Suarakan Isu Kesehatan Mental, Remaja Angkat Fenomena Kesurupan Massal & Tekanan Akademik Lewat Film
Joko Widiyarso June 29, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Isu kesehatan mental di kalangan remaja semakin mendapat perhatian. Namun, alih alih hanya menjadi objek kampanye, kini para pelajar mulai mengambil peran sebagai penyampai pesan melalui karya kreatif yang lahir dari pengalaman mereka sendiri.

Upaya tersebut terlihat dalam peluncuran dua film pendek bertajuk Histeria Kolektif dan Di Balik Nilai Merah yang digelar Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) melalui Program ASIK atau Asik Sehat Jiwa Kontribusi dari Orang Muda di Auditorium IFI Yogyakarta pada Sabtu (27/6/2026) kemarin.

Kedua film diproduksi oleh siswa SMA Negeri 1 Seyegan sebagai media edukasi untuk mengajak masyarakat melihat persoalan kesehatan mental dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan remaja.

Project Officer Program ASIK PRYAKKUM, Vina Umi, mengatakan pemilihan film sebagai media kampanye bukan tanpa alasan.

Menurutnya, generasi muda saat ini lebih akrab dengan konten visual sehingga pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima dibandingkan melalui bacaan ilmiah.

Anak muda sekarang memiliki banyak pilihan media yang mereka akses setiap hari. Film menjadi media kreatif yang lebih menarik sehingga pesan tentang kesehatan mental bisa lebih mudah dipahami dan dirasakan," ujarnya.

Ia menjelaskan, kedua film lahir dari proses diskusi para siswa mengenai persoalan yang mereka temui di lingkungan sekolah. Karena berangkat dari pengalaman nyata, cerita yang diangkat pun terasa dekat dengan kehidupan remaja.

Film Histeria Kolektif dikemas dalam format dokumenter yang mengulas fenomena kesurupan massal di sekolah dari sudut pandang psikologi.

Film tersebut mengajak masyarakat untuk melihat bahwa peristiwa tersebut tidak selalu berkaitan dengan hal mistis, tetapi juga dapat dipicu tekanan psikologis, kelelahan, stres, hingga kepanikan yang menyebar.

Kesurupan massal sering disalahartikan

Bilqis, anggota Tim Lotus yang memproduksi film tersebut, mengatakan timnya sengaja memilih tema itu karena fenomena kesurupan massal masih sering disalahartikan.

"Kami memilih isu histeria kolektif karena selama ini kesurupan massal selalu dikaitkan dengan hal gaib. Padahal belum tentu. Bisa berawal dari kepanikan yang menular, kelelahan, stres, overthinking, atau tekanan yang dialami siswa," ujarnya.

Sementara itu, film Di Balik Nilai Merah mengangkat kisah seorang siswa yang terus menerima stigma akibat nilai akademiknya rendah.

Film ini mengajak guru, orang tua, dan masyarakat untuk memahami bahwa nilai bukan satu satunya ukuran kemampuan maupun kondisi seorang anak.

Riantika dari Tim Aerox mengatakan film tersebut lahir dari keprihatinan terhadap masih adanya kecenderungan menghakimi siswa hanya berdasarkan prestasi akademik.

Kami ingin menyadarkan bahwa guru tidak seharusnya menghakimi murid hanya karena nilainya jelek.

Banyak siswa yang sebenarnya sedang berjuang menghadapi tantangannya sendiri. Ada cerita lain di balik nilai yang mereka dapatkan," katanya.

Solusi kesehatan mental

Manajer Program Rehabilitasi PRYAKKUM, Christian Pramudya, mengatakan persoalan kesehatan mental remaja tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu pihak. 

Menurutnya, sekolah, keluarga, komunitas, hingga remaja sendiri harus dilibatkan dalam upaya promotif dan preventif.

Kita butuh menguatkan partisipasi remaja dalam persoalan kesehatan mental. Film ini menjadi ruang bagi siswa untuk menyuarakan keresahan mereka sekaligus mengedukasi teman sebayanya," ujarnya.

Selain peluncuran film, PRYAKKUM juga memperkenalkan Buku Saku Sehat Mental Remaja dan Orang Muda yang disusun bersama organisasi REMISI.

Buku tersebut memuat pengetahuan dasar mengenai kesehatan mental, pengelolaan emosi, lembar refleksi diri, hingga panduan kapan seseorang perlu mencari bantuan profesional.

Vina menjelaskan, buku tersebut juga menjadi upaya meningkatkan literasi kesehatan mental di tengah maraknya fenomena self diagnosis yang berkembang melalui media sosial.

Cari info di media sosial

Banyak remaja mencari informasi kesehatan mental dari media sosial lalu langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan tertentu. 

Padahal diagnosis tidak bisa dilakukan sendiri. Buku ini hadir sebagai sumber literasi yang lebih tepat dan dapat dipertanggungjawabkan," jelasnya.

Ia menambahkan, Program ASIK tidak hanya mendampingi siswa, tetapi juga meningkatkan kapasitas guru dan orang tua agar mampu menciptakan lingkungan sekolah maupun keluarga yang lebih mendukung kesehatan mental remaja.

Guru mendapat pembekalan mengenai pertolongan pertama pada luka psikologis, sedangkan orang tua dilibatkan melalui berbagai kegiatan edukasi dan pengasuhan.

Peluncuran dua film tersebut dihadiri lebih dari 80 peserta yang berasal dari berbagai SMA dan SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta, Forum Anak, organisasi penyandang disabilitas, serta perwakilan pemerintah.

PRYAKKUM juga berencana menyebarluaskan kedua film tersebut agar dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi di sekolah maupun komunitas, sehingga semakin banyak remaja memiliki keberanian untuk berbicara mengenai kesehatan mental dan mencari bantuan saat membutuhkannya. (nto)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.