TRIBUN-TIMUR.COM - Founder PT Marlip Indo Mandiri, Ir Masrah Marang, mengaku masih fokus pengembangan kendaraan listrik untuk sektor angkutan umum.
Ia belum berencana memproduksi mobil listrik penumpang untuk penggunaan pribadi.
Disampaikan saat menjadi narasumber dalam program Ngobrol Virtual (Ngovi) Tribun Timur yang dipandu host I Luh Devi Sania.
Dalam kesempatan itu, ia hadir bersama juniornya semasa kuliah di UMI, Dr Andi Surahman Batara, yang kini menjabat Wakil Dekan III FKM UMI.
Masrah menjelaskan, fokus pada kendaraan angkutan umum bukan tanpa alasan.
Menurutnya, sektor transportasi komersial menjadi pengguna bahan bakar minyak (BBM) terbesar di Indonesia.
"Untuk sementara saya akan fokus di mobil angkutan," kata Masrah.
Ia menyebut jumlah kendaraan angkutan umum, seperti bus dan angkutan perkotaan, mencapai sekira 7 hingga 8 juta unit di Indonesia.
Meski hanya sekira 30 persen dari total kendaraan, angkutan umum mengonsumsi sekira 70 persen penggunaan BBM nasional karena beroperasi setiap hari.
"Yang paling banyak menggunakan BBM itu angkutan umum. Mereka beroperasi setiap hari sehingga konsumsi BBM-nya sangat besar," ujarnya.
Karena itu, elektrifikasi kendaraan umum akan memberi dampak yang jauh lebih besar terhadap penghematan energi dibandingkan kendaraan pribadi.
Ia mengaku hasil riset pasar menunjukkan kebutuhan kendaraan listrik untuk angkutan umum masih sangat besar di berbagai daerah di Indonesia.
Bahkan, apabila produksi terus dilakukan dalam satu dekade ke depan, permintaan pasar diperkirakan masih belum akan terpenuhi.
"Setelah kami riset pasar, jumlah kebutuhannya sangat besar di seluruh Indonesia. Mungkin kalau kami produksi sampai 10 tahun ke depan pun belum akan habis," ujarnya.
Masrah merupakan alumnus Fakultas Teknik Jurusan Elektro UMI angkatan 1996 yang telah berhasil mengembangkan dan memproduksi ratusan kendaraan listrik karya anak bangsa.
Perjalanan tersebut berawal dari mimpi yang dirintis sejak 1996 hingga akhirnya mampu menghadirkan berbagai kendaraan listrik untuk kebutuhan transportasi dan layanan publik.
Pada puncak perayaan Milad ke-72 UMI, Selasa 23 Juni 2026, Masrah Marang menghibahkan dua unit kendaraan listrik kepada almamaternya.
Dua kendaraan tersebut terdiri atas satu unit bus angklung dan satu unit ambulans mini.
Atas kontribusinya, UMI juga menganugerahkan pin emas kepada Masrah Marang sebagai salah satu alumni berprestasi.
Titik terendah dalam perjalanan membangun Marlip selama 30 tahun?
Masrah Marang: Kalau untuk titik terendah, dalam proses pelaksanaannya memang karena saya sudah terbiasa sejak mahasiswa sebagai aktivis, jadi tidak pernah menyerah sesulit apa pun.
Misalnya saat saya mengurus untuk mendapatkan NIK.
Jadi, pin number itu kan 17 digit yang diberikan negara kepada sebuah perusahaan, di mana tiga angka di depannya harus disetujui secara internasional.
Kode itu menunjukkan mobil ini dibuat di negara mana dan oleh perusahaan siapa.
Jadi, Marlip diberikan kode MG3. Huruf M itu Asia, G itu Indonesia, dan angka 3 adalah PT Marlip.
Kode itu terdaftar secara internasional sehingga nomor rangka yang ada di mobil bisa digunakan di Malaysia maupun di seluruh negara.
Kalau tidak ada nomor rangkanya, tidak bisa.
Makanya banyak hasil penelitian yang hanya menjadi prototipe di beberapa tempat, tetapi tidak bisa masuk ke tahap produksi karena tidak memiliki nomor rangka tersebut.
Tantangannya waktu itu banyak. Bukan hanya dari orang luar, tetapi juga dari teman-teman saya sendiri, termasuk di LIPI, yang mengatakan tidak usah terlalu berharap.
Bahkan ada yang datang menawarkan bantuan, tetapi harus dengan biaya tertentu. Saya tidak mau seperti itu.
Jadi itulah titik-titik yang paling sulit.
Saya berpikir, kalau perjuangan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun tidak sampai ke tahap itu, tentu akan sangat disayangkan.
Kalau tidak berhasil sampai di situ, perjuangan kami bisa menjadi sia-sia.
Seperti apa respons civitas Akademika UMI atas kiprah Marlip?
Surahman Batara: Tentu ini menjadi kebanggaan bagi kami sebagai civitas akademika UMI.
Mobil memang sudah banyak, tetapi mobil listrik yang dibuat oleh alumni sendiri, itulah yang menjadi sesuatu yang istimewa.
Saya kira ini merupakan capaian yang luar biasa di usia UMI yang ke-72 tahun.
Karena itu, pimpinan universitas merancang peluncurannya bertepatan dengan perayaan Milad ke-72 UMI.
Bagi kami, ini adalah kado terindah untuk ulang tahun UMI. Alhamdulillah.
Selain itu, kehadiran Marlip juga diyakini akan menciptakan lapangan kerja baru. Bahkan, ini dapat menjadi awal kerja sama antara Marlip dan UMI.
Misalnya, mahasiswa UMI nantinya bisa mengikuti program magang untuk melihat secara langsung proses pengembangan dan produksi kendaraan listrik di Marlip.
