Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM - Raut bingung sempat terlihat di wajah Waslihah (45) saat hendak menarik uang Rp200 ribu di Agen BRILink Rajawali, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Kamis (7/5/2026) pagi.
Mesin EDC terus menolak transaksi karena PIN yang dimasukkan salah.
Rupanya, penjual sayur itu memiliki beberapa kartu ATM. Beruntung, pegawai agen membantu mengingatkan nomor seri kartu yang benar.
Baca juga: UMKM Ayam Geprek di Sukoharjo Bangkit Berkat Pinjaman Modal BRI, Selamat dari Jeratan Bank Plecit
Menurutnya, Agen BRILink Rajawali sudah seperti keluarga. Dia sangat terbantu karena ATM Bank Rakat Indonesia (BRI) cukup jauh dari rumahnya.
"Kalau Rajawali tutup, saya jadi bingung," kata Waslihah.
Kepercayaan seperti itulah yang kini menjadi modal utama Agen BRILink Rajawali. Berawal dari perjuangan Gesit Cerianto yang nekat keluar dari pekerjaannya sebagai sales pada 2018, usahanya kini berkembang menjadi salah satu agen dengan aktivitas transaksi tertinggi di wilayah Jaten.
Dalam sebulan, Agen BRILink Rajawali melayani lebih dari 2.000 transaksi dengan perputaran dana mencapai sekitar Rp1,5 miliar di tengah masifnya penggunaan BRI Mobile (BRImo).
Capaian itu membuatnya rutin menyandang predikat Juragan maupun Jawara.
Padahal, masa-masa awal jauh dari kata mudah.
"Pahit awal-awal itu, satu hari enggak ada sama sekali. Satu bulan cuma dapat 10 orang juga pernah," kenang Gesit.
Sedikit demi sedikit ia membangun kepercayaan masyarakat dengan menghadirkan layanan yang nyaman layaknya kantor bank. Kini, tingginya transaksi justru menghadirkan tantangan baru: maraknya modus penipuan.
Gesit mengaku hampir setiap pekan menemukan warga yang datang hendak mentransfer uang setelah diiming-imingi hadiah palsu melalui telepon maupun pesan singkat.
"Jadi kita memang harus memberi penjelasan pelan-pelan ke pelanggan. Akhirnya banyak yang tidak jadi kena tipu," ujarnya.
Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi ketika seorang warga datang dalam keadaan panik usai menerima telepon dari seseorang yang mengaku pegawai BRI. Korban diminta segera mentransfer uang agar hadiah bisa dicairkan.
Gesit kemudian mengambil alih telepon tersebut.
"Bapak siapa ya? Dari mana? Bukannya menjawab baik-baik, malah saya dikata-katain. Katanya dari BRI, tapi cara bicaranya kasar sekali. Akhirnya telepon langsung saya matikan," tuturnya.
Korban akhirnya sadar dirinya hampir menjadi sasaran penipuan.
"Wah Mas, beruntung kita bertemu. Coba tadi langsung ke ATM, bisa-bisa uangku habis semua," kenang Gesit menirukan ucapan pelanggan.
Cerita serupa juga dialami Endang, pemilik Agen BRILink Rava di Desa Jurangjero, Klaten. Meski baru beroperasi sejak April 2025, agennya sudah melayani sekitar 480 transaksi setiap bulan dan jumlahnya meningkat tajam saat pencairan bantuan pemerintah.
Walau kini banyak nasabah BRI yang menggunakan BRImo, kehadiran Agen BRILink Rava masih diharapkan warga sekitar. Kuncinya adalah Agen BRILink Rava tak hanya berorientasi pada bisnis semata, namun juga edukasi dan misi sosial.
Ramainya transaksi di Agen BRILink miliknya membuat Endang juga sering menemui warga yang nyaris menjadi korban penipuan bermodus hadiah.
Dia selalu memberi pesan kepada nasabah-nasabahnya jika mendapat telepon dari orang yang tak dikenal agar mengacuhkannya saja.
"Kalau ada WA, SMS, atau telepon dari orang yang enggak dikenal, enggak usah diladeni," kata Endang, mengulang nasihat yang kerap ia sampaikan kepada pelanggan, Sabtu (20/6/2026).
Bagi Endang maupun Gesit, tingginya transaksi bukan hanya menunjukkan semakin dekatnya layanan perbankan dengan masyarakat.
Di balik ribuan transaksi setiap bulan, Agen BRILink juga menjadi garda terdepan yang membantu warga mengenali dan menghindari berbagai modus kejahatan perbankan yang terus berkembang.
Cerita soal BRILink yang lain disampaikan oleh Poniyem (64). Warga Daleman, Nguter, Sukoharjo, ini merupakan penerima bantuan manfaat Program Keluarga Harapan (PKH).
