Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Onong Boro
POS-KUPANG.COM, KUPANG – Di balik kebahagiaan wisuda dokter yang digelar Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Selasa (30/6/2026), tersimpan duka mendalam yang masih menyelimuti keluarga almarhum dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dr. Icha.
Di rumah keluarga di Kupang, sang ibu, Nur Azizah, tak mampu menyembunyikan kerinduannya kepada putri sulung yang telah berpulang.
Air mata berkali-kali membasahi wajahnya saat mengenang sosok dr. Icha yang selama ini menjadi kebanggaan sekaligus inspirasi bagi kedua adiknya.
Dengan suara bergetar, ia menceritakan bahwa dirinya memiliki tiga anak, yakni almarhum dr. Icha, dr. Tiara Maharani Dwi Pakaenoni, dan putri bungsunya Elin yang kini masih duduk di bangku SMA.
Baca juga: Tim Kemendagri dan Inspektorat NTT Temui DPRD TTU Terkait Kematian Dokter Icha Pakaenoni
"Karena mereka lahir dari rahim saya, saya mengasihi mereka dengan cinta yang sangat luar biasa. Saya tidak pernah membedakan kasih sayang kepada ketiganya. Kalau mereka sakit, saya akan merawat mereka sampai sembuh, entah jaraknya dekat atau jauh," tuturnya.
Selama dr. Icha bertugas di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), kedua orang tuanya rutin datang menjenguk. Hampir setiap akhir pekan, mereka menempuh perjalanan jauh demi menghabiskan waktu bersama putri sulungnya.
"Bahkan kami sering menginap di mes tempat dia tinggal. Kalau adik-adiknya sedang tidak sibuk, kami berangkat bersama-sama. Kehangatan keluarga itu tetap kami jaga walaupun berjauhan," katanya.
Pertemuan terakhir sang ibu dengan dr. Icha terjadi saat putrinya berada di Kupang. Saat itu, ia sering menemani putrinya saat berada di rumah.
Namun, yang paling membekas di hati sang ibu adalah kebiasaan sederhana yang kini hanya tinggal kenangan.
"Setiap bertemu saya selalu mencium mereka, memeluk mereka, mengusap rambut mereka, lalu kami berdoa bersama. Itu selalu saya lakukan kepada ketiga anak saya. Sekarang tinggal dua yang bisa saya peluk dan saya doakan. Itu yang membuat saya sangat rindu kepada anak saya," ucapnya dengan mata berkaca menahan tangis.
Di tengah kehilangan itu, keluarga masih memiliki secercah kebanggaan. Adik kandung dr. Icha, dr. Tiara Maharani Dwi Pakaenoni, resmi menyandang gelar dokter pada hari yang sama.
Menurut sang ibu, pilihan Tiara menjadi dokter bukanlah kebetulan. Ia terinspirasi oleh kakaknya yang selama ini dikenal tekun dan mencintai profesinya.
"Kakaknya menjadi motivasi terbesar. Dia melihat bagaimana kakaknya menjalankan profesi dokter dengan penuh tanggung jawab. Mereka ingin menjadi dokter karena ingin menolong orang lain. Bidang kesehatan adalah bidang kemanusiaan," katanya.
Bahkan, semangat itu kini juga tumbuh pada adik bungsu mereka, Elin yang masih duduk di kelas III SMA.
"Adiknya juga sekarang bercita-cita menjadi dokter. Kalau mereka bertiga berkumpul, yang sering diceritakan adalah pengalaman kakaknya saat bekerja sebagai dokter. Dari situ mereka semakin termotivasi," ujarnya.
Meski demikian, tragedi yang menimpa dr. Icha tentu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, termasuk bagi Tiara yang kini mengikuti jejak sang kakak.
Sang ayah, Gabriel Pakaenoni mengakui pengalaman pahit tersebut menjadi beban emosional yang harus dihadapi bersama.
Namun sebagai orang tua, ia terus menguatkan anak-anaknya agar tidak menyerah pada rasa takut.
"Dalam hidup ini banyak hal yang harus kita hadapi dan kita atasi. Yang paling penting adalah bekerja secara profesional, menjalankan tugas sesuai tujuan mulia profesi, dan jangan pernah lupa untuk selalu berserah kepada Tuhan. Dengan itu, kita bisa memberikan yang terbaik bagi sesama," katanya.
Bagi keluarga Pakaenoni, kepergian Icha memang meninggalkan ruang kosong yang tak tergantikan. Namun semangat pengabdian yang diwariskannya kini terus hidup melalui langkah sang adik, Tiara, yang memilih melanjutkan cita-cita kemanusiaan yang pernah diperjuangkan kakaknya. (uge)