Harga BBM di SPBU Pertamina Hari Ini 30 Juni 2026: Cek Harga Pertamax di Kaltim dan Daerah Lainnya
Doan Pardede June 30, 2026 07:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina pada Selasa, 30 Juni 2026 masih belum mengalami perubahan.

Hingga akhir Juni 2026, PT Pertamina (Persero) masih mempertahankan harga seluruh produk BBM, baik nonsubsidi maupun subsidi, sesuai penyesuaian terakhir yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026.

Bagi masyarakat Kalimantan Timur yang akan mengisi bahan bakar kendaraan, harga Pertamax masih dipatok Rp16.650 per liter, sedangkan Pertamax Turbo tetap dijual Rp21.200 per liter.

Untuk kendaraan bermesin diesel, Dexlite masih dibanderol Rp23.500 per liter, sementara Pertamina Dex tetap Rp25.350 per liter.

Baca juga: Pertamina Diminta Turunkan Harga BBM Non Subsidi Mulai Juli 2026

Sementara itu, pemerintah juga masih mempertahankan harga BBM subsidi. Pertalite dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar subsidi tetap Rp6.800 per liter.

Penyesuaian Harga Berlaku Sejak 10 Juni 2026

Harga BBM yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian yang diterapkan Pertamina sejak 10 Juni 2026.

Pada periode tersebut, sejumlah produk BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta berbagai indikator ekonomi lainnya.

Meski demikian, pemerintah memutuskan tidak mengubah harga BBM subsidi guna menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

Harga BBM Pertamina di Kalimantan Timur

Berikut harga BBM yang berlaku di SPBU Pertamina wilayah Kalimantan Timur:

Pertalite: Rp10.000 per liter

Biosolar subsidi: Rp6.800 per liter

Pertamax: Rp16.650 per liter

Pertamax Turbo: Rp21.200 per liter

Dexlite: Rp23.500 per liter

Pertamina Dex: Rp25.350 per liter

Harga yang sama juga berlaku di sebagian besar wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Harga BBM Pertamina di Sumatera

Untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung, harga BBM masih sama seperti di Kalimantan Timur, yakni:

Pertamax: Rp16.650 per liter

Pertamax Turbo: Rp21.200 per liter

Dexlite: Rp23.500 per liter

Pertamina Dex: Rp25.350 per liter

Sementara itu, di Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau, harga BBM sedikit lebih tinggi karena perbedaan kebijakan perpajakan daerah:

Pertamax: Rp17.000 per liter

Pertamax Turbo: Rp21.650 per liter

Dexlite: Rp24.000 per liter

Pertamina Dex: Rp25.900 per liter

Khusus kawasan Free Trade Zone (FTZ) seperti Sabang dan Batam, harga BBM lebih rendah karena memperoleh fasilitas perpajakan khusus.

Harga BBM Pertamina di Jawa dan Bali

Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT, harga BBM masih sebagai berikut:

Pertamax: Rp16.250 per liter

Pertamax Green 95: Rp17.000 per liter

Pertamax Turbo: Rp20.750 per liter

Dexlite: Rp23.000 per liter

Pertamina Dex: Rp24.800 per liter

Khusus Pertamax Green 95, distribusinya belum tersedia secara merata di seluruh wilayah.

Harga BBM Pertamina di Sulawesi

Di wilayah Sulawesi, meliputi Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, harga BBM masih sama dengan Kalimantan Timur, yaitu:

Pertamax: Rp16.650 per liter

Pertamax Turbo: Rp21.200 per liter

Dexlite: Rp23.500 per liter

Pertamina Dex: Rp25.350 per liter

Baca juga: Satpol PP Minta Evaluasi Aturan BBM Eceran di Balikpapan demi Keseimbangan Ekonomi dan Ketertiban

Harga BBM Pertamina di Maluku dan Papua

Di kawasan Indonesia timur, harga BBM juga belum mengalami perubahan.

Untuk Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya, harga Pertamax masih Rp16.650 per liter.

Sementara Dexlite dijual Rp23.500 per liter dan Pertamina Dex Rp25.350 per liter sesuai wilayah distribusinya.

