Tanjung Selor, Kaltara (ANTARA) - Direktur Rehabilitasi Mangrove, Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Nikolas Nugroho Surjobasuindro mengatakan ekosistem mangrove di Indonesia menjadi atensi pemerintah dan dunia.
“Kawasan ekosistem mangrove ini menjadi penting dan jadi atensi Pemerintah Indonesia dan dunia khususnya pada saat ini,” ujarnya dalam Kick Off Meeting dan Sosialisasi Pelaksanaan Forest Programme (FP) VI di Tanjung Selor, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Selasa.
Menurutnya, ekosistem mangrove menjadi atensi karena adanya ancaman perubahan iklim yang salah satu dampaknya adalah naiknya muka air laut. Sebab, kata dia, dengan bertambahnya muka air laut, banyak ancaman yang terjadi pada Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
“Akibat naiknya muka air laut bisa menenggelamkan beberapa pulau kecil atau berkurangnya luas daratan. Oleh karena itu, eksistensi mangrove menjadi penting saat ini di Indonesia,” katanya.
Nikolas mengatakan, Kementerian Pertahanan telah menyampaikan kepada Kemenhut pada beberapa rapat terdahulu di Jakarta bahwa mangrove mempunyai kepentingan yang cukup esensial di dalam menjaga kedaulatan batas negara.
“Jadi ini menjadi penting pada saat adanya kenaikan muka air laut, adanya gelombang dan abrasi itu menjadi bahaya yang sangat signifikan pada pulau-pulau terluar di Indonesia yang selama ini menjadi batas negara,” tuturnya.
Kalau sampai terjadi pengurangan daratan sebagai batas negara, lanjutnya, akan berdampak tidak hanya bagi kedaulatan bangsa, tetapi juga pemanfaatan zona ekonomi eksklusif yang batasnya biasanya diukur dari batas pantai terluar.
“Karena inilah posisi mangrove menjadi penting tidak hanya di Provinsi Kaltara, tetapi juga di seluruh wilayah Indonesia, dan yang perlu kita sadari adalah mangrove di Indonesia itu adalah mangrove terluas di dunia. Luasnya 3,4 juta hektare atau 23 persen dari keseluruhan mangrove dunia,” ungkap Nikolas.
Dengan luasan hutan mangrove itulah, kata dia, yang menjadi atensi besar bagi negara-negara lain kepada Indonesia di dalam mendukung pengelolaan ekosistem mangrove di Indonesia khususnya menjadikan Indonesia tempat belajar rehabilitasi dan pengelolaan mangrove.
“Banyak negara lain yang sudah menjadikan Indonesia sebagai kunjungan untuk belajar bagaimana mangrove bisa dikelola berdasarkan kearifan lokal,” katanya.
Indonesia, lanjutnya, mempunyai beratus-ratus kearifan lokal bagaimana masyarakat secara tradisional mengelola mangrove dan berbeda-beda di tiap lokasi. Bahkan, kata dia, pengelolaan mangrove antara satu desa dan desa yang lainnya itu bisa berbeda di dalam satu kabupaten atau dengan satu wilayah administrasi.
“Nah inilah yang menjadikan kekayaan kita di Indonesia yang perlu kita jaga dan perlu kita gaungkan ke dunia internasional bahwa Indonesia bisa menjaga kearifan lokal tetapi juga punya komitmen yang jelas dalam menjaga eksistensi mangrove di negara kita,” ujarnya.





