TRIBUNNEWS.COM - Keberadaan kawasan industri berskala besar sering kali hanya menempatkan warga desa sekitar sebagai penonton, atau paling jauh sebagai pekerja pabrik.
Apalagi jika berbicara soal limbah sisa produksi, hal itu kerap dipandang sebelah mata sebagai tumpukan sampah yang membebani lingkungan.
Namun, narasi usang tersebut berhasil didobrak dengan gemilang oleh warga Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Berada di tengah kepungan kawasan industri, Desa Kemudo menolak hanya menjadi penonton setiap truk tronton yang berlalu lalang di wilayahnya.
Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kemudo Makmur, mereka jeli melihat peluang.
Tumpukan sisa operasional pabrik tidak dipandang sebagai sampah, melainkan 'tambang emas' yang kini menjadi urat nadi ekonomi desa.
Langkah besar BUMDes Kemudo Makmur mulai menemukan pijakan utamanya pada tahun 2016.
Saat itu, pengurus BUMDes memberanikan diri membuka pintu kemitraan dengan PT Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM) untuk mengelola aval yakni limbah sisa produksi dan kemasan.
Buah dari langkah itu, kini total ada tujuh pekerja paruh baya yang bekerja di bagian pengolahan aval di samping Kantor Desa Kemudo.
Mereka tampak bergotong royong menimbang dan mengangkut hasil pilahan limbah kemasan yang menggunung di gudang aval, Jumat (26/6/2026) siang.
Satu persatu aval dalam ikatan besar ditimbang sebelum disusun ke truk.
“Sampun (sudah)?” tanya seorang pekerja memastikan angka di timbangan tercatat tanpa terlewat.
Pertanyaan pria yang penuh peluh itu dibalas anggukan oleh penanggung jawab pengelolaan aval BUMDes Kemudo, Gelar Putri, pertanda angka sudah dicatat dan siap untuk kloter selanjutnya.
Gelar, begitu ia biasa disapa, selalu siap siaga ketika bongkar muat aval berlangsung setiap dua hari sekali.
Sebagai petugas administrasi, dia harus jeli mencatat keluar masuk limbah aval sebelum dikirim ke Kabupaten Sragen.
“Tujuh personel ini sudah terlibat sejak pengolahan aval ini dibentuk sejak 2021. Mereka setiap hari stand by, jadi ibaratnya udah kayak pekerjaan tetap lah ya,” terang Gelar.
Dia melanjutkan, pemilihan personel ini bukan tanpa alasan sebab. Sebelumnya ketiga wanita paruh baya itu memiliki pengalaman bekerja mengolah limbah di tempat lain.
“Karena sudah pengalaman, kami nggak perlu ngajarin. Akhirnya kita rekrut jadi karyawan BUMDes Kemudo,” lanjutnya.
Baca juga: Oase di Jalan Berliku Lereng Merbabu, Pertashop BUMDes Tumang jadi Tumpuan Roda Ekonomi Warga
Hal ini juga dibenarkan Direktur BUMDes Kemudo Makmur, Isa Ansori ketika ditemui Tribunnews.com pada Jumat (26/6/2026).
Baginya mengelola BUMDes tidak serta merta mencari laba yang besar, namun bagaimana cara membuat lini usaha yang memberi dampak nyata untuk masyarakat Desa Kemudo.
“Kami itu bukan hanya bisnis oriented seperti itu, tapi kami juga harus ada sisi sosialnya. Untuk pemberdayaan masyarakat, makanya kami melibatkan warga untuk bekerja sebagai karyawan BUMDes Kemudo Makmur,” terang Isa.
Lulusan Universitas Ahmad Dahlan itu mengatakan fokus utama pada unit usaha pengolahan limbah ini bertumpu pada kertas dan palet kayu bekas bongkar muat.
Di tangan BUMDes, limbah-limbah ini disortir, diolah, dan didaur ulang.
Palet kayu yang tadinya menumpuk tak bertuan diperbaiki menjadi produk siap pakai atau diolah menjadi turunan lain, sementara kertas disalurkan ke industri daur ulang.
Tanpa disangka, lini bisnis pengelolaan limbah inilah yang menjelma menjadi tulang punggung penyumbang porsi pendapatan terbesar.
Bicara soal angka, pencapaian BUMDes Kemudo Makmur terbilang fantastis untuk ukuran badan usaha tingkat desa.
Pendapatan murni BUMDes sukses menembus angka Rp1 miliar, sebuah nominal yang bahkan melampaui kucuran Dana Desa yang diberikan oleh pemerintah pusat.
“PAD (Pendapatan Asli Desa) Desa Kemudo menurutku yang dari BUMDes cukup bisa dibanggakan. Kita pernah di tahun kemarin itu Rp1,5 M,” terang Isa semringah.
“Jadi desa kami sekarang enggak begitu pusing dengan pemotongan Dana Desa. Kita bisa bilang Desa Kemudo sudah mandiri lewat unit-unit usahanya,” lanjutnya.
Baca juga: Langkah Berani BUMDes Keditan Akhiri Jeratan Lintah Darat di Desa, jadi Pembuka Jalan Desa BRILiaN
Makin Makmur dengan Lima Lini Usaha
Keberhasilan mengelola limbah tidak membuat BUMDes Kemudo Makmur cepat puas.
