Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha
TRIBUNNEWS.COM, SUKOHARJO -Suara dawai gitar terdengar lirih dari ruang tamu sebuah rumah di Ngrombo, Baki, Sukoharjo.
Petikan semakin melengking ketika mendekati bagian belakang rumah yang disebut sebagai 'studio'.
Ada kalanya sang pengrajin menempa, mengetuk hingga memetik senar-senar agar nada kunci C seirama dengan Dm (deminor) jika ingin lagu genre pop.
"Ini sedang setem gitar, langkah finisihing sebelum gitar dikirim kepada pemesannya," ujar Andi Pratama, pengrajin gitar di Desa Ngrombo, ditemui pada Selasa (16/6/2026).
Andi mengaku, jual beli gitar telah memasuki babak baru beberapa tahun terakhir ini dengan adanya kemajuan teknologi. Termasuk perkembangan market place.
Persaingan pun semakin sengit, tak sedikit yang membanting harga lantaran menjualnya pada platform live streaming sebuah media sosial.
"Jadi kita harus pintar-pintar cari pasar, kalau mengedepankan kualitas ya benar-benar dijaga karena pasarnya pasti ada," papar dia.
Di desa ini, terlahir ribuan gitar, bahkan sudah banyak gitar yang berpindah tangan. Tempat yang menjadi desa wisata gitar ini jadi saksi bisu ketekunan para pengrajin yang terus bertahan di tengah badai perubahan zaman.
Dari deretan rumah produksi yang berjajar di Desa Ngrombo, nama Sumardi menjadi salah satu sosok yang paling dikenal.
Baca juga: Ketika Dapur UMKM Emping Melinjo Berubah Menjadi Ruang Belajar Mahasiswa
Pria sederhana itu telah mengabdikan hidupnya pada kerajinan gitar sejak 1992. Puluhan tahun ia menghabiskan waktu di balik meja kerja, membentuk potongan kayu menjadi alat musik yang kemudian dimainkan di berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri.
Perjalanannya tentu tidak selalu mulus.
Seperti alunan lagu yang kadang meninggi lalu merendah, usaha yang dirintis Sumardi juga berkali-kali diterpa tantangan.
Keterbatasan modal, naik turunnya permintaan pasar, hingga persaingan yang semakin ketat di era digital pernah menjadi ujian yang harus dihadapi. Namun, ia memilih tetap bertahan.
Bagi Sumardi, setiap gitar yang selesai dibuat bukan sekadar produk yang siap dijual. Di baliknya tersimpan cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan keyakinan bahwa industri gitar di Ngrombo masih memiliki masa depan.
Sekitar dua dekade lalu, menjalankan usaha tidak semudah sekarang. Akses terhadap permodalan menjadi salah satu hambatan terbesar yang dihadapi para pengrajin.
Saat itu, mengajukan pinjaman ke bank bukan perkara mudah. Persyaratan yang cukup rumit membuat Sumardi bahkan harus menggunakan nama pengrajin lain agar bisa memperoleh modal usaha.
Padahal, bagi para pengrajin, modal bukan sekadar uang.
Modal menjadi penopang utama agar mereka bisa membeli bahan baku, membayar upah pekerja, sekaligus menjaga produksi tetap berjalan. Tanpa itu, usaha akan sulit berkembang, bahkan sekadar bertahan pun menjadi tantangan.
Sumardi masih mengingat betul masa-masa tersebut.
“Dulu kami benar-benar kesulitan. Tidak ada banyak pilihan, dan sistem perbankan masih sangat rumit bagi pengrajin kecil seperti kami,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi itu perlahan berubah. Kehadiran Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI membuka akses permodalan yang lebih mudah bagi pelaku UMKM, termasuk para pengrajin gitar di Ngrombo.
Proses pengajuan kini lebih sederhana, persyaratannya lebih mudah dipenuhi, dan bunga pinjamannya relatif ringan. Perubahan itu memberi ruang bagi para pengrajin untuk mengembangkan usaha tanpa harus bergantung pada pinjaman berbunga tinggi.
