TRIBUNNEWS.COM - Maroko menjadi tim paling terkini yang memastikan tiket kelolosan ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 pada Selasa (30/6/2026).
Singa Atlas memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Belanda lewat drama adu penalti 3-2, usai bermain imbang 1-1 hingga 120 menit di Stadion Monterrey.
Begitu penalti penentu bersarang di gawang Belanda, para pemain Maroko langsung berhamburan ke lapangan.
Sebagian di antaranya bersujud syukur, sementara yang lain saling berpelukan merayakan keberhasilan menumbangkan salah satu raksasa Eropa.
Kemenangan tersebut sekaligus memperpanjang catatan impresif Maroko yang kini tidak terkalahkan dalam 10 bulan terakhir di semua ajang. Modal itulah yang membuat mereka datang ke Piala Dunia 2026 dengan penuh kepercayaan diri.
"Namanya Piala Dunia, kalau ada kejutan, kemungkinan besarnya terjadi setelah melalui fase grup," kata Wakil Ketua Umum Oranje Indonesia, Arnan Binafsihi, dalam Podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Ucapan Arnan seolah menjadi gambaran dari apa yang terjadi di babak gugur. Setelah melewati fase grup dengan performa meyakinkan, Maroko mampu memanfaatkan momentum untuk menumbangkan Belanda dalam laga yang sangat ketat.
Bagi sebagian pecinta sepak bola, hasil ini mungkin terasa mengejutkan mengingat Belanda lebih dijagokan untuk melangkah lebih jauh.
Namun, bagi mereka yang mengikuti perkembangan Maroko dalam beberapa tahun terakhir, keberhasilan ini bukanlah sebuah kebetulan.
Pasalnya Maroko benar-benar serius membangun sepak bolanya dalam beberapa tahun ke belakang.
Penjaringan para pemain diaspora menjadi kunci kebangkitan tim Singa Atlas, julukan mereka.
Pemain seperti Achraf Hakimi, Brahim Diaz, Noussair Mazraoui, menjadi bagian penting dari skuad mereka saat ini.
Padahal mereka tak sepenuhnya lahir dan berdarah Maroko saja.
Sejak Piala Dunia 2022, Maroko sudah mengunduh hasil manis dari pembangunan skuad.
Mereka menjadi satu dari empat negara yang bisa tampil di babak semifinal.
Hal tersebut menjadikan mereka negara Afrika pertama yang bisa menorehkan prestasi mentereng tersebut.
Berlanjut ke tahun 2024, Maroko berhasil memenagi ajang Piala Afrika.
Hakimi dan kawan-kawan mengalahkan Madagaskar yang menjadi lawan di final dengan skor 3-2.
Raihan piala Maroko berlanjut ke tahun 2025 dengan memenangi ajang FIFA Arab Cup.
Kini, mereka memilih bersinar lagi di Piala Dunia 2026 meski sudah tak bersama pelatih yang mengawal kebangkitan mereka Walid Regragui.
Namun dengan pondasi yang sudah solid, pelatih anyar Maroko, Mohamed Ouahbi, tak kesulitan memberikan arahan kepada anak asuhnya.
Secara total, mereka sama sekali tak tersentuh kekalahan selama 10 bulan terakhir.
Mereka mendapatkan 26 kemenangan dan 5 hasil imbang.
Puncaknya tentu saja saat mereka mengalahkan Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026 kali ini.
Perayaan sewajarnya dilakukan para pemain Maroko setelah berhasil meraih tiket kelolosan ini.
Sang pencetak gol Singa Atlas, Issa Diop, disambut meriah saat memasuki ruang ganti sembari membawa trofi MVP.
Rekan-rekannya langsung mengusap kepala sang pemain sembari menghujaninya dengan pujian.
Namun, ada sebuah momen tak kalah indah yang tersaji sebelum para pemain memasuki ruang ganti.
Mereka menuju ke arah fans mereka yang memadati stadion Monterrey yang menjadi venue pertandingan.
Para pemain Maroko memberikan apresiasi atas dukungan besar yang diberikan pendukung sepanjang pertandingan.
Mereka lantas menutup selebrasi itu dengan melakukan sujud syukur secara bersama-sama.
Banyak pemain Maroko yang mengikuti seremoni tersebut yang berlangsung selama beberapa saat.
Setelah itu, mereka baru kembali ke ruang ganti tim untuk melanjutkan perayaan di tengah tim sendiri.
Laju Maroko yang luar biasa lagi-lagi sudah tercermin dari Piala Dunia 2022 lalu.
Kala itu mereka bisa mengalahkan Belgia, Spanyol, dan Portugal yang jelas benar-benar diunggulkan atas Maroko.
(Tribunnews.com/Guruh)