Sejarawan Ungkap Belanda Sudah Menemukan Emas di Bangka Sejak 1850, Ini Tiga Lokasinya
Asmadi Pandapotan Siregar June 30, 2026 11:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ketika dunia mengenal Bangka sebagai "pulau timah", ternyata Belanda lebih dari satu setengah abad lalu telah menemukan jejak mineral lain yang tak kalah bernilai, yakni emas. Catatan kolonial tahun 1850-1851 bahkan menyebut sedikitnya tiga lokasi di Bangka memiliki kandungan emas, meski saat itu Belanda memilih tetap berfokus mengeksploitasi timah yang dianggap lebih menguntungkan.

Sejarawan Bangka Belitung Dato' Akhmad Elvian, mengatakan pulau Bangka Belitung tidak hanya menyimpan timah. Berbagai mineral lain seperti besi, batu rekat (magnetit), hingga emas juga telah diketahui keberadaannya sejak lama.

"Pada masa itu timah menjadi kebutuhan utama Revolusi Industri di Eropa. Timah dipakai untuk berbagai kebutuhan industri, campuran logam hingga kepentingan perang. Karena itulah eksploitasi timah dilakukan secara besar-besaran, tidak seperti besi dan emas,”katanya kepada Bangkapos Selasa (30/06/2026).

Selain timah, Elvian mengungkapkan pemerintah kolonial juga menemukan indikasi kandungan emas ketika melakukan penelitian geologi di Bangka.

Temuan tersebut tercatat dalam dokumen kolonial Algemeen Verslag van de Residentie Banka over het Jaar 1850-1851 Bundel Nomor 41.

Dalam laporan tersebut disebutkan terdapat tiga lokasi yang memiliki kandungan emas, yakni Desa Air Anyir, Tanjung Bunga, dan Air Merah.

"Catatan Belanda menyebutkan ada kandungan emas di tiga lokasi tersebut. Air Anyir, Tanjung Bunga dan Air Merah. Sampai sekarang saya sendiri masih mencari lokasi Air Merah karena kemungkinan namanya sudah berubah," jelasnya.

Ia mengatakan penelitian tersebut dilakukan menggunakan metode pengeboran atau Bangka Bore, yakni teknik eksplorasi yang dikembangkan Belanda sebelum membuka tambang.

"Belanda tidak langsung menambang. Mereka lebih dulu melakukan penelitian dengan pengeboran untuk mengetahui kandungan mineral di bawah tanah. Dari situlah diketahui adanya emas di tiga titik tersebut," ujarnya.

Meski mengetahui keberadaan emas, Belanda saat itu belum melakukan eksploitasi secara besar-besaran. Menurut Elvian, pemerintah kolonial menilai hasil timah yang melimpah sudah lebih dari cukup menghasilkan keuntungan.

"Dalam laporan itu disebutkan emas dapat menjadi alternatif untuk menambah kekayaan Belanda. Tetapi tidak ada perintah untuk menambangnya karena timah saja sudah memberikan keuntungan yang sangat besar," katanya.

Elvian menilai temuan emas oleh masyarakat saat ini juga tidak dapat dilepaskan dari karakter geologi Pulau Bangka yang memang kaya akan berbagai jenis mineral.

Menurutnya, emas merupakan salah satu mineral ikutan yang dapat ditemukan bersamaan dengan endapan timah.

"Kalau masyarakat menambang timah kemudian menemukan emas, itu hal yang biasa secara geologi. Bangka memang memiliki banyak mineral ikutan selain timah, seperti besi, logam tanah jarang, hingga emas," ujarnya.

Ia menjelaskan keberadaan emas di sekitar aliran sungai juga bukan tanpa alasan.

Pada masa lalu, para penambang memilih lokasi dekat sungai karena proses pemurnian bijih emas maupun timah dilakukan menggunakan dulang yang membutuhkan aliran air.

"Dulu pemurnian dilakukan secara tradisional memakai dulang. Karena itu orang mencari dan memurnikan emas maupun timah di dekat sungai agar prosesnya lebih mudah," katanya.

Menurut Elvian, catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa potensi emas di Bangka telah diketahui sejak lebih dari 170 tahun lalu. Namun selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada timah karena menjadi komoditas utama yang menopang perekonomian kolonial Belanda.

"Kekayaan mineral Bangka sebenarnya sangat beragam. Hanya saja sejarah menunjukkan timah menjadi komoditas yang paling dominan sehingga mineral lain, termasuk emas, tidak banyak mendapat perhatian,"Katanya. (Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.