Goresan Canting Girilayu Tak Hanya Wariskan Batik, Tetapi Juga Cara Menjaga Kehidupan
Sri Juliati July 01, 2026 12:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, KARANGANYAR – Di sebuah rumah batik di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Karanganyar, Partinah duduk mengawasi cucunya yang tengah asyik memberi warna pada selembar kain putih.

Sesekali ia tersenyum, lalu pandangannya kembali tertuju pada tangan-tangan kecil yang mulai luwes memainkan kuas.

Bagi perempuan yang menjadi generasi keempat penerus UMKM Batik Tulis Giri Wastra Pura itu, pemandangan tersebut lebih dari sekadar proses belajar membatik. Di sanalah ia melihat harapan agar warisan leluhur tetap hidup.

“Batik tulis ini bukan sekadar kain bercorak. Ini warisan leluhur. Kalau tidak kita yang jaga, siapa lagi?” tuturnya kepada Tribunews.com, pada Sabtu (20/6/2026).

Cucu yang dimaksud bernama Camelia, siswi yang sudah beranjak kelas X SMA, kini menjadi generasi kelima pengrajin Batik Tulis Giri Wastra Pura.

Di usianya yang masih belia, Camelia mulai akrab dengan dunia batik. Bagi sebagian remaja, membatik mungkin terdengar kuno. Namun bagi Camelia, batik justru menjadi bagian dari kesehariannya, tempat ia mengenal sejarah sekaligus identitas keluarganya.

Sejak duduk di bangku kelas 4 SD, Camelia sudah dilibatkan dalam proses membatik. Awalnya ia belajar membuat pola, kemudian membantu proses pewarnaan.

Kini, tangannya mulai terbiasa memegang canting dan kuas untuk menyelesaikan berbagai tahapan pembuatan batik tulis.

“Cucu saya sudah saya libatkan sejak kecil. Supaya tahu, supaya merasa memiliki. Paling tidak bisa menggambar dan mewarnai,” kata Partinah.

Baca juga: Kemandirian Ekonomi Masyarakat Desa Diperkuat Melalui Peningkatan Pelaku UMKM

Baginya, regenerasi bukan semata-mata soal menjaga keberlangsungan usaha keluarga.

Lebih dari itu, ia ingin anak-anak tumbuh dengan rasa memiliki terhadap batik. Dengan begitu, mereka akan menjaga sekaligus meneruskan tradisi yang diwariskan para leluhurnya.

“Cucu-cucu kami tidak mau warisan ini sirna. Eman kalau sampai hilang,” ujarnya.

Desa Girilayu memang telah lama dikenal sebagai salah satu sentra batik tulis di Kabupaten Karanganyar.

Namun seperti kerajinan tradisional pada umumnya, keberadaan para pengrajin kini menghadapi tantangan regenerasi. Jumlah anak muda yang memilih menjadi pembatik tidak sebanyak generasi sebelumnya.

Saat ini terdapat sekitar 300 pengrajin batik di Girilayu. Dari jumlah itu, hanya sekitar 30 hingga 40 persen yang berasal dari kalangan muda.

Sebagian besar merupakan anak atau cucu para pembatik senior, seperti Camelia.

Karena itu, Partinah bersama para pengrajin lain berupaya mengenalkan batik kepada generasi muda sejak dini.

Anak-anak diberi kesempatan belajar sambil terlibat langsung dalam proses produksi sehingga perlahan tumbuh rasa memiliki terhadap profesi tersebut.

“Saya biasakan. Apa yang bisa mereka kerjakan ya saya serahkan. Kalau ada pesanan dari tamu, saya ajak mereka bantu saat libur sekolah,” ujarnya.

GENERASI KELIMA - Camelia cucu Partinah generasi kelima pengrajin batik tulis Giri Wastra Pura
GENERASI KELIMA - Camelia cucu Partinah generasi kelima pengrajin batik tulis Giri Wastra Pura (Tribunnews.com/Chrysnha Pradipha)

Beradaptasi dengan Zaman, Tetap Menjaga Tradisi

Di tengah upaya melestarikan batik tulis, Giri Wastra Pura juga terus mengikuti perkembangan zaman.

Partinah mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi sekaligus menyediakan pembayaran digital melalui QRIS untuk memudahkan pelanggan.

Menurutnya, sistem pembayaran non-tunai memberi rasa aman, terutama untuk transaksi bernilai besar karena pembeli tidak perlu membawa uang tunai.

"QRIS ini meminimalisir risiko. Pembeli tak perlu bawa uang tunai, cukup pakai QRIS, lunas selesai," ujar Partinah.

Selain menjual kain batik, Giri Wastra Pura juga melayani pesanan pakaian batik yang kerap dijadikan suvenir resmi Pemerintah Kabupaten Karanganyar.

Produk-produk tersebut dikemas dalam kotak eksklusif yang memadukan nilai budaya dengan tampilan modern.

"Alhamdulillah, kalau ada tamu dari Pemkab Karanganyar, sering kali pesan suvenirnya dari sini," katanya.

Tak hanya menjadi tempat produksi, Giri Wastra Pura berkembang menjadi ruang edukasi batik.

Pengunjung dapat belajar membatik secara langsung melalui program eduwisata yang dijalankan bersama Hotel Nava dan Rumah Atsiri.

Partinah juga aktif menjadi narasumber pelatihan membatik di berbagai daerah, termasuk memberikan pelatihan selama sembilan hari di Makassar dan Parepare, Sulawesi Selatan, pada 2022.

