Jalan Karangsembung–Tambelang Cirebon Ambles 50 Senti, Warga: Di Bawahnya Ada Lumpur Hidup
Ravianto July 01, 2026 07:43 AM

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Selama tiga tahun terakhir, warga yang melintasi ruas Jalan Karangsembung–Tambelang, Kabupaten Cirebon, harus berjibaku dengan kondisi jalan yang rusak parah.

Badan jalan yang amblas hingga miring sekitar 50 sentimeter membuat pengendara, terutama pengguna sepeda motor, waswas setiap kali melintas di jalur poros yang menghubungkan sejumlah kecamatan tersebut.

Dari pantauan di lokasi, kerusakan terlihat di banyak titik sepanjang ruas jalan.

Aspal terbelah, retak memanjang dan di beberapa bagian bahkan telah terkelupas hingga menyisakan hamparan batu kerikil.

Kondisi itu diperparah dengan kemiringan badan jalan yang cukup ekstrem sehingga membahayakan pengguna jalan.

Sejumlah pengendara tampak memperlambat laju kendaraannya saat melewati area yang amblas.

Bahkan, beberapa warga memilih berjalan kaki atau menuntun sepeda motornya untuk menghindari risiko terjatuh.

Wahidin (56), warga Karangtengah, mengatakan kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung cukup lama dan belum mendapat penanganan yang mampu menyelesaikan persoalan secara permanen.

“Lama, sudah lama. Ya, tiga tahunlah,” ujar Wahidin saat ditemui di lokasi, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, salah satu penyebab kerusakan jalan diduga berasal dari tingginya intensitas kendaraan bermuatan berat, terutama truk pengangkut tebu yang setiap hari melintasi jalur tersebut.

“Keluhannya mobil tebu, mobil muatan tebu yang berat-berat,” ucapnya.

Tak hanya berlubang dan retak, badan jalan juga mengalami kemiringan yang cukup tajam.

Wahidin memperkirakan tingkat kemiringan mencapai sekitar 50 sentimeter.

“Miring, miring. Ada 50 senti,” ucapnya.

Ia menjelaskan, upaya perbaikan sebenarnya pernah dilakukan.

Namun kondisi jalan kembali amblas tidak lama setelah diperbaiki.

Menurutnya, kontur tanah yang labil menjadi salah satu faktor utama penyebab kerusakan terus berulang.

“Diperbaiki juga turun lagi, turun lagi. Jadi kayak lumpur di bawahnya,” jelas dia.

Saat ditanya mengenai kondisi tanah di bawah badan jalan, Wahidin menyebut, adanya tanah berlumpur yang membuat struktur jalan tidak stabil.

“Kontur tanah. Tanahnya ada lumpur hidup,” katanya.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang lebih permanen agar kerusakan tidak terus terulang setiap tahun.

“Sering dibangun mah ini, rusak terus. Yang pengin paten mah, ya dipakai beton,” ujarnya.

Ruas Jalan Karangsembung–Tambelang sendiri merupakan akses poros yang sangat vital bagi masyarakat.

Jalan sepanjang sekitar tiga kilometer tersebut menghubungkan sejumlah wilayah, mulai dari Kecamatan Karangsembung, Pangenan, Gebang hingga Kecamatan Babakan.

Selain menjadi jalur mobilitas warga, jalan ini juga berperan penting dalam menunjang aktivitas perekonomian, sektor pertanian, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan masyarakat.

Di tengah kondisi jalan yang semakin memprihatinkan, warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan menyeluruh sebelum kerusakan semakin parah dan memicu kecelakaan lalu lintas.

Bagi masyarakat setempat, jalan poros ini bukan sekadar akses penghubung antarkecamatan. 

Jalan tersebut merupakan urat nadi aktivitas sehari-hari yang menopang kehidupan ribuan warga.

Namun selama tiga tahun terakhir, urat nadi itu terus mengalami kerusakan tanpa perbaikan yang benar-benar mampu mengakhiri persoalan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.