Demi Sekolah Anak, Linda Pilih Gadai Emas, Supriani Rela Menjualnya
Sigit Ariyanto June 30, 2026 11:42 PM

Kalimat itu terlontar dari Linda Pancaningrum, seorang ibu rumah tangga di Surakarta yang selama bertahun-tahun menjadikan logam mulia sebagai tabungan pendidikan kedua anaknya Linda saat ditemui Tribunnews.com di kediamannya di Pasar Kliwon, Surakarta, jawa Tengah, Kamis (25/6/2026) pagi.

Sejak sebelum menikah, ia rutin mengumpulkan emas sebagai dana bekal pendidikan. Bekal itu kini dipersiapkan untuk kedua anaknya yang bersekolah di sekolah swasta.

Saat membutuhkan biaya sekolah, Linda lebih memilih menggadaikan emas dibanding menjualnya agar asetnya tetap dimiliki dan bisa ditebus kembali.

Menurutnya, menjual emas sering kali menimbulkan penyesalan karena harga emas hampir selalu naik dari waktu ke waktu. Namun ia mengakui pernah menjual emas ketika kenaikan harganya memberikan keuntungan besar dan kebutuhan pendidikan anak tidak bisa ditunda.

Namun pilihan berbeda diambil Supriani, warga Tawangmangu, Karanganyar. Demi menebus ijazah anak yang baru lulus SMA, ia rela melepas cincin dan gelang emas miliknya meski harus menjual saat harga sedang turun.

"Rugi memang, tapi mau bagaimana lagi. Yang penting anak bisa ambil ijazah," ujarnya seusai melakukan transaksi di Toko Emas Jawa Neo Grand Mall, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (24/6/2026) siang.

Meski harus merugi karena harga emas sedang turun, Supriani mengaku tidak memiliki pilihan lain. Baginya, pendidikan anak jauh lebih penting daripada mempertahankan perhiasan yang dimiliki.

Dua kisah tersebut menggambarkan dilema yang setiap tahun dihadapi banyak orang tua menjelang tahun ajaran baru. Ketika biaya pendidikan datang bersamaan, emas menjadi aset yang paling cepat dicairkan. Pertanyaannya, lebih baik dijual atau digadaikan?

Fenomena itu tercermin dari meningkatnya aktivitas transaksi emas di Solo. Pegadaian Cabang Cokronegaran mencatat transaksi gadai naik sekitar 12 persen sejak Mei hingga Juli 2026. Sebagian besar nasabah memanfaatkan gadai emas untuk memperoleh dana cepat membayar uang sekolah, biaya kuliah, hingga kebutuhan pendidikan lainnya.

"Memang sudah menjadi tren setiap menjelang tahun ajaran baru. Banyak nasabah yang datang untuk menggadaikan emas karena membutuhkan dana untuk biaya sekolah anak, kuliah, maupun kebutuhan rumah tangga lainnya," ujar Pimpinan Cabang Pegadaian Cokronegaran, Imaculata Diah Nurcahyaningsih, saat ditemui di Kantor Pegadaian Cokronegaran, Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah pada Kamis (25/6/2026) siang.

Di sisi lain, Toko Mas Jawa Neo Solo Grand Mall justru melihat fenomena berbeda. Meski transaksi buyback meningkat menjelang tahun ajaran baru, jumlah masyarakat yang membeli emas hampir mengimbangi jumlah yang menjualnya. Selisih kedua transaksi hanya sekitar 10–15 persen.

Area Manager Toko Mas Jawa Neo Solo Grand Mall, Arie Widiarti, mengatakan masyarakat kini mulai memandang emas bukan sekadar aset yang dijual saat membutuhkan uang, tetapi juga investasi yang nilainya terus meningkat.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya masyarakat lebih banyak menjual emas ketika harga naik, tahun ini perilaku tersebut mulai berubah. Banyak konsumen memilih tetap membeli emas karena khawatir harganya akan terus meningkat.

"Transaksi jual atau buyback dengan pembelian emas itu agak imbang. Selisihnya tipis sekitar 10 sampai 15 persen," kata Arie pada Rabu (24/6/2026) siang di Toko Emas Jawa Neo Solo Grand Mall, Surakarta, Jawa Tengah.

Menurutnya, konsumen yang menjual emas umumnya membutuhkan dana untuk biaya sekolah, membeli tanah, kendaraan, maupun kebutuhan mendesak lainnya. Sementara pembeli memandang emas sebagai investasi jangka panjang yang nilainya terus bertumbuh.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap emas. Logam mulia kini tidak hanya menjadi aset yang dicairkan saat kondisi terdesak, tetapi juga dipersiapkan sebagai tabungan pendidikan.

Pandangan itu diperkuat pakar ekonomi sekaligus Founder of Murakabi Economics Prof Dr Roderikus Agus Trihatmoko. Menurutnya, emas merupakan instrumen investasi paling aman ketika kondisi ekonomi tidak menentu karena risikonya rendah, mudah dicairkan, dan nilainya cenderung meningkat dalam jangka panjang.

Ia menjelaskan keputusan menjual atau menggadaikan emas tidak bisa disamaratakan. Semuanya bergantung pada tujuan pemilik aset.

"Kalau emas sifatnya saving, lebih baik digadaikan saja. Tetapi kalau memang untuk investasi, menjual ketika harga sedang tinggi menjadi pilihan yang tepat," jelasnya dalam wawancara dengan Tribunnews melalui sambungan telepon pada Jumat (26/6/2026) di Surakarta, Jawa Tengah.

Di tengah biaya pendidikan yang terus meningkat setiap tahun, emas kembali membuktikan fungsinya bukan sekadar perhiasan. Bagi sebagian keluarga, logam mulia menjadi tabungan masa depan yang dipertahankan melalui gadai. Bagi keluarga lain, emas menjadi pengorbanan terakhir yang rela dilepas agar pendidikan anak tetap berjalan.

#Emas #HargaEmas #GadaiEmas #JualEmas #InvestasiEmas #LogamMulia #TabunganPendidikan #BiayaSekolah #BiayaPendidikan #TahunAjaranBaru #Pegadaian #BuybackEmas #Surakarta

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.