Saling serang pendapat terjadi antara PDIP dengan PSI soal Jokowi yang menjalani ritual injak kepala kerbau saat diberikan gelar adat di Lampung.
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi menerima gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' dari Kedatun Keagungan Lampung dalam prosesi adat yang digelar di Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung pada Sabtu (27/6).
Dalam momen itu, Jokowi yang duduk di sebuah kursi lengkap dengan pakaian adat yang dia kenakan, menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.
Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan prosesi pemberian gelar adat atau muakhi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu.
"Prosesi pemberian muakhi (gelar adat) ini memang sudah berlangsung ribuan tahun lalu di Lampung. Ini adalah bagian dari penerapan piil pesenggiri, falsafah budaya Lampung yang mengedepankan nemui nyimah atau silaturahmi," ujar Mawardi.
PDIP Singgung Kepala Banteng
Juru Bicara PDIP, Guntur Romli angkat suara soal ritual Tanah Gajah dengan menginjak kepala kerbau yang dilakukan Jokowi dalam safari politiknya di Lampung.
Gunrom mempertanyakan apakah yang dilakukan Jokowi sebagai adat, ekspresi kesombongan, atau simbolisasi perendahan politik. Menurut dia, para pendukung Jokowi tengah berhalusinasi bahwa yang tengah diinjak adalah kepala banteng.
"Pendukung Jokowi sedang berhalusinasi yang diinjak itu kepala banteng, padahal kerbau," kata Gunrom, sapaan akrabnya saat dihubungi, Senin (29/6).
Gunrom menambahkan banteng adalah satwa dilindungi, sehingga tak bisa dibuat ritual atau kurban. Banteng berbeda dengan kerbau sebagai hewan ternak.
Ritual Tanah Gajah yang diikuti Jokowi seakan membuktikan disertasi Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto tentang membangun identitas kepemimpinan mantan Wali Kota Solo itu sebagai perpaduan 'the triangle of authoritarian populism', serta memadukan feodalisme dan mempersepsikan dirinya sebagai seorang raja.
"Feodalisme dengan membagi-bagi amplop dan sembako untuk menarik rakyat; dan karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai segala-galanya," katanya.
PSI Membela Ritual Injak Kepala Kerbau
Ketua DPP PSI, Bestari Barus mengungkap maksud ritual injak kepala kerbau yang dilakukan Jokowi. Bestari memastikan pelaksanaan ritual bukan atas kemauan Jokowi, melainkan masyarakat adat di Lampung sebagai penghargaan atas kontribusi selama menjadi presiden.
"Ritual itu bukan Pak Jokowi buat. Pak Jokowi hanya sebagai orang yang diberikan gelar tersebut," kata Bestari saat dihubungi, Senin (29/6).
Dia menambahkan, ritual yang dijalani Jokowi itu juga bukan kali pertama. Berdasarkan informasi yang ia terima, Bestari bilang ritual dan gelar kehormatan tersebut juga sempat diberikan kepada mantan presiden terdahulu. Namun, Bestari tak mengungkap sosok mantan presiden selain Jokowi yang dimaksud.
"Itu ritual itu bukan hanya ke Pak Jokowi. Tapi banyak tokoh bangsa yang lain. Bahkan menurut berita yang saya dengar, tapi perlu dikonfirmasi, bahkan salah satu presiden kita terdahulu pernah menerima itu dan menginjakkan kakinya juga di atas kepala kerbau itu," katanya.
Bestari menilai ritual yang dijalani Jokowi tak pantas dianggap atau dituding sebagai bentuk keangkuhan, tapi sebagai peninggalan leluhur. Dia menilai tudingan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap adat istiadat Lampung.