"Selama sembilan hari penuh kami pelatihan, antusiasme peserta luar biasa," kenangnya.

Perjalanan Giri Wastra Pura turut diperkuat melalui program BRIncubator yang memberikan pendampingan bagi pelaku UMKM.

Melalui program tersebut, Partinah dan para pengrajin memperoleh pembinaan mengenai strategi pemasaran, pengembangan usaha, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan daya saing.

"Banyak yang kami pelajari, terutama soal pemasaran dan pengembangan usaha," ujar Partinah.

Regenerasi Warisan Batik Girilayu

Upaya regenerasi yang berlangsung di Girilayu juga menjadi perhatian akademisi.

Wakil Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret, Dr. Desy Nurcahyanti, S.Sn., M.Hum., meneliti proses pewarisan keterampilan membatik di desa tersebut dan menuangkannya dalam buku Dinamika Regenerasi Perajin Batik Eksplorasi, Model dan Motif Mbok Semok yang terbit pada 2024.

BATIK GIRILAYU - Pengrajin batik tulis tengah melakukan proses pengerjaan produksi di rumah batik Giri Wastra Pura di Desa Girilayu, Matesih, Karanganyar (Tribunnews.com/Chrysnha Pradipha)

Dalam wawancara bersama Tribunnews pada Jumat (19/6/2026), Desy menjelaskan bahwa kemampuan membatik di Girilayu diwariskan secara turun-temurun melalui kebiasaan sehari-hari.

Anak-anak, terutama perempuan, dilibatkan secara langsung dalam proses membatik sejak usia dini.

“Kegiatan dan aktivitas berulang adalah konsep afirmatif, sehingga menstimulasi anak untuk mencoba (membatik),” jelasnya.

Menurut Desy, proses pewarisan tersebut tidak dilakukan dengan paksaan.

Anak biasanya lebih dulu menyampaikan keinginan belajar kepada ibunya. Setelah itu, mereka mulai dikenalkan pada tahapan dasar membatik secara bertahap.

Dalam bukunya, Desy juga menguraikan berbagai perlengkapan yang hampir selalu ditemukan di rumah-rumah warga Girilayu yang masih aktif membatik.

Peralatan itu meliputi gawangan sebagai penyangga kain, kain mori, kompor, wajan kecil untuk melelehkan malam, canting, hingga dingklik atau bangku kecil yang digunakan saat proses mencanting.

Menurut Desy, perubahan sosial turut memengaruhi posisi perempuan di tengah masyarakat Jawa saat ini.

Perempuan kini memiliki ruang yang lebih luas untuk menentukan pilihan hidup, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga keputusan dalam kehidupan rumah tangga.

“Semua terjadi karena akses pendidikan. Perempuan diizinkan untuk menjadi pandai, sehingga tidak ada tuntutan untuk menjadi perempuan seperti konsep konvensional,” ungkapnya.

Meski demikian, membatik tetap memiliki kedekatan yang kuat dengan perempuan.

Baginya, batik merupakan representasi nilai-nilai feminin yang tercermin melalui garis-garis lengkung, ketelitian, kesabaran, dan kehalusan proses pembuatannya.

Seluruh tahapan membatik membentuk karakter yang mengedepankan rasa, ketekunan, dan konsentrasi.

“Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi untuk menyambung titik dan garis menggunakan canting paling sesuai dikerjakan perempuan,” paparnya.

Desy juga menyoroti posisi sosial perempuan pembatik di Girilayu.

Menurutnya, kemampuan membatik memberikan nilai tersendiri di lingkungan masyarakat setempat.

“Membatik membuat lebih sempurna untuk ukuran sosial di wilayah tersebut,” tegasnya.

Dalam buku tersebut, tepatnya pada halaman 69, dijelaskan bahwa mayoritas perempuan pembatik di Girilayu berstatus sebagai ibu rumah tangga.

Sementara bagi perempuan yang bekerja sebagai guru maupun karyawan, membatik biasanya dilakukan pada waktu senggang sebagai aktivitas yang memberi kebahagiaan dan kepuasan tersendiri.

Hingga kini, membatik belum sepenuhnya dipandang sebagai sumber penghasilan utama. Kondisi tersebut dipengaruhi potensi sumber daya alam dan sektor pariwisata yang cukup menopang perekonomian masyarakat Girilayu.

Desa Girilayu sendiri merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi karena menjadi lokasi makam penguasa dan kerabat Mangkunegaran.

Wilayah seluas 311,366 hektare itu terdiri atas lima dusun dengan jumlah penduduk sekitar 3.779 jiwa berdasarkan data Bappeda Kabupaten Karanganyar tahun 2024.

Selain dikenal sebagai sentra batik tulis, Girilayu juga berkembang sebagai desa wisata yang resmi dibuka pada 2017.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat masih memegang teguh ajaran Tri Dharma yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi pedoman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk membatik.

Berdasarkan penelitian Nurcahyanti (2024), Tri Dharma terdiri atas tiga nilai utama, yakni rumangsa melu handarbeni sebagai kesadaran untuk ikut memiliki, wajib melu hangrungkepi sebagai kewajiban menjaga, serta mulat sarira hangrasa wani yang mengajarkan sikap mawas diri sekaligus keberanian berbuat baik.

Nilai-nilai itulah yang terus hidup di tengah masyarakat Girilayu. Dalam setiap goresan canting, regenerasi tidak hanya dimaknai sebagai pergantian generasi pembatik, tetapi juga sebagai upaya meneruskan warisan budaya, nilai kehidupan, dan kearifan lokal kepada anak cucu mereka.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.