Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengungkap penyebab suhu udara di Kota Palu belakangan ini terasa lebih panas.
Forecaster Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Muhammad Ryan, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi anomali suhu muka laut di wilayah perairan Sulawesi dan tidak aktifnya sejumlah gelombang atmosfer yang berperan dalam pembentukan hujan.
Baca juga: Hainan China Jajaki Kerja Sama Pertanian dengan Sulteng, Kebun Anggur hingga Kelapa Jadi Sorotan
"Anomali suhu muka laut di wilayah perairan Sulawesi saat ini masih aktif dengan nilai sekitar plus 1,1 derajat Celsius, sehingga cukup berpengaruh terhadap peningkatan suhu udara," kata Ryan, saat ditemui diruang kerjanya, Senin (29/6/2026).
Selain itu, sejumlah gelombang atmosfer seperti Southern Oscillation Index (SOI), Dipole Mode Index (DMI), Madden-Julian Oscillation (MJO), dan gelombang ekuatorial saat ini sedang tidak aktif.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kontribusi terhadap pembentukan awan hujan berkurang sehingga cuaca panas lebih dominan dirasakan masyarakat, khususnya di Kota Palu.
Ryan menjelaskan, karakteristik geografis Kota Palu juga menjadi salah satu faktor memengaruhi kondisi cuaca di wilayah tersebut.
Kota Palu dikelilingi pegunungan menyebabkan massa udara lembap yang berasal dari laut lebih dahulu mengalami proses pembentukan hujan saat melintasi kawasan pegunungan.
Baca juga: Upacara Harganas ke-33 di Morowali Soroti Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak
Akibatnya, kandungan uap air yang mencapai Kota Palu menjadi lebih sedikit sehingga curah hujan di wilayah tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan daerah di sekitarnya.
"Secara karakteristik geografis, Kota Palu memang cenderung lebih kering karena sebagian besar uap air sudah dilepaskan saat massa udara melintasi pegunungan," jelasnya.
Meski cuaca panas masih mendominasi, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan sangat lebat berpotensi terjadi di Kabupaten Donggala, Kota Palu, Morowali Utara, Parigi Moutong, Poso, dan Tolitoli.
Sementara hujan lebat diprakirakan berpotensi terjadi di Kabupaten Banggai, Buol, Morowali, Sigi, Tojo Una-Una, serta sejumlah wilayah lainnya.
Memasuki 1 Juli 2026, potensi hujan diprakirakan masih terjadi di Buol, Kota Palu, Parigi Moutong, Sigi, dan Tolitoli.
Sedangkan pada 2 Juli, potensi hujan diprakirakan terjadi di Donggala dan Sigi.
Ryan mengatakan kondisi cuaca di Sulawesi Tengah saat ini masih berada pada masa peralihan musim sehingga potensi hujan masih dapat terjadi meskipun suhu udara terasa cukup panas pada siang hari.
Baca juga: Anwar Hafid Minta Penanganan LGBT di Sulteng Utamakan Edukasi dan Regulasi
BMKG mengimbau masyarakat mengurangi paparan sinar matahari secara langsung saat beraktivitas di luar ruangan, menggunakan pelindung seperti topi atau tabir surya, serta menjaga kecukupan cairan tubuh.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta terus memantau informasi prakiraan cuaca resmi dari BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi dalam beberapa hari mendatang.(*)