Pertalite dan Biosolar Subsidi Masih Tetap

Di tengah fluktuasi harga energi global, pemerintah masih mempertahankan harga dua jenis BBM subsidi yang paling banyak digunakan masyarakat.

Pertalite: Rp10.000 per liter.

Biosolar subsidi: Rp6.800 per liter.

Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan daya beli masyarakat.

Masyarakat Diimbau Memantau Informasi Resmi

Meski hingga 30 Juni 2026 belum ada perubahan harga BBM, masyarakat tetap disarankan memantau informasi melalui aplikasi MyPertamina, situs resmi Pertamina, maupun kanal komunikasi resmi perusahaan.

Langkah tersebut penting karena harga BBM nonsubsidi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta kebijakan pemerintah.

Sumber: PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina Patra Niaga.

BI: Kenaikan Harga BBM Berpotensi Mendorong Inflasi di Balikpapan

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap laju inflasi di Kota Balikpapan.

Dampak utamanya berasal dari meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang yang pada akhirnya memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan penyesuaian harga BBM hampir pasti berdampak pada sektor-sektor yang bergantung pada biaya transportasi dan logistik.

"Dengan kondisi itu akan berpengaruh kepada sektor-sektor yang kemudian punya turunan pada BBM, dan pasti pengaruh ke logistik. Harga logistik naik, kemudian akan naik pada harga-harga konsumen. Itu yang kemudian mendorong inflasi karena kenaikan harga tadi," ujar Robi, Senin (29/6/2026).

Robi menjelaskan, kenaikan biaya angkut umumnya akan diikuti penyesuaian harga oleh pelaku usaha untuk menutup meningkatnya biaya operasional.

Karena itu, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan terus berupaya menekan dampak kenaikan biaya distribusi agar tidak sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan dukungan biaya logistik untuk distribusi bahan pangan melalui Perum Bulog. Dengan cara tersebut, komoditas yang dijual melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) diharapkan tetap dapat dipasarkan dengan harga yang terjangkau.

"Kita banyak sekali program Gerakan Pangan Murah. Harga bahan pokok yang ada di gudang Bulog kita bantu biaya logistiknya, sehingga nanti ketika di pasar harganya tidak terlalu tinggi. Itu yang coba kami kurangi dampaknya," jelasnya.

Menurut Robi, langkah tersebut tidak hanya menjaga keterjangkauan harga pangan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan inflasi.

Meski mengakui tantangan pengendalian inflasi akan semakin berat setelah penyesuaian harga BBM, Bank Indonesia tetap optimistis laju inflasi hingga akhir 2026 masih berada dalam kisaran target nasional.

Robi menyebut inflasi diproyeksikan berada di kisaran 2,7 hingga 2,9 persen hingga akhir tahun. Angka tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

"Kalau akhir tahun kami optimistis tetap sesuai target. Hitungan kita sekitar 2,7 sampai 2,9 persen sampai akhir tahun, artinya masih sesuai target. Memang tantangannya semakin berat, makanya kita dorong berbagai kegiatan agar harga pangan tidak naik terlalu tinggi," katanya.

Hingga Mei 2026, BI Balikpapan bersama Bulog, Pemerintah Kota Balikpapan, pemerintah daerah, dan berbagai mitra telah menyelenggarakan sekitar 130 kegiatan Gerakan Pangan Murah.

Baca juga: Apa Itu B50? BBM Baru yang Mulai Hadir di SPBU per 1 Juli 2026, Ini Penjelasan Lengkapnya

Jumlah kegiatan tersebut akan terus disesuaikan dengan perkembangan harga di lapangan sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.

Selain itu, Bank Indonesia juga memanfaatkan sistem pemantauan harga secara real time melalui sebuah dashboard yang mampu mendeteksi komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan ke depan.

"Jadi kami punya dashboard untuk melihat pergerakan harga berbagai komoditas. Kalau ada barang yang diperkirakan naik, kami akan fokus melakukan intervensi pada komoditas tersebut," pungkas Robi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.