Dengan begitu, mereka dapat memperoleh pengalaman sekaligus wawasan mengenai industri kendaraan listrik.
Bagaimana perkembangan inovasi mahasiswa UMI saat ini?
Surahman Batara: Saya kira inovasi mahasiswa terus berjalan.
Seperti pesan Ali bin Abi Thalib, didiklah anakmu sesuai zamannya karena zamanmu berbeda dengan zaman anak-anakmu.
Saat ini, selain didukung oleh universitas, atmosfer akademik juga terus diperkuat oleh kementerian melalui berbagai program dan skema hibah riset yang dapat diikuti mahasiswa.
Bahkan, ada program yang secara khusus ditujukan untuk organisasi kemahasiswaan.
Perjalanan Masrah Marang juga bisa menjadi inspirasi bagi adik-adik mahasiswa di kampus. Beliau membuktikan bahwa alumni UMI mampu melahirkan inovasi yang membanggakan.
Selama ini mungkin banyak yang menganggap mobil listrik hanya bisa dikembangkan oleh negara-negara yang sudah maju dalam teknologi otomotif.
Namun ternyata, dari Makassar, tepatnya dari Universitas Muslim Indonesia, lahir sosok seperti Masrah Marang yang mampu mengembangkan kendaraan listrik karya anak bangsa.
Itu tentu menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi mahasiswa untuk terus berinovasi.
Apa dukungan UMI terhadap pengembangan teknologi mahasiswa?
Surahman Batara: Ya, di UMI kami terus mendukung mahasiswa dengan melengkapi berbagai fasilitas yang mungkin belum sempat dinikmati Kak Masrah saat masih kuliah sehingga waktu itu beliau harus mencari tempat lain untuk mengembangkan inovasinya.
Alhamdulillah, di usia UMI yang ke-72 tahun ini kami terus berbenah dengan meningkatkan fasilitas bagi mahasiswa, terutama laboratorium di berbagai bidang, baik di Fakultas Teknik, Fakultas Kesehatan, maupun laboratorium lapangan lainnya.
Kami ingin mahasiswa memiliki ruang yang lebih memadai untuk mengembangkan riset dan inovasi sesuai perkembangan teknologi.
Selain mengembangkan kendaraan angkutan umum listrik, Kak Masrah juga telah menghadirkan berbagai inovasi di bidang kesehatan.
Salah satunya adalah kendaraan yang digunakan untuk mobilisasi pasien di rumah sakit.
Ke depan, kendaraan tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung penanganan kebencanaan maupun kebutuhan layanan kesehatan di berbagai daerah.
Apa Bentuk Kerja Sama Marlip dengan UMI ke Depan?
Masrah Marang: Dalam rangka Milad ke-72 UMI, kami telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Yayasan Wakaf UMI untuk mengembangkan industri kendaraan listrik beserta komponen intinya.
Komponen inti yang akan dikembangkan meliputi baterai, motor listrik, controller, dan berbagai teknologi pendukung lainnya.
Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada riset sebagai bagian dari peran perguruan tinggi, tetapi juga diarahkan untuk membangun industri yang mampu membuka lapangan kerja.
Harapannya, alumni UMI dari berbagai fakultas dapat terserap sesuai bidang keahliannya dan ikut berkontribusi dalam pengembangan industri kendaraan listrik nasional.
Yang lebih penting lagi, kami ingin Indonesia memiliki merek mobil sendiri.
Kalau menyebut Jepang, orang langsung teringat Toyota, Mitsubishi, atau Honda karena industri otomotif telah menjadi identitas dan kebanggaan bangsa mereka.
Sementara itu, Indonesia hingga kini belum memiliki merek otomotif nasional yang benar-benar menjadi kebanggaan.
Karena itu, perjuangan kami adalah menghadirkan merek mobil karya anak bangsa yang lahir dari Indonesia.
Harapan kami, merek tersebut dapat tumbuh dari kampus di Makassar, yakni Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Itulah yang menjadi komitmen bersama antara Yayasan Wakaf UMI, pihak rektorat, dan Marlip untuk terus mengembangkan industri kendaraan listrik ke depan.
Tantangan Indonesia membangun industri otomotif nasional?
Masrah Marang: Kalau kita tidak menguasai teknologinya, siap-siap saja hanya menjadi perakit.
Karena itu, teknologi inti harus benar-benar dikuasai.
Selain itu, industri juga harus ada.
Sehebat apa pun hasil penelitian, kalau tidak ada industri yang menyerapnya, maka inovasi tersebut tidak akan berkembang.
Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri.
Pemerintah membuat kebijakan, kampus serta lembaga riset menghasilkan penelitian, sementara industri menyerap dan mengembangkannya menjadi produk.
Industri seperti yang kami bangun menyadari pentingnya riset sehingga akan mengakomodasi hasil penelitian yang dihasilkan perguruan tinggi maupun lembaga riset di Indonesia.
Berbeda dengan industri yang teknologinya masih bergantung pada riset dari luar negeri. Industri seperti itu umumnya tidak akan menggunakan hasil penelitian yang dikembangkan di dalam negeri.
Kalau kita melihat riset kendaraan listrik di Indonesia, sebenarnya sudah banyak dihasilkan oleh berbagai perguruan tinggi, seperti ITB, ITS, UGM, maupun kampus lainnya.
Namun, belum ada yang benar-benar masuk ke tahap industri.
Menurut saya, hal itu terjadi karena industri di Indonesia belum menguasai teknologi inti dan masih lebih banyak diproyeksikan sebagai industri perakitan, bukan industri yang mengembangkan teknologi sendiri. (Muslimin Emba)