GIAMM Ungkap Industri Komponen Otomotif Nasional Tak Lagi Andalkan Pasar Domestik
Seno Tri Sulistiyono June 29, 2026 02:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri komponen otomotif Indonesia dinilai terus menunjukkan ketahanan di tengah dinamika industri global.

Kinerja ekspor yang meningkat, pertumbuhan produksi kendaraan, hingga dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor yang memperkuat posisi industri ini di rantai pasok otomotif dunia.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki mengatakan, industri komponen otomotif Indonesia kini tidak lagi hanya berorientasi memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari jaringan pasok global dengan tujuan ekspor ke berbagai negara.

Baca juga: Industri Komponen Bela Kemenperin, Sebut Regulasinya Berhasil Perkuat IKM Otomotif

"(Industri komponen otomotif) fase lagi bisa ekspor ke mana-mana. Jadi sebagai global supply chain," tutur Rachmat melalui keterangan resmi, Senin (29/6/2026).

Rachmat menjelaskan, keterlibatan dalam rantai pasok global menuntut industri komponen nasional untuk terus meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas menjadi salah satu faktor utama agar mampu bersaing dengan produsen dari berbagai negara.

Menurutnya, berbagai program pembinaan yang dijalankan Kementerian Perindustrian, termasuk penerapan konsep Industri 4.0, telah membantu perusahaan meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Pelatihan yang diberikan pemerintah juga dinilai memudahkan pelaku industri beradaptasi dengan perkembangan teknologi manufaktur.

GIAMM juga mengapresiasi langkah pemerintah saat pandemi Covid-19 yang tetap mengizinkan industri komponen beroperasi dengan penerapan protokol kesehatan.

Kebijakan tersebut dinilai mampu menjaga kelangsungan produksi sehingga pasokan ke rantai industri global tidak terganggu.

Selain itu, berbagai stimulus yang diberikan pemerintah kepada industri kendaraan bermotor turut memberikan dampak positif terhadap sektor komponen.

Meningkatnya penjualan kendaraan membuat kebutuhan komponen tetap terjaga sehingga aktivitas produksi di sektor hulu terus berjalan.

"Sehingga industri roda empat kan naik. Dengan naiknya industri roda empat ini, otomatis supply komponennya akan tetap jalan. Hal-hal seperti itu juga penting," ungkap Rachmat.

Berdasarkan data GIAMM, industri otomotif roda empat mencatat pertumbuhan 14 persen secara tahunan (year on year) hingga kuartal I 2026.

Kinerja tersebut ikut menopang utilisasi industri komponen, ditambah permintaan dari sektor kendaraan roda dua yang masih relatif stabil.

Lebih lanjut, Rachmat mengatakan pemerintah juga terus mendorong transformasi industri komponen menuju era kendaraan rendah emisi melalui implementasi program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), baik untuk kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE), hybrid, maupun kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).

Program tersebut juga diarahkan untuk memperdalam struktur industri nasional melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditargetkan mencapai 80 persen secara bertahap.

Menurutnya, berbagai regulasi yang diterbitkan Kementerian Perindustrian turut membuka jalan bagi industri komponen Indonesia agar semakin terintegrasi dengan rantai pasok global.

"Pemerintah selalu nge-trigger kita dengan peraturan-peraturan supaya kita bisa masuk ke arah global supply chain," ujarnya.

GIAMM mencatat, sepanjang 2025 nilai ekspor komponen otomotif Indonesia telah melampaui 7 miliar dolar AS dengan tujuan lebih dari 100 negara. Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan dan negara-negara ASEAN menjadi pasar utama produk komponen otomotif nasional.

Untuk memperluas pasar internasional, GIAMM akan memanfaatkan pameran Automechanika Jakarta 2026 sebagai ajang promosi kemampuan industri komponen dalam negeri kepada calon pembeli global.

"Kita pun berinisiatif mengenalkan produk-produk kita lewat pameran Automechanika 2026 di Indonesia. Itu juga didukung penuh sama Kemenperin," ucapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.