Gelombang panas ekstrem melumpuhkan transportasi Leipzig, Jerman. Layanan trem di kota Leipzig, Jerman, sempat berhenti beroperasi.
Otoritas Transportasi Leipzig (LVB) menyatakan bahwa seluruh layanan trem dihentikan hingga Senin pukul 03.30 waktu setempat karena kerusakan akibat panas pada rel dan sistem persimpangan.
Sebelumnya, LVB hanya menangguhkan layanan hingga Sabtu malam. Namun, keputusan tersebut kemudian diperpanjang setelah kondisi suhu tinggi tidak kunjung membaik.
Menurut LVB, suhu tinggi di kota bagian timur Jerman tersebut menyebabkan material perekat pada sambungan aspal dan beton di jalur rel meleleh dan menggumpal di berbagai titik jaringan.
melaporkan bahwa aspal meleleh tepat di atas rel trem di kota Leipzig. Kondisi itu membuat operasional trem tidak aman untuk dijalankan.
Suhu di Leipzig saat gelombang panas tersebut memang nggak main-main. Dikutip dari , menunjukkan bahwa suhu udara 41,7 derajat Celsius tercatat di wilayah Bradenburg bagian timur, tepatnya pada Minggu (28/6) sore, sekitar pukul 16.00 waktu setempat.
Data tersebut dilaporkan oleh stasiun pemantau di Coschen, yang terletak dekat perbatasan Polandia. Angka itu menjadi rekor terbaru untuk suhu tertinggi sepanjang masa di Jerman.
Seluruh jalur trem di kota Saxony tersebut terdampak oleh penghentian layanan tersebut. Sementara itu, layanan bus diharapkan tetap beroperasi sesuai jadwal sejauh memungkinkan.
Saat ini, trem beroperasi lagi kendati belum sepenuhnya pulih.
Di Leipzig, trem merupakan moda transportasi utama yang sangat penting bagi mobilitas warga sehari-hari. Jaringan tremnya luas dan terintegrasi dengan berbagai kawasan kota, termasuk pusat kota dan Leipzig Hauptbahnhof, sehingga menjadi pilihan utama untuk berangkat kerja, sekolah, maupun aktivitas harian.
Sebagai alternatif, warga biasanya mengandalkan bus yang dioperasikan oleh LVB, meskipun cenderung lebih lambat dan kapasitasnya tidak sebesar trem. Selain itu, jaringan S-Bahn Mitteldeutschland juga menjadi pilihan untuk perjalanan antarkota atau menuju wilayah pinggiran, sementara untuk jarak dekat sebagian warga memilih berjalan kaki atau bersepeda.
Mobil pribadi dan layanan taksi juga tersedia, tetapi bukan pilihan utama dalam mobilitas harian kota yang relatif padat dan terstruktur ini.





