Apresiasi untuk Gustavo Alfaro: Ilmuwan, Pujangga, dan Pelatih Bersejarah Paraguay di Piala Dunia
Drajat Sugiri June 30, 2026 10:10 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Keberhasilan Paraguay mengalahkan Jerman di babak 32 besar Piala Dunia 2026 barangkali mengejutkan banyak pihak.

Namun bila mengikuti rekam jejak Paraguay di babak kualifikasi, rasanya tak aneh tim berjuluk La Albirroja itu bisa memberikan hasil luar biasa tersebut.

Kekuatan Paraguay barangkali memang tak termasuk dalam sorotan utama di zona CONCACAF.

Masih ada Argentina, Brasil, Uruguay, dan Kolombia yang langganan diunggulkan di zona tersebut.

Namun Paraguay tak pernah menyerah untuk bisa membangun mimpinya sendiri.

"Sehebat apapun sebuah negara atau seorang pelatih di atas lapangan bukan hanya taktikal saja," ungkap Agung Iqbal Ramadhan, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Baca juga: Setelah Juara Edisi 2014, Timnas Jerman Tak Lagi Perkasa di Piala Dunia

Hal itulah yang menjadi cerminan Paraguay ketika ditangani pelatih Gustavo Alfaro.

Kisah perjalanan Paraguay dan Alfaro bermula di tahun 2024, tepatnya di bulan Agustus.

Ia mendapatkan kepercayaan menjadi pelatih Paraguay setelah mengakhiri masa singkatnya bersama Kosta Rika.

Perjalanan luar biasanya langsung tertoreh di babak Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Dalam enam pertandingan selama masa kepemimpinannya di Kualifikasi Piala Dunia Zona Amerika Selatan, Gustavo Alfaro mencatatkan lima kemenangan, lima hasil imbang, dan satu kekalahan.

Mulanya, Paraguay bermain imbang 0-0 melawan Uruguay di Montevideo, lalu mengalahkan Brasil 1-0 di Asuncion.

Setelah itu, mereka kembali bermain imbang 0-0 melawan Ekuador, sebelum akhirnya menundukkan Venezuela 2-1.

Paraguay kemudian mengalahkan Argentina dengan skor 2-1, lalu berhasil mencuri satu poin berkat hasil imbang yang diraih dengan perjuangan keras di El Alto saat menghadapi Bolivia.

Pada laga ke-13, Paraguay mengalahkan Chile 1-0, dan pada laga ke-14 bermain imbang 2-2 melawan Kolombia.

Di laga ke-15, mereka kembali meraih kemenangan dengan menundukkan Uruguay 2-0, sebelum akhirnya menelan satu-satunya kekalahan sepanjang periode tersebut saat bertandang ke markas Brasil.

Hasil imbang 0-0 melawan Ekuador pada laga ke-17 memastikan Paraguay mengamankan tiket ke Piala Dunia, target yang telah diperjuangkan Alfaro sejak pertama kali ditunjuk sebagai pelatih.

Modal mengalahkan Brasil, Argentina, dan Uruguay di babak kualifikasi menjadi hasil yang tak bisa dipandang remeh.

Filsuf Lapangan

Dari segi kekuatan, Paraguay memang tak sehebat tim-tim itu.

Namun itulah celah yang dicari Alfaro. Ia lebih mengedepankan motivasi ketimbang benar-benar hanya mengandalkan kemampuan para pemain di atas lapangan.

Untuk itulah ia kerap menggunakan kata-kata dari tokoh-tokoh terkenal dunia untuk menjabarkan isi kepalanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Gustavo Alfaro dikenal sering mengutip berbagai tokoh terkemuka dari beragam bidang.

Ia mengutip ilmuwan seperti Albert Einstein, penulis ternama dunia seperti Ernest Hemingway, Oscar Wilde, dan Jorge Luis Borges.

Ada juga filsuf Yunani seperti Aristoteles, pakar ilmu politik Niccolò Machiavelli, hingga aktor Hollywood Bruce Willis yang tak luput dari bahan referensinya.

Ia tak sekadar mengambil kata-kata tersebut dengan tanpa makna.

Alfaro mempercayai kata-kata itu dengan sepenuh hati lantaran ia memang senang membaca buku.

Dirinya akan mencatat kata-kata yang bermakna baginya untuk dijadikan pegangan hidup dan diberikan kepada orang lain.

"Saat saya berhenti kuliah Teknik Kimia pada usia 22 tahun, saya menyadari bahwa saya adalah orang yang sangat minim pengetahuan. Karena itu, saya mulai gemar membaca. Keajaiban membaca memberi saya kemampuan untuk berkata, 'Wah, ini pemikiran yang luar biasa. Saya akan mengambilnya dan menjadikannya bagian dari diri saya.' Setiap kali menemukan kalimat yang saya sukai, saya selalu menuliskannya," ucap Alfaro.

Pengukir Sejarah

Bersama Paraguay, ia mencatatkan sejarah yang sangat sulit dilakukan, bahkan sejak Piala Dunia digelar beberapa edisi ke belakang.

Sebelum ini, tak pernah ada timnas yang berhasil mengalahkan Jerman pada babak adu penalti di Piala Dunia.

Padahal Jerman setidaknya sudah 4 kali merasakan adu penalti di berbagai fase Piala Dunia berbagai edisi.

Tim-tim seperti Prancis (1982), Meksiko (1986), Inggris (1990), dan Argentina (2006) nyatanya tak bisa meruntuhkan kekuatan Der Panzer.

Namun Paraguay akhirnya membuktikan stigma itu bisa dipatahkan.

Mereka menjadi tim pertama yang mengalahkan Jerman di babak adu penalti.

Gustavo Alfaro-lah yang juga berjasa menanamkan kepercayaan diri tinggi kepada para pemainnya itu.

(Tribunnews.com/Guruh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.