Keuntungan dari bisnis pengolahan limbah diputar kembali untuk membangun lini usaha baru demi melayani kebutuhan sehari-hari warga dan pekerja pabrik.
Kini, BUMDes Kemudo Makmur telah memiliki lima lini usaha utama yang saling menopang.
Yakni lini utama Pengolahan Limbah Aval Pabrik yang fokus mengolah limbah kertas dari kawasan industri.
Kedua, unit BUMDes Kemudo berupa Perusahaan Palet Kayu yang mengolah perbaikan dan penjualan palet kayu industri.
Ketiga, pihaknya tetap mempedulikan lingkungan, kebersihan, dan sanitasi lingkungan desa yang dikelola unit usaha Pengolahan Sampah Terpadu.
“TPS 3R Kemudo Resik itu bisnis sosial, itu bergerak di bidang pengelolaan sampah rumah tangga. Kalau bisnis sosial, jangan ditanyakan laba atau rugi,” jelas Isa.
Di sektor kebutuhan belanja warga dan karyawan, BUMDes Kemudo mempunyai toserba jenama Kamajaya Mart.
Terakhir, segi pelayanan keuangan, Toserba Kamajaya Mart menyediakan jasa Agen BRILink Kamajaya yang menjadi fasilitas transaksi perbankan andalan pekerja kawasan industri.
“Agen BRILink itu ternyata banyak yang pakai. Apalagi di tanggal gajian, butuh cash sekitar Rp50-100 juta per harinya,” ujarnya.
Bagi Hasil untuk Warga
Isa menjelaskan, tata kelola BUMDes Kemudo juga memilik keunikan lainnya.
Secara kepemilikan dibagi 60 persen untuk pemerintah desa dan 40 persen dipegang 1.667 Kepala Keluarga (KK) di Desa Kemudo.
Oleh karenanya setiap akhir tahun, warga mendapatkan bagi hasil usaha dari pendapatan unit usaha milik BUMDes Kemudo Makmur.
Sistem pembagian ‘dividen’ sudah dilakukan sejak 2016 hingga sekarang.
Awalnya sulit bagi Isa menjelaskan apa itu saham kepada warga, tetapi dia bertindak cepat untuk membuatkan rekening sebanyak 1.589 KK kala itu.
“Pembagian pertama itu masih sedikit banget. Kita baru satu semester, per KK cuma dapat Rp76.000. Itu mau nggak mau segera kita bagikan, biar warga percaya dengan kami,” jelas Isa.
Lima tahun berselang, kini warga Desa Kemudo mendapatkan Rp550.000 per KK pada tahun lalu.
Sebanyak Rp150.000 diwujudkan dalam voucher belanja di Kamajaya Mart dan sisanya Rp400.000 ditransfer langsung ke rekening masing-masing penerima.
Ini juga menjadi strategi untuk memperkuat pondasi ekonomi kerakyatan.
“Akhirnya uangnya muter-muter di situ saja. Ini membuat warga juga ikut merasa memiliki BUMDes Kemudo,” terang Isa.
Raih Gelar Desa BRILiaN
Setelah berhasil memajukan lini usaha BUMDes Kemudo Makmur, Isa kemudian tergoda ketika melihat peluang kompetisi Desa BRILiaN yang dikabarkan mitra BUMDes ID.
Dari situlah, Isa mengikuti seluruh alur kompetisi, termasuk dalam hal digitalisasi aktivitas BUMDes hingga membuat company profile dalam setiap lini usaha BUMDes Kemudo Makmur.
Usaha Isa pun tidak mengkhianati hasil.
BUMDes Kemudo Makmur menyabet Juara 3 Nasional Desa BRILiaN 2021.
Setelah menyandang gelar Desa BRILiaN, Desa Kemudo makin dikenal masyarakat luas.
Tak hanya itu, Desa BRILiaN juga memberi manfaat langsung terhadap BUMDes Kemudo Makmur.
Seusai memenangkan kompetisi tersebut, Isa Ansori mewakili BUMDes Kemudo Makmur dalam pelatihan sertifikat BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) sebagai lembaga independen yang dibentuk pemerintah untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja.
“Dapat pelatihan untuk pendampingan UMKM, jadi ya kembali ke masyarakat lagi,” pungkas Isa.
Baca juga: Agen BRILink Keditan jadi Perpanjangan Tangan BRI hingga Beri Literasi Keuangan di Pelosok Desa
Program BRILiaN Bina Ribuan Desa
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus berkomitmen mendukung pembangunan desa dan pemerataan ekonomi nasional.
Salah satunya dengan program Desa BRILian.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan, melalui program ini desa-desa di seluruh Indonesia berkesempatan memperoleh manfaat strategis berupa peningkatan kapasitas dan kapabilitas manajemen desa.
Selain itu, desa dapat memanfaatkan layanan keuangan perbankan, meningkatkan pemahaman dalam menyusun laporan keuangan, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk kemajuan desa.
"Inisiatif ini sejalan dengan Asta Cita Pemerintah yang menempatkan desa sebagai motor penggerak pemerataan ekonomi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).
Hingga akhir Maret 2026 Program Desa BRILiaN telah diikuti oleh 5.245 desa di seluruh Indonesia dengan sektor unggulan meliputi pariwisata, jasa, industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan peternakan.
(Tribunnews.com/Isti Prasetya)