Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
KADO yang paling indah adalah kejujuran dan harapan yang baik. Seperti halnya hari ini, saya ingin memberikan kado terbaik untuk Hari Jadi Ke-80 Korps Bhayangkara, yang tepat jatuh pada hari ini, 1 Juli 2026.
Mengawali tulisan ini, saya memiliki sejumlah data yang, diakui atau tidak, mencoreng nama baik institusi polisi. Bicara soal polisi, kita tidak bisa lupa pada kasus Irjen Ferdy Sambo, Kadiv Propam Mabes Polri, yang menjadi dalang pembunuhan berencana terhadap ajudannya sendiri, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
Sambo yang terus berkelit menjadikan kasus ini menjadi cukup panjang sehingga nama baik kepolisian rontok oleh kasus ini. Apalagi kasus penembakan terhadap Yosua ini hanya sepekan terjadi seusai polisi memperingati hari jadinya yang ke-76. Penembakan terhadap Yosua terjadi, pada 8 Juli 2022.
Pada tahun yang sama, akhir 2022, polisi kembali memperoleh ujian dengan mencuatnya kasus Teddy Minahasa, Kapolda Sumatera Barat, yang justru terlibat dalam jaringan narkoba terbesar di Indonesia. Sebagai Kapolda Sumatera Barat yang sekaligus nyaris dilantik sebagai Kapolda Jawa Timur, Teddy Minahasa merupakan sosok di balik jaringan narkoba lintas negara. Dialah bandar besarnya, sekaligus dialah polisi yang mengamankan pasokan narkoba asal Thailand tersebut.
Masih di tahun yang sama, yaitu 2022, polisi kembali diuji. Kali ini temanya soal profesionalitas pasukan yang ada di lapangan. Pada tahun itu, 135 nyawa melayang akibat tindakan polisi yang tidak terukur dalam sebuah pertandingan sepakbola. Sebanyak 135 suporter yang menyaksikan pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Malang, tewas mengenaskan lantaran gagal nafas. Sebagian dari korban tewas terinjak-injak oleh suporter lain saat berusaha menghindari gas air mata yang ditembakkan di dalam stadion yang pintunya terkunci. Tidak terukurnya pengamanan di Kanjuruhan ini membuka proses rekruitmen di institusi kepolisian yang masih jadi PR hingga saat ini.
Tahun 2022-2023 menurut saya adalah tahun kelam Kepolisian Republik Indonesia. Dan sebagai catatan, dari tahun-tahun babak belurnya institusi kepolisian hingga saat ini nakhoda di institusi ini masih sama, yaitu Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Ada kasus lain yang tidak langsung bersinggungan dengan institusi kepolisian, tetapi menyangkut jenderal polisi, yaitu kasus Firli Bahuri. Jenderal polisi yang menjabat sebagai ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan terhadap mantan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. Sejak ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya, kasus Firli Bahuri ini sampai sekarang menguap begitu saja tanpa kejelasan.
Daftar kasus-kasus yang melibatkan petinggi Polri tersebut rasanya harus menjadi cermin bagi institusi kepolisian untuk terus berbenah. Termasuk, kasus-kasus parsial yang melibatkan kepolisian dalam tugasnya menjamin keamanan dan ketertiban di masyarakat sekaligus penegak hukum.
Masih ingat dengan tagar #percumalaporpolisi atau tagar #noviralnojustice? Tagar tersebut merupakan representasi dari kekecewaan sekaligus harapan publik terhadap institusi kepolisian.
Polisi memang bukan malaikat, namun publik juga tak mau institusi ini tak pernah berbenah. Data yang dirilis Survei Indikator Politik Indonesia, April 2026, mencatat bahwa trust publik ke Polri di angka 71,2 persen. Naik tipis dari 68,9 % tahun lalu, tapi masih di bawah TNI 85,4?n KPK 74,1 % .
Yang juga patut menjadi catatan polisi saat ini adalah dugaan kuat keterlibatan mereka pada konstestasi Pilpres 2024 dan Pilpres-pilpres sebelumnya. Keberadaan Listyo Sigit Prabowo yang sampai saat ini masih menjadi orang pertama di tubuh kepolisian ini patut diduga tak lepas dari perannya pada Pilpres 2024.
Bawaslu RI mencatat, 1.287 temuan dan laporan dugaan ketidaknetralan ASN/TNI/Polri pada Pemilu 2024. Dugaan ini juga terkait pemasangan APK (alat peraga kampanye) yang masif dari salah satu partai politik pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2024. Memang parpol tersebut akhirnya tak lolos ke Senayan karena perolehan suaranya tak mencapai ambang batas minimal yang ditentukan.
Harus diakui, belakangan isu-isu terkait dengan sisi negatif polisi ini agak berkurang. Namun catatan saya, bukannya polisi yang sukses berbenah. Sisi negatif polisi tersebut bukannya hilang, melainkan tertutupi oleh hal lain yang lebih konyol terjadi di negeri ini.
Saya adalah orang yang mencintai institusi ini. Untuk itu, saya berharap, ulang tahun ke-80 kali ini benar-benar menjadi momentum bagi polisi untuk berbenah. Masih banyak orang yang berharap memiliki institusi polisi yang bersih di negeri ini.
Tugas utama polisi untuk memelihara keamanan, ketertiban masyarakat, serta penegakan hukum sekaligus melindungi mengayomi dan melayani masyarakat masih banyak yang harus diperbaiki daripada sibuk mencari gizi melalui dapur MBG.
Dirgahayu Kepolisian Republik Indonesia! Publik di negeri ini masih mendambakan polisi yang baik. (*)