Menjaga Identitas Bakpia Jogja di Tengah Gempuran Produk Kekinian, Terus Melek Digital
Sri Juliati July 01, 2026 01:32 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, JOGJA – Yogyakarta sudah lama dikenal sebagai kota budaya dengan beragam kuliner khas yang menjadi buah tangan wisatawan. Salah satu yang paling melekat tentu saja bakpia.

Namun, seiring berkembangnya industri kuliner, bisnis bakpia kini menghadapi persaingan yang semakin ketat. Tantangannya bukan hanya datang dari sesama produsen lokal, tetapi juga dari bermunculannya berbagai inovasi yang mengubah wajah bakpia tradisional.

Di tengah perubahan tersebut, Joni Purwantoro (52), pemilik Bakpia Fadila di kawasan Pathuk, Ngampilan, Yogyakarta, memilih tetap bertahan dengan menjaga cita rasa dan kualitas yang selama ini menjadi ciri khas produknya.

Beberapa tahun terakhir, pasar dibanjiri beragam varian bakpia modern. Mulai dari bakpia kukus, isian keju, cokelat, hingga kulit yang lebih lembut, semuanya hadir menyasar konsumen baru, terutama kalangan muda yang menyukai variasi rasa.

Joni mengakui, kehadiran produk-produk yang menyerupai bakpia itu sempat menggerus pasar bakpia tradisional.

Di gang-gang, toko oleh-oleh, hingga berbagai sudut kawasan wisata di Kota Pelajar, kini semakin mudah menemukan produk yang menjadi pesaing bakpia khas Yogyakarta.

Meski demikian, Joni tetap berpegang pada prinsip yang ia yakini sejak awal.

"Bakpia khas Yogyakarta punya cita rasa tersendiri, terutama dari tekstur kulitnya yang kering dan isian kacang hijaunya yang lembut. Kalau terlalu banyak modifikasi, nanti identitas aslinya hilang," ujarnya pada Senin (22/6/2026).

Selain tren produk baru, persaingan harga juga menjadi tantangan yang tidak ringan.

Baca juga: Menjaga Gema Klaster Gitar Ngrombo di Tengah Persaingan Zaman

Banyak pelaku usaha menawarkan bakpia dengan harga jauh lebih murah, meski kualitas bahan bakunya belum tentu sama. Alih-alih mengikuti perang harga, Joni memilih mempertahankan standar kualitas produknya.

"Banyak yang menjual bakpia dengan harga sangat rendah, tapi saya yakin kalau kita jaga kualitas, pelanggan akan tetap datang. Kami pakai bahan baku terbaik, tanpa mengurangi takaran isian atau mengganti bahan dengan yang lebih murah," katanya.

Kemauan Berinovasi

Menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan. Demi mempertahankan pelanggan, Joni tetap melakukan berbagai penyesuaian, terutama dari sisi pelayanan.

Ia membuka layanan pemesanan secara online serta pengiriman langsung kepada pelanggan. Media sosial juga dimanfaatkannya untuk memperkenalkan proses pembuatan bakpia sehingga konsumen bisa melihat langsung bagaimana produk tersebut dibuat.

Menurutnya, mempertahankan eksistensi bakpia tradisional juga membutuhkan peran banyak pihak. Karena itu, ia rutin berdiskusi dengan sesama pelaku usaha bakpia untuk saling bertukar pengalaman dan mencari solusi menghadapi perubahan pasar.

ADONAN BAKPIA - Joni Purwantoro pemilik Bakpia Fadila tengah mengolah adonan bakpia di rumahnya di Patuk,  Ngampilan, Yogyakarta, Kamis (13/2/2025).
ADONAN BAKPIA - Joni Purwantoro pemilik Bakpia Fadila tengah mengolah adonan bakpia di rumahnya di Patuk, Ngampilan, Yogyakarta. (Tribunnews.com/Chrysnha Pradipha)

"Kami sering berbicara dengan sesama produsen, saling bertukar ide agar bakpia asli tetap bertahan. Kalau kita bersaing sehat dan tetap menjaga standar, maka bakpia tradisional tidak akan tergeser oleh tren yang cepat berubah," jelasnya.

Edukasi kepada pelanggan juga menjadi bagian dari strategi yang terus dijalankan. Pengunjung yang datang kerap diajak melihat langsung proses produksi agar mengetahui bagaimana bakpia dibuat secara tradisional dengan bahan-bahan berkualitas.

"Pelanggan sekarang lebih kritis. Kalau mereka tahu bahwa bakpia ini dibuat dengan cara yang benar dan bahan yang baik, mereka pasti akan lebih menghargai dan tetap setia," tambahnya.

Di tengah persaingan yang semakin ramai, Joni tetap optimistis bakpia tradisional akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat.