Bagi Sumardi, manfaatnya benar-benar terasa.
Pinjaman KUR BRI sebesar Rp20 juta menjadi tambahan modal yang membuat roda usahanya terus berputar.
Bahan baku dapat dibeli tepat waktu, produksi tetap berjalan, dan stok gitar selalu tersedia untuk memenuhi permintaan pasar.
“Kalau seminggu ini ada pesanan 50 gitar, kita harus stok tiga kali lipatnya. Biar perputaran produksi terus berjalan dan penghasilan tetap ada,” ujar Sumardi.
Tambahan modal tersebut membuatnya lebih tenang menjalankan usaha. Produksi tidak lagi tersendat, sementara kebutuhan keluarga tetap bisa terpenuhi.
Sebagai Ketua Paguyuban Klaster Gitar Amanah, peran Sumardi tidak berhenti sebagai pengrajin.
Ia juga menjadi penghubung antara warga dengan pihak bank.
Tak jarang petugas BRI meminta bantuannya untuk menyampaikan informasi mengenai KUR kepada para pengrajin. Ia juga kerap mengingatkan warga agar disiplin membayar angsuran tepat waktu.
Peran itu tumbuh dari pengalaman pribadinya.
Sumardi memahami betul bagaimana sulitnya memperoleh akses permodalan saat merintis usaha. Karena itu, ia ingin pengrajin lain tidak mengalami kesulitan yang sama.
Masih banyak pengrajin yang belum mengetahui tempat memperoleh pinjaman yang aman, belum memahami prosedur pengajuan, atau merasa ragu berhubungan dengan lembaga perbankan.
Di situlah Sumardi mengambil peran.
Ia dengan sabar menjelaskan manfaat KUR, persyaratan yang harus dipenuhi, hingga pentingnya mengelola pinjaman dengan bijak agar tidak menjadi beban di kemudian hari.
“Ya saya sudah dekat dengan mantri BRI. Kalau mereka tanya siapa yang butuh KUR, saya bantu. Kadang juga mengingatkan warga kalau ada yang telat bayar,” katanya sambil tersenyum.
Baginya, membantu sesama pengrajin merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Ia percaya, jika industri gitar Ngrombo ingin terus bertahan dan berkembang, maka seluruh pengrajinnya harus memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh akses permodalan.
Kehadiran KUR BRI pun menjadi salah satu penopang penting bagi keberlangsungan industri gitar di Ngrombo.
Di tengah persaingan pasar digital yang semakin ketat dan perang harga yang sulit dihindari, akses modal membuat para pengrajin tetap bisa menjaga kualitas produk sekaligus mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Sumardi optimistis industri gitar Ngrombo masih memiliki masa depan.
Selama para pengrajin terus bekerja, menjaga kualitas, dan mendapat dukungan permodalan seperti KUR BRI, ia yakin gitar-gitar buatan Ngrombo akan terus diminati, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di pasar internasional.
“Mau KUR? Ingatnya BRI,” ucapnya mantap.
Desa Ngrombo dikenal sebagai salah satu dari 10 klaster unggulan UMKM di Kabupaten Sukoharjo, dengan identitas kuat sebagai sentra kerajinan gitar.
Nama desa ini tak lagi hanya dikenal di tingkat lokal. Hasil karya para pengrajinnya bahkan telah menembus pasar luar negeri.
Filipina hingga Yunani menjadi beberapa negara tujuan pengiriman gitar buatan tangan warga Ngrombo.
Sumardi menyebut, saat ini terdapat sekitar 225 pengrajin yang masih aktif memproduksi gitar di desa tersebut.
Setiap bulan mereka menghasilkan ribuan gitar dengan beragam jenis dan kualitas. Harganya pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Meski begitu, tantangan yang dihadapi juga semakin besar.
Perkembangan teknologi dan pesatnya pemasaran melalui media sosial membuat persaingan semakin terbuka. Pengrajin dan distributor dituntut mampu beradaptasi agar tidak tertinggal oleh perubahan pasar.