Sebagai penerima bantuan PKH yang rutin menerima Rp600 ribu dalam satu tahap, Poniyem juga mendapatkan kartu ATM yang juga berfungsi sebagai Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Kartu ini diberikan bersama buku tabungan.
Namun, Poniyem adalah golongan lanjut usia yang buta huruf, karena hanya sebentar mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar.
Ketika harus mengambil uang di ATM itu jelas akan sangat memberatkan baginya. Jangankan familiar dengan ATM, ponsel saja dia hanya punya ponsel jadul yang tak bisa untuk mengakses internet.
Ada opsi mengambil bantuan ke Kantor Pos, namun Kantor Pos Nguter letaknya cukup jauh kurang lebih 3 kilometer dan harus ditempuh melewati jalan raya Sukoharjo-Wonogiri yang ramai lalu lintas.
"Makanya pilih ambil di situ (BRILink) yang lebih dekat jalan kaki. Tinggal serahkan kartu ATM ke mas-nya, sudah bisa ambil uang," kata perempuan yang akrab disapa Mak Sipon dalam Bahasa Jawa yang diterjemahkan TribunSolo.com.
Soal potongan biaya administrasi, perempuan tiga anak ini mengaku tak keberatan.
"Dipotong Rp5 ribu-10 ribu pun ndak apa-apa. Dibanding harus ngupahi uwong atau njajakne untuk antar ke Kantor Pos," tutupnya.
Poniyem adalah contoh nasabah BRI yang bisa jadi segmen pasar Agen BRILink. Dia bukan satu-satunya, masih banyak lansia seperti Poniyem yang belum begitu melek teknologi, sementara sangat butuh layanan perbankan untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Melihat cerita-cerita di atas, pesatnya penggunaan aplikasi BRImo terbukti tidak lantas mengurangi peran Agen BRILink di tengah masyarakat.
Hal itu terbukti dari testimoni warga dan masih banyaknya Agen BRILink yang meraup untung. Sebaliknya, layanan digital dan jaringan agen dinilai saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan transaksi perbankan nasabah.
Kunci utamanya adalah ada pada produk dan pelayanan.
Masyarakat yang ingin menjadi Agen BRILink dapat mengajukan permohonan ke Kantor Cabang atau Kantor Unit BRI terdekat dengan melengkapi dokumen identitas serta legalitas usaha.
Selanjutnya, BRI akan melakukan survei lokasi dan memproses pengajuan dalam waktu maksimal 30 hari kerja.
Di Sukoharjo, pembinaan dan pendampingan Agen BRILink dilakukan oleh Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BRI Unit Kota Sukoharjo, Ahmad Thoriq (39).
Ia secara rutin berkeliling ke sembilan unit kerja BRI di wilayah binaannya untuk memantau sekaligus memberikan edukasi kepada para agen.
Mengenai modal awal, Thoriq menegaskan tidak ada ketentuan saldo minimum untuk menjadi Agen BRILink. Namun, besaran saldo akan berpengaruh terhadap kelancaran pelayanan kepada nasabah.
"Mau saldonya satu juta boleh. Dua puluh juta boleh. Kita dari BRI tidak ada ikatan jumlah saldo harus sekian. Tetapi, semakin sedikit biasanya semakin enggak jalan, karena mayoritas nasabah datang lalu ditolak karena saldo enggak mencukupi, kan biasanya kapok enggak balik," kata Ahmad Thoriq kepada TribunSolo.com, Senin (26/5/2026).
Ia menjelaskan, calon agen wajib memiliki KTP, rekening BRI, telah terdaftar di BRImo, serta memiliki surat keterangan usaha yang telah berjalan minimal dua tahun. Pada tahap awal, agen cukup menggunakan telepon seluler sebelum nantinya mendapatkan mesin EDC apabila volume transaksinya terus meningkat.
"Syaratnya punya KTP, buku rekening, plus terdaftar BRImo. Sama surat keterangan usaha, minimal dua tahun. Tapi tidak semua pakai EDC, awalnya pakai HP dulu, nanti kalau sudah jalan dan transaksinya banyak baru dikasih EDC," ucap Thoriq.
Selain menyediakan layanan transaksi perbankan, Agen BRILink juga memperoleh pendapatan dari sistem bagi hasil biaya transaksi yang dibayarkan nasabah.
Saat ini, layanan Agen BRILink mencakup setor tunai, tarik tunai, transfer antarbank, pembayaran tagihan, pembelian pulsa, token listrik, paket data internet, top up dompet digital, pembayaran cicilan kendaraan, hingga di sejumlah agen juga melayani pengajuan pembiayaan ultra mikro seperti PNM Mekaar dan UMi.
