Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Rusak parahnya akses jalan Nasional Takengon-Birueun pascabencana hidrometeorologi disebut menjadi salah satu penyebab hancurnya sektor pariwisata dan perhotelan di Kawasan Dataran Tinggi Gayo, khususnya Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Kondisi infrastruktur yang ekstrem dan jembatan yang rusak parah membuat wisatawan dirundung rasa takut, sehingga memilih membatalkan niat mereka untuk berlibur ke Takengon.
Dampaknya, tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel dan penginapan di seputar Danau Lut Tawar terjun bebas.
Lesunya perekonomian ini memaksa para pelaku usaha akomodasi "menjerit" dan mendesak ketegasan instansi pemerintah terkait untuk segera memprioritaskan pemulihan akses jalan menuju Aceh Tengah.
Kondisi memprihatinkan ini salah satunya diutarakan oleh Mihada Pengelola Dipo Penginapan yang berlokasi di Kawasan Petambatan Perahu, Lot Kala, Kebayakan, Aceh Tengah.
Berdasarkan perbincangan langsung dengan segelintir wisatawan yang nekat datang ke tempatnya, faktor utama sepinya kunjungan murni karena urusan nyawa dan keselamatan di jalan.
"Saya tanya ke beberapa pengunjung yang datang, mereka sebenarnya antara berani dan tidak berani karena faktor akses jalan.
Setelah sampai di sini mereka bercerita kalau awalnya sangat ragu-ragu mau lewat.
Cuma karena tekadnya sudah bulat ingin berlibur ke Takengon, akhirnya mereka paksakan lewat juga," ungkap Mihada,
Menurut Mihada, ketakutan wisatawan sangat beralasan.
Sejak bencana melanda sekitar enam hingga tujuh bulan lalu, wajah infrastruktur menuju Aceh Tengah belum sepenuhnya pulih.
"Banyak jembatan-jembatan yang rusak dan akses jalan yang hampir putus.
Jalur lintas KKA maupun jalur Bireuen-Takengon itu adalah urat nadinya ekonomi kami.
Jadi kalau seumpamanya aksesnya bagus, mudah-mudahan pengunjung akan kembali lagi.
Walaupun tidak langsung pulih 100 persen, minimal ada peningkatan dari kondisi yang terpuruk sekarang ini," keluhnya.
Akibat ketakutan massal wisatawan terhadap kondisi akses jalan tersebut, Dipo Penginapan yang berada pas di pinggir danau ini terpaksa gigit jari tanpa pemasukan selama berbulan-bulan.
Bencana yang datang tepat sebelum pergantian tahun baru kemarin seketika memotong rantai rezeki para pengusaha akomodasi.
"Sebelum tahun baru, dengan kuasa Allah, datang bencana.
Jadi setelah bencana, bisa dikatakan 100 persen terus tidak ada kunjungan, tidak ada yang berkunjung, apalagi menginap.
Di momen libur besar seperti Idulfitri dan Iduladha kemarin juga sama saja, kosong tidak ada masukan.
Semenjak bencana ini sepi, kalaupun ada paling cuma satu atau dua rombongan saja," kata Mihada pilu.
Kondisi ini berbanding terbalik 180 derajat dengan situasi sebelum infrastruktur jalan dihantam bencana.
Dulu, jangankan hari libur nasional, pada akhir pekan biasa pun penginapan di Takengon selalu penuh sesak.
"Sebelum terjadinya bencana, hari Sabtu itu minimal terisi satu atau dua kamar. Tapi kalau sudah hari besar, penuh.
Bahkan semua penginapan di sekitar sini penuh semua, sampai ada wisatawan yang terpaksa menginap di menara masjid karena tidak kebagian tempat. Perbandingannya sangat jauh sekali," tambahnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh pengelola Bie Homestay yang berlokasi di Kawasan Kala Lengkio, Kecamatan Kebayakan.
Akibat kondisi jalan yang belum menentu dan cuaca yang sering diguyur hujan, pola perilaku wisatawan kini berubah total karena enggan mengambil risiko.
"Kebanyakan wisatawan yang hendak datang sekarang harus menanyakan situasi jalan dan cuaca terlebih dahulu sebelum berangkat.
Mereka tidak berani lagi memesan kamar (booking) jauh-jauh hari karena takut jalanan putus atau longsor di tengah jalan," ujar Larka Manajemen Bie Homestay.
Dampak dari sepinya pemesanan kamar ini membuat Bie Homestay terpaksa merumahkan sebagian besar karyawannya demi bertahan hidup.
Dari total sepuluh kamar yang mereka miliki, kini rata-rata hanya satu atau dua kamar saja yang terisi.
Para pelaku usaha pariwisata di Aceh Tengah kini hanya bisa berharap pemerintah daerah maupun provinsi tidak menutup mata.
Pemulihan sektor wisata Gayo tidak akan pernah tercipta selama jalan dan jembatan utama yang menjadi akses jalan penghubung utama dibiarkan tanpa penanganan yang cepat dan serius. (*)
Baca juga: Pesona Jiva Takengon dan Rekomendasi 4 Wisata Hits di Aceh Tengah Wajib Dikunjungi
Baca juga: Lukup Badak Jadi Wisata Air Terpopuler, Aceh Tengah Sabet Dua Penghargaan di API Awards
Baca juga: Objek Wisata Baru di Aceh Tengah, "Sebatas Embun" Tawarkan Keindahan Sunrise dan Lautan Awan