Di sisi lain, kualitas tetap menjadi kekuatan utama yang dipertahankan para pengrajin Ngrombo. Konsistensi hasil produksi menjadi nilai lebih yang masih dicari para pelanggan maupun toko alat musik yang selama ini menjadi mitra mereka.
“Ini menjadi tantangan kami pengrajin gitar Desa Ngrombo untuk bertahan. Kerajinan gitar harus tetap menjadi UMKM yang jaya. Apalagi kami menyandang predikat klaster gitar, tentu harus terus dilestarikan,” kata Sumardi.
Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, menyatakan bahwa pihaknya menjadi wadah agar UMKM bisa berkembang dan naik kelas.
“Kami memberikan pelatihan, pendampingan, dan inkubasi bisnis agar UMKM bisa mandiri dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Condro pada Minggu (10/5/2026).
Program yang ditawarkan mencakup berbagai pelatihan tematik, termasuk pelatihan berbasis momen seperti workshop takjil saat bulan Ramadan.
Contoh produk yang dibuat dalam workshop tersebut antara lain es kuwut, mochi, dan kue bawang dengan modal kurang dari Rp50.000.
Seluruh program pelatihan di Rumah BUMN Solo disediakan secara gratis bagi para peserta.
Hingga kini terdapat sekitar 85.157 UMKM yang terdaftar pada rumahbumn.id.
Dari jumlah tersebut, sekitar 300 UMKM aktif dalam grup komunikasi daring Solo Raya.
Jumlah mitra terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun sempat menurun saat pandemi COVID-19.
Pasca pandemi, muncul banyak UMKM baru dari kalangan produktif, seperti mahasiswa dan lulusan baru.
Kriteria utama untuk menjadi mitra adalah memiliki semangat wirausaha, baik yang sudah punya usaha maupun yang baru ingin memulai.
Rumah BUMN Solo juga berperan dalam peningkatan daya saing dan akses pasar bagi UMKM.
Mereka menggandeng platform digital seperti Shopee dan Tokopedia untuk mendukung pemasaran daring.
Pelatihan yang diberikan mencakup public speaking, konten digital, dan editing video untuk menunjang promosi.
“Dengan pelatihan ini, UMKM bisa tampil beda dan punya ciri khas produk yang kuat,” kata Condro.
Produk mitra binaan juga sering diikutsertakan dalam pameran dan bazar, termasuk saat ada kunjungan direksi BRI atau pejabat kementerian.
Beberapa produk unggulan bahkan sudah berhasil menembus pasar ekspor seperti ke Kanada.
Kolaborasi menjadi prinsip utama dalam kerja Rumah BUMN Solo, sesuai arahan Kementerian BUMN.
Selain itu, Rumah BUMN Solo juga mendukung program tahunan BRI seperti BRI UMKM Ekspor yang mempertemukan pelaku usaha dan calon buyer dari luar negeri.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun kesadaran UMKM tentang pentingnya peningkatan keterampilan usaha.
Condro menilai, pelatihan harus dikemas menarik agar UMKM tertarik belajar dan meningkatkan kapasitas mereka.
“Kami tidak ingin usaha mereka sekadar untung sesaat, tapi bisa bertahan bahkan sampai ke generasi berikutnya,” tambahnya.
Ke depan, Rumah BUMN Solo berkomitmen untuk terus memberikan dukungan berupa ilmu, keterampilan, dan akses jejaring bisnis bagi para UMKM.
Keberadaan Rumah BUMN Solo membawa manfaat bagi ribuan UMKM, juga menjadi rumah kedua para pelaku usahanya.
Di antaranya yang berhasil mengembangkan sayap adalah UMKM Lintang Kejora milik Rina Sulistyaningsih asar Kampung Baru hingga Sangkar Burung Eank Solo milik Eko Allif Muryanto asal Mojosongo yang telah mengirim produknya hingga ke Belgia.
Masih banyak lagi UMKM binaan Rumah BUMN Solo yang telah mandiri dan menjadi inspirasi UMKM lainnya di Solo Raya.
(*)