"Nasabah itu kalau transaksi di BRILink, agennya akan mendapatkan bagi hasil 50:50 dari biaya fee. Misal ada orang transfer Rp500 ribu, nanti biaya sudah tertera Rp5 ribu. Nanti yang dibagi setengah itu Rp5 ribu tadi. Kemudian tarik tunai di BRILink itu bisa ganjil, beda dengan mesin ATM bisanya cuma Rp50 ribu atau Rp100 ribu. Nah, kalau di BRILink monggo terserah mau tarik tunai berapa, Rp27.500 pun misalnya kita juga bisa," katanya.
Menurut Thoriq, Agen BRILink juga memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat agar terhindar dari berbagai modus penipuan digital karena kedekatannya dengan nasabah.
"Ketika ada transaksi, biasanya BRIVA diburu-buru dan transaksinya besar. Biasanya saya suruh minta uangnya dulu. Perannya Agen BRILink itu enaknya di situ karena mereka lebih dekat dengan nasabah. Jadi, ketika ada penipuan mereka langsung paham. Jadi Agen BRILink ini garda terdepan karena paling dekat banget sama nasabah, beda dengan customer service bank," ucapnya.
Ia pun mendorong para agen agar tidak hanya mengandalkan pendapatan dari transaksi perbankan, tetapi juga memasarkan berbagai produk BRI, termasuk asuransi.
"Agen BRILink ini kan mayoritas jualannya transaksi. Coba bisa ditambah jangan hanya sekadar transfer atau tarik tunai. Bisa juga jual asuransi produk BRI, misalnya BRILife, BRINS, bahkan asuransi kebakaran juga ada. Harapan saya agen bisa berjualan itu juga. Asuransi ini paling murah, cuma Rp50 ribu per tahun dan cara klaimnya pun bisa langsung ke BRI," kata Thoriq.
Thoriq juga menambahkan, para Agen BRILink juga bisa menerapkan bisnis 'jemput bola'. Yakni, aktif mendatangi nasabah-nasabah di pasar tradisional atau masyarakat di pedesaan misalnya.
"Agen BRILink bisa menawari layanan pembayaran listrik PLN misalnya yang kolektif. Nanti diambil barengan, itu nanti bayarnya bisa ke Agen. Jadi jangan hanya menunggu saja, karena kalau hanya menunggu ya pendapatnya begitu-begitu saja. Agen BRILink dalam hal ini bisa bekerja sama dengan Lurah dengan pedagang di pasar, ajak 'ayo setor ning aku', ucap Thoriq.
Ahmad Thoriq menjelaskan peluang Agen BRILink ini masih cukup besar ke depannya di tengah gempuran BRImo. Syaratnya para agen mau bergerak dan menjalin relasi dengan nasabah.
Dia lantas mengungkapkan modus penipuan terbaru yang wajib diwaspadadi Agen BRILink. Yakni modus penipuan dengan cara tukar uang.
"Penipu itu sekarang banyak mengincar Agen BRILink. Jadi Agen BRILink itu sekarang memang jadi incaran utama karena menyimpan banyak uang tunai," kata laki-laki asal Solo ini.
Thoriq mengatakan, modus terbaru adalah penipu ini pura-pura jadi nasabah yang ingin tukar uang dengan metode transfer.
"Jadi sekarang modusnya itu macem-macem. Terbaru ada scan QRIS, kalau mau scan QRIS nanti dapat Rp50 ribu ternyata penipuan. Intinya sebagai Agen BRILink harus lebih aware, diperbanyak lagi pengetahuannya masalah perbankan. Kalau sudah jadi agen itu harus paham tentang perbankan, harus tahu apa itu mutasi, info saldo, itu wajib tahu," ungkapnya.
Ahmad Thoriq pun mengaku dia sering memberikan edukasi kepada para Agen BRILink dalam mengelola operasional perbankan dan perencanaannya. Terutama bagi mereka yang usianya tidak muda lagi.
"Kalau ada modus penipuan terbaru selalu saya infokan. Terbaru tahun 2025 kemarin, sorenya baru saya edukasi 'Bu, kalau ada transaksi BRIVA hati-hati ya.' Eh malamnya dia telepon ketipu Rp20 juta. Terus ada juga Agen BRILink yang tertipu tetangga sendiri dengan modus top up Shopee Pay, ternyata itu bukan top up tapi tagihan BRIVA," ucapnya.
Untuk mengantisipasi hal itu, Agen BRILink wajib terlebih dahulu meminta uang sebelum melayani transaksi pembeli.
"Makanya dalam transaksi itu wajib bagi Agen BRILink untuk meminta uang dan mengeceknya terlebih dahulu," pungkasnya. (*)