BMKG Peringatkan Dampak El Nino 2026, Nusa Tenggara dan 6 Wilayah Ini Potensi Paling Terdampak
Cristin Adal July 01, 2026 04:47 AM

 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan hasil pemantaun El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen, kondisi ini menyebabkan penurunan curah hujan sejumlah wilayah di Indonesia terutama di selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, Senin (29/6/2026) dilansir dari laman resmi BMKG mengimbau pemerintah pusat, daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagan menghadap potensi dampak fenomena El Nino yang diprakirakan mencapai kategori kuat pada tahun 2026.

Fenomena El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. 

Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.

Baca juga: BMKG Sebut Sebagian Wilayah Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau dan Periode Peralihan Musim

El Nino diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Namun demikian, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut.

“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan BMKG, wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling signifikan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis.

Selain berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air, Faisal menyebut El Nino juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.

Baca juga: Kenapa Udara Malam Sejumlah Wilayah NTT Terasa Dingin saat Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

Di sektor pangan dan pertanian, ia mengingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air.

Kesiapsiagaan dan langkah antisipatif perlu dilakukan sejak dini melalui penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.

“Kesiapsiagaan harus dilakukan secara lintas sektor. Risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara, hingga kesehatan masyarakat perlu diantisipasi sejak dini melalui koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Menurutnya, Indonesia memiliki karakteristik iklim yang beragam karena terbagi ke dalam 699 Zona Musim (ZOM), sehingga strategi mitigasi dan adaptasi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

BMKG/Tribun Flores

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.