BATAM, TRIBUNBATAM.id - Direktur Utama Rizki Evanti Bersahaja Tour and Travel, Vivi Evanti Hasibuan angkat bicara terkait kejadian yang menimpa Tim Paduan Suara Wanita (PSW) Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) asal Kepri.
Nama biro perjalanan wisata ini ikut terseret, setelah tim PSW Pesparawi Kepri yang berjumlah 27 orang itu, tertahan di Bandara Soekarno-Hatta setelah berangkat dari Batam.
Mereka tak bisa melanjutkan perjalanan ke lokasi tujuan, dan berujung gagal tampil di ajang Pesparawi Nasional 2026 di Manokwari, Papua Barat, gegara tiket pesawat bermasalah.
Dalam konferensi pers bersama Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kepri di Kantor PGI Kota Batam, Vivi mengaku dana pembayaran tiket yang diterimanya telah diserahkan kepada seorang oknum staf di Sekretariat DPRD Provinsi Kepri berinisial H.
Vivi berterus terang, sejak awal dirinya memperoleh proyek pengadaan tiket perjalanan untuk tim Pesparawi itu melalui perantara oknum tersebut, bukan melalui LPPD Kepri.
"Awalnya saya mendapat informasi ada kegiatan ini dari Pak H. Terus terang saya tidak mengerti apa itu Pesparawi. Karena saya mengenal Pak Jumaga Nadeak, saya akhirnya bersedia mengerjakan pekerjaan ini," kata Vivi, Senin (29/6/2026).
Ia melanjutkan, selama dua periode Jumaga Nadeak menjadi Ketua DPRD Kepri, usaha travelnya menjadi rekanan perjalanan dinas di lingkungan Sekretariat DPRD Kepri.
Kedekatan itu lah yang membuat dirinya percaya, ketika ditawari H menangani keberangkatan kontingen Pesparawi Kepri.
Dalam pernyataannya, Vivi mengaku telah mengingatkan agar pembayaran dilakukan lebih awal, karena harga tiket pesawat terus mengalami kenaikan.
"Saya sudah bilang jangan terlalu lama karena tiket semakin mahal. Saat itu saya dijanjikan pembayaran akan dilakukan pada Mei, dan sebelum keberangkatan seluruh kewajiban akan diselesaikan," katanya.
Akui Kesalahan
Vivi membenarkan, pada 7 Mei 2026, pihaknya menerima pembayaran senilai sekitar Rp1,016 miliar ke rekening perusahaan sebagai pembayaran pengadaan tiket pesawat.
Setelah dana diterima, Vivi langsung melakukan pemesanan tiket untuk seluruh peserta dan ofisial sesuai jadwal keberangkatan yang telah disepakati.
Namun, Vivi mengakui melakukan kesalahan fatal. Karena pekerjaan tersebut diperolehnya melalui oknum H, ia kemudian menyerahkan sebagian besar dana yang diterimanya kepada oknum tersebut.
"Saya membuat surat perjanjian pada 11 Mei 2026. Dalam perjanjian itu saya menyerahkan uang sebesar Rp700 juta sebagai pembayaran tahap pertama kepada beliau. Saya punya surat perjanjiannya, ada tanda tangan beliau dan dokumentasinya," ungkap Vivi.
Meski demikian, hingga menjelang keberangkatan, pembayaran tiket kepada maskapai tidak kunjung diselesaikan, sehingga sejumlah tiket peserta tidak dapat diterbitkan dan keberangkatan kontingen pun gagal.
Vivi menegaskan persoalan tersebut sama sekali tidak melibatkan LPPD Kepri maupun panitia Pesparawi.
"Saya tegaskan, LPPD tidak mengetahui dan tidak tahu sama sekali mengenai persoalan ini. Yang mengetahui hanya saya. Saya siap bertanggung jawab dan mengembalikan seluruh kerugian yang timbul akibat kelalaian saya dan pihak travel," kata Vivi.
"Panitia hanya menerima tiket yang sudah saya serahkan. Mereka tidak tahu proses di belakangnya. Yang salah dan teledor adalah saya sebagai pihak travel," katanya.
Bantah Telantarkan Tim Pesparawi Kepri di Bandara
Vivi juga mengaku untuk PSW yang sempat berangkat ke Jakarta tidak ditelantarkan. Vivi sudah berusaha untuk mencari tiket pesawat ke Manokwari.
Namun karena penerbangan tidak ada yang kosong saat itu, membuat dirinya harus beberapa kali membatalkan pembayaran tiket.
Ia mengklaim untuk keberangkatan tim ke Jakarta dan kembali pulang ke Tanjungpinang, semua tiket PSW disiapkan pihaknya.
Pihaknya juga menyiapkan penginapan serta transportasi bagi peserta.
"Jadi kalau dibilang ditelantarkan hal itu tidak benar. Karena mulai dari Batam sampai Jakarta, bahkan sampai kembali ke Tanjungpinang, saya fasilitasi," kata Vivi.
Adapun alasan pihaknya tidak jadi memberangkatkan peserta ke Manokwari setelah diketahui tiket bermasalah, hal ini karena permintaan pihak LPPD Kepri. Karena waktu pelaksanaan atau waktu tanding sudah tidak terkejar lagi jika mereka tetap diberangkatkan ke Manokwari.
"Peserta PSW juga meminta agar mereka dipulangkan ke Tanjungpinang. Saya juga membeli tiket mereka sampai ke Tanjungpinang," kata Vivi. (Tribunbatam.id/Pertanian Sitanggang)