kebutuhan utama calon manajer koperasi sebenarnya dapat dipenuhi melalui pendidikan dan pelatihan profesional yang dirancang khusus sesuai karakteristik dunia koperasi.

Dia menyebut materi seperti tata kelola koperasi, kepemimpinan organisasi, pengelolaan usaha, hingga penguatan kerja sama tim jauh lebih relevan dibanding latihan dasar kemiliteran.

"Untuk memenuhi kebutuhan substantif tersebut hanya diperlukan semacam pelatihan profesional manajer koperasi yang dapat diselenggarakan oleh institusi profesional," tandas Ubedillah

Lima Calon Manajer Kopdes Meninggal

Kementerian Pertahanan mencatat korban jiwa dalam pelatihan manajer Kooperasi Desa Merah Putih atau Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) menjadi lima orang.

Keterangan tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Mayjen Ketut Gede Wetan Pastia dalam keterangan pers di Balai Media Kemhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Ketut Gede mengatakan Kementerian Pertahanan sudah melakukan penanganan medis secara sesuai prosedur. 

Terkait musibah tersebut, Kementerian Pertahanan menyampaikan bela sungkawa terhadap korban-korban jiwa yang meninggal dunia dalam pelatihan kali ini.

Para korban meninggal dunia saat melakukan Latihan Dasar Militer (Latsarmil).

Hingga kini total calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang meninggal dunia saat melakukan Latsarmil menjadi lima orang.

Berdasarkan data Kemhan, lima peserta yang meninggal dunia adalah:

  • Yonanda Muhammad Taufiq akibat cardiac arrest
  • Anisa Muyassaroh karena heat stroke
  • Novia Rahmadhani Sihotang akibat komplikasi tuberkulosis (TB)
  • Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, mengalami sesak napas saat mengikuti latihan
  • Nola Diasari, mengalami sesak napas saat mengikuti latihan.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.