Ia percaya, selama kualitas, pelayanan, dan kepercayaan pelanggan terus dijaga, produk asli Yogyakarta akan tetap mampu bersaing.

"Yang penting adalah menjaga kepercayaan pelanggan. Kalau kita terus berkomitmen pada kualitas dan pelayanan, mereka akan tetap memilih produk kita meskipun banyak pilihan lain di pasaran," tutupnya.

Strategi Digital

Joni sebenarnya sudah mengenal pemasaran digital jauh sebelum media sosial berkembang seperti sekarang.

Sejak awal 2000-an, ia memanfaatkan Facebook sebagai sarana promosi. Saat itu, smartphone belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

"Saya kumpulkan teman-teman dari SD, SMP, SMA, dan teman kerja di Facebook. Setiap kali saya kerja, saya bawa bakpia. Lama-lama, teman-teman mulai tahu dan menyebarkan informasi ke orang lain," kenangnya.

Kini, berbagai platform digital seperti Instagram, TikTok, hingga WhatsApp menjadi media utama untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas.

Sistem penjualannya pun dibuat lebih fleksibel melalui layanan pre-order dan pengiriman langsung kepada pembeli.

Pola produksi juga disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pada akhir pekan maupun musim libur, jumlah produksi ditingkatkan karena permintaan biasanya melonjak.

"Biasanya produksi satu resep 10 kilogram bisa jadi 50 dus. Kalau libur panjang bisa dua kali lipat. Jadi kami menyesuaikan permintaan," katanya.

Meningkatnya permintaan ternyata menghadirkan tantangan baru. Produksi yang masih mengandalkan tenaga manual mulai terasa kurang efisien.

"Dulu adonan diuleni pakai tangan, oven juga kecil, jadi nggak bisa produksi dalam jumlah banyak," kenangnya.

Di saat yang sama, persaingan usaha semakin ketat dengan munculnya berbagai inovasi, mulai dari bakpia isi cokelat, keju, hingga bakpia kukus yang mulai digemari konsumen.

Melihat peluang yang masih terbuka lebar, Joni menyadari kapasitas produksinya harus ditingkatkan. Sayangnya, keterbatasan modal menjadi penghambat.

Kesempatan itu datang ketika ia mengenal program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI yang menyediakan pembiayaan bagi pelaku UMKM.

Melalui pinjaman sebesar Rp10 juta, Joni membeli mesin penggiling adonan beserta sejumlah peralatan produksi yang lebih modern.

Selain meningkatkan kapasitas produksi, usahanya juga semakin terdigitalisasi.

Ia mulai menyediakan pembayaran non-tunai menggunakan QRIS, sejalan dengan upaya digitalisasi UMKM yang didorong BRI.

Menurut Joni, penggunaan QRIS membuat transaksi menjadi jauh lebih praktis, baik bagi penjual maupun pembeli.

Bahkan, tidak sedikit pelanggan yang justru langsung menanyakan kode QRIS saat berbelanja di tokonya.

"QRIS ini banyak yang cari, sekarang hampir semua pembayaran pakai QRIS kalau langsung beli di sini. Kecuali yang pesan antar ya, lewat aplikasi atau transfer biasanya," ujarnya.

Peran Pemerintah

Kepala Bidang Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Hana Fais Prabowo mengatakan UMKM kini menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat di Yogyakarta.

Menurutnya, Pemerintah DIY terus mendorong pelaku usaha berkembang melalui ekosistem SiBakul Jogja.

Program tersebut tidak hanya berisi pendataan pelaku usaha, tetapi juga pendampingan, pelatihan, hingga perluasan akses pasar.

Pelaku UMKM juga difasilitasi dalam pengurusan legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan izin PIRT.

"Selain itu, pemerintah menghadirkan Markethub SiBakul Jogja sebagai ruang pemasaran digital untuk membantu produk lokal menjangkau pasar lebih luas," jelasnya ketika dihubungi pada Kamis (7/5/2026).

Pemerintah DIY juga memberikan subsidi ongkos kirim untuk meningkatkan daya saing produk UMKM.

Hingga Triwulan I 2026, tercatat lebih dari 12 ribu produk telah masuk dalam ekosistem pemasaran digital tersebut.

Secara keseluruhan, SiBakul Jogja telah merangkul sekitar 347.800 pelaku usaha, terdiri dari 329.543 usaha mikro, 16.126 usaha kecil, dan 2.131 usaha menengah.

Menurut Fais, pengembangan UMKM membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perbankan, akademisi, marketplace, hingga media.

“Membangun UMKM tidak bisa sendiri. Kolaborasi penting untuk membuka akses pembiayaan dan memperkuat daya saing,” papar Fais menambahkan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.