Gary Lineker menilai Prancis sebagai favorit utama untuk menjuarai Piala Dunia, dengan menegaskan bahwa tidak ada pelatih di sepak bola internasional yang lebih pantas mengangkat trofi tersebut selain Didier Deschamps. Mantan penyerang tim nasional Inggris itu memuji kepemimpinan pelatih Les Bleus tersebut, sekaligus mengkritik FIFA atas keputusan kontroversial yang berkaitan dengan tim nasional Prancis.
Deschamps disebut sebagai pemimpin sejati
Lineker memiliki ekspektasi tinggi terhadap Prancis seiring berjalannya turnamen Piala Dunia, menganggap juara edisi 2018 itu sebagai tim yang harus dikalahkan. Dalam wawancaranya dengan L'Equipe, mantan penyerang legendaris yang kini menjadi pundit tersebut menyoroti kehadiran Deschamps di pinggir lapangan – pelatih yang mengambil alih tim sejak Juli 2012 dan membawa Les Bleus meraih gelar juara dunia pada 2018 serta mencapai final empat tahun kemudian – sebagai keunggulan besar yang tak dimiliki negara lain.
“Prancis bukan hanya termasuk favorit, tapi mereka adalah favorit utama,” ujar Lineker. “Saya tidak melihat ada orang yang lebih berpengalaman daripada Deschamps dalam hal memenangkan kompetisi ini. Bagaimanapun, ia adalah pelatih yang sudah memenangkan Piala Dunia dan kemudian membawa timnya ke final kedua. Ia tampak seperti seorang pemimpin sejati.”
Lineker kecam FIFA terkait kontroversi ban hitam
Meski Lineker penuh pujian terhadap tim Prancis, ia juga meluapkan kekecewaan mendalam terhadap FIFA setelah badan sepak bola dunia itu dikabarkan melarang para pemain mengenakan ban hitam. Para pemain berencana memberikan penghormatan kepada ibu Deschamps yang baru saja meninggal dunia saat laga melawan Norwegia. Dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 4-1 pada hari Jumat itu, Deschamps absen untuk menghadiri pemakaman, kemudian terbang kembali ke Boston pada hari Sabtu dan bergabung kembali dengan skuadnya.
Lineker tidak menahan diri dalam menilai keputusan tersebut, menyebut tindakan FIFA sebagai bentuk tidak hormat terhadap duka pribadi sang pelatih. “Kehilangan ibunya adalah tragedi, sangat menyedihkan, dan saya masih tidak percaya FIFA tidak mengizinkan para pemain memakai ban hitam. Tapi itu masalah lain…” ujarnya.
Jerman dianggap sebagai pesaing 'lemah'
Berlawanan dengan kekagumannya terhadap Les Bleus, Lineker memberikan kritik keras terhadap tim Jerman asuhan Julian Nagelsmann. Meskipun memiliki sejarah besar sebagai pemegang empat gelar juara dunia dan berhasil memuncaki grup mereka di turnamen ini meski kalah 2-1 dari Ekuador pada laga terakhir, peraih Sepatu Emas 1986 itu menilai skuad Jerman saat ini — yang akan menghadapi Paraguay di babak 32 besar — hanyalah bayangan dari kejayaan masa lalu dan tidak akan menjadi ancaman bagi para kandidat kuat lainnya.
“Saya rasa ini salah satu tim nasional Jerman terlemah yang pernah saya lihat,” ujar Lineker sambil menyinggung kesulitan mereka dalam beberapa turnamen besar terakhir. “Ini bukan tim Jerman terkuat. Ingat, mereka bahkan gagal lolos dari fase grup di dua Piala Dunia terakhir.” Komentarnya mengisyaratkan bahwa raksasa tradisional itu kini sudah kehilangan aura menakutkannya di panggung dunia.
Perjalanan mulus diprediksi bagi Les Bleus
Menjelang babak gugur, Lineker yakin Prancis akan melangkah dengan mudah di turnamen ini. Les Bleus memastikan tempat mereka setelah mendominasi grup dengan sembilan poin sempurna, hasil dari kemenangan atas Senegal (3-1), Irak (3-0), dan Norwegia (4-1). Mereka tampil gemilang berkat performa luar biasa dari Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele, yang masing-masing telah mencetak empat gol. Dengan momentum seperti ini, Lineker percaya kedalaman skuad dan kualitas pemain yang dimiliki Deschamps membuat Prancis hampir mustahil dihentikan, siapa pun lawannya di babak berikutnya.
“Prancis bisa lolos ke perempat final tanpa masalah. Jadi saya pikir para pendukung bisa tidur nyenyak,” ujar Lineker menutup komentarnya, meyakinkan para penggemar Prancis bahwa posisi mereka di puncak dunia masih sangat kuat. Dengan bintang-bintang seperti Mbappe dan Dembele memimpin barisan, sang analis melihat sedikit sekali yang dapat menghalangi Les Bleus untuk meraih bintang ketiga di jersey mereka.