12 Jam Pasca Bedah Langsung Bisa Jalan, Operasi Lutut Robotik Kini Bisa Dilakukan di Bali
Putu Kartika Viktriani June 30, 2026 03:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Sebuah teknologi operasi robotik Total Knee Replacement (penggantian sendi lutut total) menggunakan sistem CORI dari Amerika Serikat kini telah resmi diadopsi Siloam Hospitals Denpasar.

Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Panggul dan Lutut Siloam Hospitals Denpasar, dr. Erwin Ramawan Sastradiwirya, Sp.OT (K), menjelaskan, teknologi ini memangkas waktu pemulihan pasien secara drastis.

"Dari yang biasanya membutuhkan waktu berhari-hari dengan metode konvensional, kini hanya dalam hitungan jam," kata dr Erwin saat dijumpai Tribun Bali dalam peluncuran teknologi di Badung, Bali, pada Minggu 28 Juni 2026 malam.

Kata dia, metode konvensional dalam operasi penggantian lutut selama ini identik dengan rasa sakit pasca-operasi yang tinggi, struktur kaku.

Serta proses pemotongan tulang menggunakan gergaji medis yang menyamaratakan kondisi anatomi semua pasien. 

Akibatnya, jaringan lunak dan ligamen di sekitar lutut banyak yang terpotong, sehingga memicu trauma pembedahan yang lebih besar.

 

Ia membeberkan bahwa teknologi robotik pertama di Pulau Dewata ini membawa perubahan revolusioner bagi kenyamanan pasien di Bali.

Baca juga: Ratusan Massa Geruduk DPRD dan Kantor Gubernur Bali, Suarakan Program MBG dan Isu Sampah

"Kalau pasien konvensional, dua sampai tiga hari baru bisa jalan. Tapi dengan robot ini, 12 jam sudah bisa jalan," ungkapnya.

"Tadi malam jam delapan malam saya operasi pasien, tadi pagi jam delapan pagi dia sudah mulai belajar berjalan," imbuh dr. Erwin 

Menurut dr. Erwin, penyakit degeneratif seperti Osteoartritis atau pengapuran sendi kini trennya bergeser menyerang usia yang lebih muda di Bali akibat gaya hidup dan cedera olahraga populer seperti Padel. 

Gejala awalnya sering kali berupa nyeri kronis yang mengganggu kualitas hidup hingga lutut yang berbunyi 'krek-krek' akibat tulang rawan yang sudah tidak mulus lagi.

"Harusnya tulang rawan itu mulus seperti kalau kita makan ayam. Begitu ada lecet sedikit, dia berbunyi. Seperti mobil lewat di aspal yang sudah jarang-jarang, pasti berisik," kata dia.

"Nah, robot ini membantu kami sebagai surgeon mendapatkan nilai objektif berupa angka ketegangan ligamen, bukan lagi memakai feeling atau intuisi," jabar dr Erwin.

"Karena presisinya yang sangat akurat, yang diperbaiki hanya tulangnya, bukan ligamennya. Perawatan pun jauh lebih cepat dan efisien," tambahnya.

Dokter Erwin sejauh ini telah sukses mengoperasi tujuh pasien di Bali tanpa komplikasi, kecanggihan robot ini terletak pada kemampuannya melakukan personalisasi tindakan medis yang sangat detail. 

Product Manager Orthopedic, M. Fadli Fatahillah, menjelaskan bahwa sistem robotik ini mampu memetakan kondisi sendi pasien secara tiga dimensi dengan akurasi tinggi.

"Kalau instrumen konvensional biasa, dia akan menyamaratakan tulang semua pasien dan hanya bisa mendeteksi ukuran satu hingga dua milimeter," katanya.

"Sedangkan dengan robotik ini, sudut potongan dan ukuran implan bisa direncanakan sangat detail sampai skala nol koma sekian milimeter. Karakter tulang masing-masing pasien yang berbeda-beda bisa diakomodasi secara khusus," jelas Fadli.

Kelebihan teknis ini juga ditegaskan oleh Sales Director Advance Treatment Tawada Healthcare, Rosmiaty Tio. Sebagai perusahaan yang membawa teknologi ini ke Indonesia, Rosmiaty meluruskan bahwa pasien kini tidak perlu lagi melalui proses pemeriksaan awal yang panjang.

"Pasien tidak harus melakukan CT-scan atau MRI terlebih dahulu sebelum operasi karena teknologi ini menggunakan sistem 3D mapping secara real-time langsung di ruang operasi saat tindakan berlangsung," paparnya.

"Jadi kondisinya benar-benar aktual saat itu juga, tidak ada risiko sendi lutut yang terpotong berlebih atau kurang," sambung Rosmiaty. 

Ia menambahkan, tren keluhan penyakit lutut di Indonesia saat ini meningkat hingga 20 persen.

Kata Rosmiaty, alat ini sudah sukses menangani sekitar 300 hingga 400 kasus di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru sejak pertengahan tahun 2025.

Langkah investasi medis ini menjadi strategi besar untuk memperkuat posisi Bali sebagai destinasi medical tourism (wisata medis) utama di Indonesia Timur.

Network CEO Siloam Hospitals Group, dr. Hans Lie, menegaskan bahwa ketersediaan alat mutakhir ini dibarengi dengan kesiapan kompetensi para tenaga medis lokal.

"Bali sangat bersyukur bisa menjadi yang pertama menggunakan robotik ini di Pulau Bali, sekaligus yang pertama memakai merek Cori di seluruh jaringan Siloam Hospitals Group," ungkapnya.

Lanjutnya, aat canggih ini tentu tidak akan berguna tanpa adanya operator atau dokter yang kompeten. Melalui inovasi ini, durasi rawat inap pasien terbukti memendek dan angka komplikasi menjadi jauh lebih baik. 

"Harapan kami, masyarakat Bali kini bisa mendapatkan layanan medis kompleks dan tingkat lanjut secara langsung di tanah kelahiran mereka tanpa harus jauh-jauh pergi ke luar negeri," pungkas dr. Hans Lie.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.