QRIS Mengubah Cara Sri Maryati Berdagang, Pelanggan Kini Tak Lagi Sibuk Cari Uang Tunai
Sri Juliati July 01, 2026 01:32 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, JOGJA – "Bayar bros Rp5 ribu saja sekarang tinggal pindai barcode."

Begitulah celetuk Sri Maryati, pemilik kios busana pengantin di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

Sri Maryati merasakan langsung manfaat sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam menjalankan usahanya.

Perempuan yang sebentar lagi memasuki usia lanjut itu tak ingin tertinggal mengikuti perkembangan teknologi.

Di atas etalase kiosnya terpajang enam papan QRIS dengan ukuran berbeda. Di sekelilingnya berjajar aneka busana pengantin Jawa hingga modern.

Lembaran kain jarik, beludru, brokat, hingga aksesori pernikahan menggantung rapi, menarik perhatian setiap pengunjung yang melintas di lorong sempit Pasar Beringharjo.

Tak jauh dari etalase, Sri Maryati mengambil salah satu papan QRIS sambil bercerita penuh semangat tentang kemudahan transaksi digital yang kini menjadi andalannya.

Berjualan busana pengantin selama bertahun-tahun membuat usahanya terus berkembang. Kini ia memiliki 11 kios yang menjual berbagai produk, mulai dari blangkon, kain pengantin, lurik, brokat, beludru hingga gaun pengantin dengan harga Rp5.000 sampai Rp5 juta.

Produk-produknya tak hanya dibeli pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dipesan konsumen dari Suriname, Aljazair, Malaysia, hingga Singapura.

Baca juga: Menjaga Identitas Bakpia Jogja di Tengah Gempuran Produk Kekinian, Terus Melek Digital

Rezeki Berhadiah

Sebelum mengenal QRIS, perempuan berusia 57 tahun itu mengandalkan pembayaran tunai dan transfer bank.

Namun setelah menjadi agen BRILink, ia mulai akrab dengan sistem pembayaran digital.

Pelanggan yang sebelumnya memilih transfer atau membawa uang tunai perlahan beralih menggunakan QRIS karena dinilai jauh lebih praktis.

Bahkan, pernah ada pelanggan yang melakukan transaksi hingga Rp17 juta melalui transfer demi menghindari risiko membawa uang tunai dalam jumlah besar. Pengalaman itu semakin meyakinkan Sri Maryati untuk memanfaatkan teknologi digital dalam menjalankan usahanya.

Sejak menggunakan QRIS, ia mengaku aktivitas berdagang menjadi jauh lebih mudah.

"Sekarang hampir pakai QRIS semua. Saya tidak perlu menawarkan, mereka langsung menyodorkan, 'QRIS-nya, Bu'," ujarnya saat ditemui, Tribunnews, Sabtu (13/6/2026).

Melalui QRIS, pembeli cukup memindai kode menggunakan ponsel sehingga transaksi berlangsung lebih cepat.

Pembelian bernilai besar, mulai Rp5 juta hingga Rp10 juta, juga dapat dilakukan tanpa harus membawa uang tunai.

Tak hanya praktis, sistem pembayaran digital juga membuatnya merasa lebih aman.

Ia tak lagi direpotkan menghitung uang tunai ketika kondisi pasar sedang ramai.

"Lebih gampang, lebih mudah, lebih aman," tuturnya.

Sri Maryati pun mengaku tak pernah khawatir menggunakan QRIS karena sistem transaksi digital tersebut dinilainya aman dan dapat diandalkan.

Bagi Sri Maryati, manfaat QRIS tidak hanya dirasakan dirinya, tetapi juga pelanggan.

Pertama, transaksi menjadi jauh lebih cepat karena pembayaran dapat selesai hanya dalam hitungan detik.

Kedua, keamanan lebih terjamin karena risiko kehilangan uang tunai maupun salah menghitung uang bisa diminimalkan.

Ketiga, pelanggan semakin mudah bertransaksi. Selama memiliki aplikasi mobile banking seperti BRImo di telepon genggamnya, mereka tetap bisa berbelanja meski tidak membawa uang tunai.

Keuntungan lain yang ia rasakan adalah kemudahan dalam mengelola arus keuangan usaha.

Sebagai agen BRILink, Sri Maryati juga memperoleh apresiasi dari BRI berdasarkan volume transaksi QRIS yang berhasil dicapai.

Ia bahkan meraih penghargaan Sales Volume QRIS Tertinggi I dalam ajang BRINGHARJO GREAT SALE periode 25 Oktober 2024 hingga 31 Januari 2025.

"Senang sekali dapat apresiasi dan uang dari BRI. Intinya saya tulus ikhlas menjalani pekerjaan, hadiah ini bonusnya. Alhamdulillah," ucapnya sambil tersenyum.

Tantangan Berdigital

Meski QRIS menghadirkan banyak kemudahan, Sri Maryati mengakui proses adaptasi tidak selalu berjalan mulus.

Sebagian pelanggan, terutama yang sudah lanjut usia, masih merasa kesulitan menggunakan pembayaran digital.

Meski begitu, ia yakin lambat laun masyarakat akan semakin terbiasa.

Selain itu, ia juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan pedagang online. Namun kondisi tersebut tidak membuatnya patah semangat.

"Rezeki sudah ada yang ngatur," ujarnya.

Sri Maryati berharap penggunaan QRIS semakin luas sehingga dapat membantu lebih banyak pelaku usaha mikro dan kecil.

Ia juga berencana terus memanfaatkan layanan digital lainnya, termasuk BRImo, untuk mendukung perkembangan usahanya.

Baginya, beradaptasi dengan teknologi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjadi langkah nyata agar usaha tetap mampu bersaing di tengah perubahan zaman.

Kisah Sri Maryati pun menjadi gambaran bahwa digitalisasi dapat dijalankan siapa saja, termasuk pedagang pasar tradisional yang telah puluhan tahun menjalankan usahanya.

Secara terpisah, Founder Creative Space Solo, Joko Purwono, menilai kesadaran pedagang dan pelaku UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital terus meningkat.

Meski demikian, ia menilai masih diperlukan pendampingan yang berkelanjutan dari perbankan maupun pemerintah daerah agar adopsi transaksi digital semakin merata.

"Di shelter, di pasar-pasar memang sudah banyak pakai QRIS, tapi masih ditemukan yang belum bahkan enggan pakai QRIS. Kan ada juga pedagang yang sepuh, sudah lanjut usia dan belum tahu caranya. Jadi kita harap ada pendampingan lanjutan," kata Joko, Sabtu (20/6/2026).

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.