Okupansi Hotel di Gayo Anjlok, Banyak Karyawan Dirumahkan
mufti June 30, 2026 10:21 AM

"Semenjak bencana ini kosong, nggak ada yang nginap. Kalaupun ada, paling cuma satu atau dua rombongan saja." MIHADA, Pengelola Dipo Penginapan 

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Sektor perhotelan dan penginapan di Aceh Tengah dan Bener Meriah menghadapi persoalan. Bencana hidrometeorologi yang melanda kedua wilayah pada November 2025 lalu menyebabkan kerusakan infrastruktur jalan yang hingga kini belum terselesaikan, berdampak pada kunjungan wisatawan ke dataran tinggi Gayo.

Sejumlah pengelola penginapan mengaku mengalami penurunan tingkat hunian kamar (okupansi). Sebagian bahkan terpaksa merumahkan karyawan untuk menekan biaya operasional.

Larka, pengelola Bie Homestay di kawasan Kala Lengkio, Kecamatan Kebayakan, mengatakan, penginapannya sepi bahkan di momen yang biasanya paling ramai. "Kalau untuk momen tahun baru kemarin, boleh dibilang memang tidak ada sama sekali. Di momen lebaran pun jumlahnya turun drastis, tidak seperti biasanya," ujarnya, Minggu (29/6/2026).

Kondisi serupa terjadi saat libur sekolah yang berlangsung saat ini. Dari total kamar yang tersedia, hanya satu atau dua yang terisi.

Ia menyebut, ada dua faktor penyebab utama, yaitu kondisi jalan yang rusak parah dan cuaca yang kerap hujan, membuat calon wisatawan urung datang. Atas kondisi tersebut, manajemen Bie homestay terpaksa merumahkan 6 karyawan dan hanya menyisakan 3 orang dalam kondisi saat ini.

Mihada, pengelola Dipo Penginapan di kawasan tambatan Perahu, Lot Kala, Kebayakan, mengungkapkan kondisi yang lebih berat. Lokasinya yang berada di ujung kawasan tepi danau membuat dampaknya lebih terasa.

Ia mengatakan, penginapannya praktis tidak mendapat tamu sejak bencana datang tepat sebelum tahun baru. "Semenjak bencana ini kosong, nggak ada yang nginap. Kalaupun ada, paling cuma satu atau dua rombongan saja," ujarnya.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan situasi sebelum bencana. Mihada menyebut, pada hari Sabtu biasa pun kamarnya selalu terisi, dan saat musim liburan besar seluruh penginapan di kawasan itu penuh  bahkan ada wisatawan yang kehabisan tempat hingga menginap di menara masjid.

Kedua pengelola penginapan meminta pemerintah segera memprioritaskan perbaikan infrastruktur, khususnya jalur Bireuen-Takengon dan jalur KKA yang rusak akibat bencana. "Jalur itu urat nadinya. Kalau aksesnya bagus, mudah-mudahan pengunjung akan kembali lagi. Walaupun tidak langsung pulih 100 persen, minimal ada peningkatan dari kondisi yang terpuruk sekarang ini," kata Mihada.

Kondisi serupa juga dialami pengusaha penginapan di Bener Meriah. Rusaknya akses Jalan Nasional Takengon-Bireuen serta jalur lintas KKA menjadi salah satu pemicu utama terpuruknya sektor pariwisata di kabupaten ini.

Sejumlah pengusaha akomodasi di daerah penghasil kopi gayo ini pun mulai mengeluhkan sepinya pengunjung. Seperti diungkapkan Abdi, pemilik Hotel Al-Fattah di Bener Meriah. Ia mengatakan, akses jalan yang penuh lubang, amblas, serta rawan longsor membuat wisatawan berpikir dua kali untuk berkunjung.

Jika biasanya akhir pekan atau musim liburan menjadi ladang rezeki bagi pemilik penginapan, kini kondisinya berbalik 180 derajat. Kamar-kamar hotel yang biasanya penuh dipesan, kini lebih sering kosong melongpong.

"Biasanya banyak wisatawan dan kunjungan-kunjungan dinas. Untuk saat ini, yang datang hanya yang berkaitan dengan urusan bencana saja. Selebihnya, rata-rata orang menunda perjalanan mereka ke Bener Meriah," ujar Abdi, Senin (29/6/2026).

Warga setempat juga merasakan dampak langsung dari kelangkaan ini karena kesulitan mendapatkan semen di pasaran untuk kebutuhan pembangunan mereka.(am/mi)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.